Update lagiii, jgn lupa untuk tinggalkan jejak:*
--------------------------------------------------------------
"Fanny dimana?"
Ketiga gadis kompak menoleh ke sumber suara padahal mereka tengah menyantap makanan yang mereka pesan karena ini adalah waktunya istirahat.
Ketiga gadis itu juga kompak saling tatap seolah menyuruh agar salah satu dari mereka menjawab pertanyaan dari lelaki yang tengah berdiri dihadapan mereka.
"A-anu kak." Jessy menepuk bibirnya pelan, merasa malu karena telah menjawab dengan gagap.
Naufal tertawa melihat tingkah teman kekasihnya. "Santai aja sama gue, jadi Fanny ada dimana? Kok nggak ikut kalian? Emang dia punya temen selain kalian?"
"Satu-satu dong kak kalau nanya," Sandra memamerkan deretan giginya karena takut menyinggung kakak tingkatnya itu sebab bertanya tanpa jeda.
Naufal terkekeh pelan. "Oke-oke, Fanny ada dimana?"
"Dikelas kak, katanya masih kenyang nggak mau ke kantin."
Naufal mengangguk kemudian berjalan menjauh dari meja ketiga teman kekasihnya itu, tidak lupa juga dengan ucapan terimakasih sebelum ia beranjak pergi.
Kaki panjang Naufal berjalan menuju kelas Fanny dengan membawakan beberapa cemilan yang sempat ia beli dikantin sebelum menghampiri kekasihnya.
Sesampainya di kelas XI IPA 4, lelaki itu tidak membuang-buang waktu. Dihampirinya ke meja kekasihnya lalu duduk di kursi sebelah gadis itu.
Semula Fanny yang tengah asik dengan dunia pernovelannya harus terusik dengan keberadaan seseorang yang entah siapa ia juga tidak mengenalinya, karena Fanny hanya melihat dari ekor matanya.
"Walaupun dalam keadaan perut masih kenyang, di jam-jam istirahat juga tetep harus diisi."
Fanny terkejut dengan keberadaan Naufal yang sudah duduk manis disampingnya, gadis itu menoleh ke sekeliling kelas dan betapa malunya Fanny ketika yang berada di kelas bukan hanya dirinya melainkan masih ada beberapa teman perempuannya.
"Kak Naufal ngapain di sini?" Cicit Fanny.
Naufal membelalakkan matanya. "Gue nakutin lo? Sorry sorry gue gatau kalau muka gue seserem itu harusnya gue tadi ngaca dulu ya sebelum ketemu sama lo biar gue bisa atur ekspresi."
Ucapan Naufal membuat tawa Fanny lepas begitu saja, Naufal sempat terpukau dengan tawa gadisnya yang terdengar sangat merdu ditelinganya di detik berikutnya Naufal tersenyum.
"Ngga jadi takut kak," ucap Fanny di sela-sela tawanya.
"Lo aneh."
Dahi Fanny berkerut. "Aneh? Emang gue aneh kenapa kak?"
"Di saat orang lain ketawa tiap liat muka gue dan buat gue juga ikut-ikutan ketawa, tapi anehnya lo justru ketakutan. Dan di saat gue liat lo yang ketawa, gue justru ngga ikutan ketawa, tapi malah jatuh cinta."
Pipi Fanny terasa memanas mendengar ucapan manis dari Naufal buru-buru ia memalingkan wajahnya agar Naufal tidak melihat, tetapi semua terlambat, Naufal sudah lebih dulu tahu.
"Nih makan dulu keburu bel masuk." Ucap Naufal sembari menyodorkan roti gandum, setidaknya dengan roti itu perut kekasihnya tidak akan kosong dan diterima dengan baik oleh Fanny.
Satu alis Naufal terangkat, melihat Fanny tidak kunjung memakan pemberiannya. Naufal dibuat salah fokus dengan senyum Fanny yang terlihat terpaksa dan kemudian menyadari satu hal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanny
Ficção AdolescenteKisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan. Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung. 10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
