Haii, welcome back✨✨
Siap menuju endingg🙆🏻♀️
Happy Reading🫶🏻
~~
Sudah hampir menginjak satu tahun hubungan Fanny dengan Fino, keduanya seperti sangat gigih mempertahankan pondasi hubungan yang telah mereka bangun.
Segala badai mereka hadapi, syukurnya hanya badai bukanlah angin topan. Mereka sangat baik dalam meredamkan masalah yang sedang mereka hadapi, seperti beberapa saat yang lalu.
Mereka saling meminta untuk dipahami dan dimengerti, soal waktu.
Di dalam suatu hubungan memang tidak selalu soal kebahagiaan bukan? Ada kalanya hubungan terasa hambar ketika sedang dilanda masalah.
Karena menyatukan dua hati dan dua pikiran yang berbeda menjadi satu bukanlah hal yang mudah, sedangkan hati dengan pikiran sendiripun sering bertolak belakang.
"Maaf, aku marah-marah terus. Soalnya kamu ngga pernah ada waktu buat aku," Ucap Fanny dengan nada pelan dan dengan kepala menunduk penuh penyesalan.
Saat ini mereka sedang berada di cafe yang berjarak tidak jauh dari rumah Fino, mereka memutuskan untuk bertemu ditempat padahal Fino memaksa menjemput gadis itu tetapi gadis itu menolak.
"Aku ngerti kamu marah, kamu kecewa sama aku karena aku sibuk ngurus MPLS. Maaf udah buat kamu nunggu tiap pulang sekolah karena aku ngga on time ngabarin kamu." Ucap Fino dengan tersenyum hangat.
"Jangan nunduk, kamu ngga sepenuhnya salah disini. Ini hubungan kita, ada aku dan kamu didalamnya."
Fanny memberanikan diri untuk menatap kekasihnya itu, tidak ada raut wajah kecewa disana, padahal ia pikir—sudah membuat kecewa karena tidak memahami situasi dan kondisi.
Fino memang sedang disibukkan dengan kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) mengingat ia adalah salah satu anggota OSIS, yang sudah bisa dipastikan sangat berperan penting untuk acara tersebut.
Fino tersenyum manis sembari memegang lembut tangan gadis dihadapannya itu, ia bisa merasakan bahwa otot-otot Fanny yang awalnya tegang kini sudah melemas.
"Apapun yang terjadi diantara kita berdua, komunikasi itu kunci utama. Aku ngga masalah kamu cerewet, protes, karena aku ngga ngabarin kamu, aku sama sekali ngga keganggu soal itu. Aku lebih suka kamu yang sekarang dari pada yang awal-awal dulu aku kenal,"
"Maaf ya, kamu harus jalin hubungan sama aku yang anggota OSIS. Tapi, kepercayaan kamu yang aku rusak pasti aku perbaiki dan ngga akan aku ulangi lagi."
Fanny mengangguk paham dan diikuti dengan senyuman manis.
Memang bukan pertama kalinya ia memiliki hubungan dengan salah satu anggota OSIS, tetapi karena Fino selalu melibatkannya dalam hal apapun, itu membuatnya seolah bergantung pada lelaki itu. Dan Fino—tidak membiarkan Fanny mengeksplor segala sesuatu sendiri.
Berulang kali kemanapun Fanny akan pergi, lelaki itu sebenarnya selalu menawarkan diri untuk mengantar tetapi selalu ditolak dengan halus.
Alasannya karena merasa kasihan kalau harus mengantar jemput sedangkan anggota OSIS selalu datang lebih pagi namun pulang paling akhir, Fanny tidak mungkin setega itu dengan kekasihnya.
"Ada yang mau kamu ceritain ngga?" Tanya Fino pada kekasihnya itu, tidak pernah terlupakan dengan senyuman manisnya.
Fanny nampak sedang berpikir, bola matanya mengarah ke atas seolah-olah tengah mengingat sesuatu.
"Kalau aku cerita soal cowok, kamu cemburu ngga?" Ucap Fanny dengan berhati-hati, was-was, takut jika kekasihnya akan marah.
Fino tertawa pelan, "cemburu itu wajar, tapi konteksnya apa dulu ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanny
Teen FictionKisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan. Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung. 10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
