"Aku tunggu di depan rumah aja ya, hati-hati ke sininya."
bip
Fanny memutuskan panggilan dari kekasihnya, dengan segera ia pun mempersiapkan diri untuk pergi bersama Fino. Ini adalah pertama kalinya gadis itu akan bermain dengan seorang laki-laki, apalagi statusnya sudah menjadi kekasih.
Ada sedikit perasaan takut dengan kedua orangtuanya jika ia ketahuan akan jalan bersama lelaki, sudah pasti bisa ditebak jika Fanny akan mendapatkan ceramah dari kedua orang tuanya.
Karena sebenarnya gadis itu dilarang 'berpacaran' dulu saat masih sekolah, kedua orang tuanya takut jika mengganggu sekolahnya.
Tetapi bukan Fanny namanya jika tidak memiliki 1001 cara untuk membohongi orangtuanya. Yaa, Fanny termasuk introvert.
"Bu, Fanny mau kerja kelompok dulu ya, sama Sandra temen satu meja Fanny." Pamit Fanny pada Felcia yang sedang memasak untuk sarapan.
"Ngga sarapan dulu? Terus Sandra nya mana?"
"Sandra nunggu Fanny didepan, nanti Fanny jajan aja deh Bu keburu siang. Assalamu'alaikum," Fanny mencium punggung tangan Felcia lalu berlari kecil ke luar rumah takut jika Fino sudah menunggu.
"Wa'alaikumussalam,"
Setibanya Fanny didepan rumah, tidak lama kemudian Fino datang menggunakan motornya. Tidak mewah, tapi masih layak untuk digunakan. Lagipula Fanny tidak memandang harta.
Keduanya saling tersenyum.
"Cantik banget hari ini." Puji Fino yang membuat pipi Fanny memerah seperti kepiting rebus dan salah tingkah.
"Ayo naik." Lanjut lelaki itu sembari menurunkan footstep membuat jantung Fanny kian tidak beraturan ritmenya.
Setelah menggunakan helm yang Fanny bawa sendiri, Fino pun melajukan motornya ke rumah Sandra karena mereka janjian disana.
Dalam waktu 5 menit saja mereka sudah sampai di kediaman Sandra dan mereka sudah melihat keberadaan Sandra bersama Vicky—teman Fino.
Tanpa berlama-lama mereka melajukan motor mereka menuju tempat destinasi wisata yang mereka rencanakan h-1, kemarin.
"Kita pencar aja ya? Gapapa dong," ucap Fino menginstrupsi Vicky membuat temannya itu berdecak pelan.
"Gini nih ternyata ujung-ujungnya."
Fino tersenyum tanpa dosa sedangkan Fanny hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, karena merasa bersalah telah membebani teman mereka. Tetapi hanya ini satu-satunya cara mereka bisa ngedate dengan dalih kerja kelompok.
"Udahlah Ky, gapapa, ayok kita pergi berdua. Nanti kita saling chat aja ya balik di parkiran jam berapa," ucap Sandra lalu mengajak Vicky pergi menjauh dari dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu, Sandra tidak perlu beradaptasi dengan Vicky karena mereka sudah saling kenal.
Fino menatap Fanny dengan tersenyum, senyum yang paling tulus. Sedangkan gadis itu tampak malu-malu ketika ditatap kekasihnya.
Fino mengisyaratkan Fanny untuk menggenggam tangannya, lalu disambut baik oleh Fanny. Ada rasa aman dan nyaman ketika kedua tangan mereka bertaut, genggaman tangan yang tidak terlalu kuat namun tidak juga mudah terlepas.
Fanny begitu menikmati momen saat ini, sesekali mereka saling pandang dan saling melempar senyuman seolah-olah mereka saling memberitau jika hari ini adalah hari yang sangat mereka nanti-nantikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanny
Teen FictionKisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan. Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung. 10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
