Rumah itu bukan rumah biasa.
Tersimpan banyak kisah dari para penghuninya.
Disclaimer : semuanya hanya fiksi yang tidak ada hubungannya dengan realita sama sekali.
Started : 10 Oktober 2020
End : 14 Januari 2021
Aji tersentak mendengar suara yang muncul di belakangnya. Ia berbalik mendapati Prima dengan piyama membawa botol minum kosong.
"Dari rumah Babeh," jawab Aji.
"Oh ya? Tadi gue lihat lo lewat depan rumah boncengin anak kecil." Prima mengangkat sebelah alisnya.
"Aaah iya. Itu anak kecil deket rumahnya Babeh. Tadi dia mau minggat dari rumah pengin nginep rumah Babeh.Ya udah gue ajak ke minimarket, beliin es krim, ajak ngomong, dan untungnya dia nggak jadi kabur."
Mata Prima melebar. "Anak sekecil itu mau minggat dari rumah? Kenapa?"
"Nggak mau disunat," jawab Aji.
Prima melongo sejenak mendengarnya kemudian tertawa. Ternyata oh ternyata, masih ada bocah seperti itu di dunia ini. Konyol sekali.
"Ya udah kalau gitu. Duluan ya, good night!" Prima menepuk bahu Aji dan lanjut berjalan ke dapur.
Mendadak Aji kepikiran tentang apa yang dilakukan Prima padanya beberapa jam yang lalu. Mengusap bahu dan tersenyum penuh arti. Itu membuatnya bertanya-tanya apa yang membuat gadis itu melakukannya.
Aji tidak akan tahu jawabannya jika tidak menanyakannya langsung.
"Pim, ngantuk belum?" tanya Aji berjalan ke dapur.
"Belum, kenapa?" jawab dan tanya Prima.
"Bikin mie yok, makan di atas."
"Di atas?"
"Tempat jemuran."
Prima mengerjapkanmata sambil berpikir sejenak. "Mmm bolehlah. Lo yang bikin mie ya, gue matiin laptop dulu."
"Oke. Lo mau mie apa?"
"Mie goreng."
"Siap."
Meski agak gengsi, Aji perlu memastikan kan?
**
Aji dan Prima jalan bersisian menuju ke atap. Aji membawa nampan dengan dua piring mie goreng sedangkan Prima di sebelahnya membawa dua botol minum berisi air dingin. Persiapan biar nggak perlu turun lagi kalau mendadak tersedak.
"Lo lagi nugas?" tanya Aji.
Prima menggeleng. "Cuma nonton drama. Haris ngasih gue rekomendasi drama, jadi gue pengin nonton."
"Drama. Tumbenan?"
"Gue lagi perlu pengalihan, Ji. Gue agak banyak pikiran akhir-akhir ini."
Keduanya duduk di tikar yang sudah digelar. Tikar itu selalu ada di sana karena Aji sering datang mengerjakan tugas di atap, terutama jika tugas mixtape. Ruang terbuka dan angin malam adalah perpaduan yang tepat untuk mendatangkan inspirasi.
"Lo lagi mikirin apa sih? Sejak gue masuk ke sini, kayaknya nggak pernah lihat lo kepikiran."
"Gue nggak bisa cerita lengkap. Intinya salah satu dari itu semua ada hubungannya sama kuliah gue. Baju tugas gue terbang pas dijemur, nggak tau dah dimana." Prima menghela napas. "Itu gue ngerjainnya sampai nggak tidur anjir. Mau nangis gue."
Aji tertawa dengan mulut penuh makanan, kalau jadi Prima, bisa dipastikan dia juga bakal kepikiran banget. Membuat baju dan membuat lagu itu memiliki kesamaan, sama-sama butuh effort lebih dan memakan waktu yang tidak sebentar. Kecuali jika dilakukan oleh orang yang sudah pro di bidang itu.
Dua remaja yang tahun ini akan resmi menjadi orang dewasa itu menikmati makanan masing-masing sambil mengobrol ringan. Tentang cita-cita masa depan dan rencana untuk mencapai. Aji sudah berencana membuka studio musik ketika ilmunya sudah cukup. Sedangkan Prima berencana mengambil pendidikan master setelah lulus kuliah.
Mereka mengobrol ringan sampai mie yang ada di piring mereka lenyap pindah ke perut.
"Ji, sekarang gue tau kenapa lo seneng ngerjain tugas di sini." Prima memecahkan keheningan yang sempat mengiringi.
"Anginnya enak kan," balas Aji.
Aji mendongak menatap langit yang hari ini sedang sepi. Tidak ada bintang yang menghias, hanya ada awan.
"Pim," panggil Aji membuat gadis berambut sebahu itu menoleh. "Tadi pas Mas Bayu bilang dia pacaran sama Mbak Nina, kenapa lo ngelus gue?"
Prima menghela napas panjang mengalihkan pandangan ke langit. "Kenapa lo tanya? Lo kan udah tau."
"Gue cuma mau mastiin."
"Oh. Iya gue tau lo suka sama Mbak Nina. Atau mungkin bukan suka, tapi sayang."
Aji mengangguk membenarkan kemudian menunduk. Menghela napas berat.
"Gue nggak tau sejak kapan gue ngerasain ini. Tapi rasanya sakit banget waktu denger Mas Bayu bilang kalau dia sama Mbak Nina pacaran udah dua tahun. Padahal sebelumnya gue udah nyangka."
"Wah lo peka juga ya. Yang lain aja nggak ada yang peka loh."
"Awalnya gue juga nggak tau, tapi pas ke festival UPH waktu itu gue ketemu sama mereka. Nggak sengaja gue lihat Mas Bayu nyium Mbak Nina."
Prima tersentak. Perlahan ia menoleh pada pemuda di sampingnya. Ekspresi yang ditunjukkan adalah kesedihan, matanya berkaca-kaca menatap ke depan.
Aji memegangi dadanya. "Di sini sakit banget, kayak ada yang nusuk dari dalem," ucap Aji dengan suara gemetar. Yang tak lama kemudian disusul buliran air mata yang mengalir ke pipi bulatnya.
Prima memandangnya dengan perasaan mencelos.
Bukan hanya perasaan Aji yang sedang hancur sekarang, tapi perasaan Prima juga.
"Rasanya sakit, tapi gue nggak tau harus ngapain," kata Aji lagi sambil menangis.
"Ji." Prima mengusap lengan pemuda itu. "Gue ngerti banget perasaan lo. Waktu lagi suka sama orang dan ternyata orang itu keliatan lebih suka sama temen lo sendiri. Cemburu tapi nggak bisa ngomong. Mau marah tapi seakan nggak punya alasan yang logis. Mau ngaku tapi takut bakal ngerusak semuanya. Dilema... Bingung... Nahan sakitnya sendirian tapi nggak tau cara ngobatinnya."
"Gue harus gimana, Pim? Gue nggak mau ngerebut Mbak Nina dari Mas Bayu, tapi hati gue sakit ngelihat mereka berdua bareng."
Helaan napas Prima terdengar panjang. Ia menarik Aji, membiarkan pemuda itu bersandar pada bahunya, menangis sepuasnya hingga membuat baju Prima basah tapi terasa hangat.
"Nggak pa-pa Ji, nangis aja sampai lega. Gue di sini. Gue pinjemin pundak gue sampai lo capek nangis."
Prima menepuk punggung Aji dengan begitu lembut. Aji mendekap Prima erat sambil terus menangis.
Tanpa sadar gadis itu juga menangis dalam diam atas rasa sakit yang sama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Helloooo, apakah ada yang masih nyimpen cerita ini di library?