Butuh waktu berjam jam sampai kalian tiba di tujuan.
Sebenarnya tidak juga, kalian tidak bisa berlari lebih jauh lagi menuju Ragako. Dan turun di tempat yang tidak terlalu jauh dari Gerbang Rose. Tapi cukup untuk kalian tidak ternotis oleh siapapun.
"Akhirnya.. Hah.. Sampai.." Marco yang kelelahan langsung tersungkur ke tanah.
Kau juga.
Tapi satu anak lagi tidak, dan masih Bad-Mood ntah karena apa.
"Kita harus cepat per-"
"Perihal jarak yang barusan kita tempuh, energi serta stamina berkurang. Dan jika di paksakan, akan menjadi Fatal. Jadi BIARKAN KAMI BERISTIRAHAT!" balasmu cepat.
"Ha?! Kau sudah beristirahat tadi! Dua kali!!"
"Apa yang dua kali?! Pas bangun kau sudah mengajak pergi sebelum seluruh jiwa dan energiku terkumpul! Ga bisa ngitung, hah?!"
Roma tidak bisa menerima ocehanmu, dan mengehentakan kakinya, berjalan ke arahmu, dan menarik leher seragammu. "Dengar, nona, bukankah kau yang menginginkan ini? Bukankah kau juga yang bertekad untuk menyelamatkannya? Apa kau pikir aku akan membiarkan semua pengorbananmu sia sia?!" setelah itu ia melepasmu. Dan kau terjatuh dengan pelan. "Hanya ada dua opsi; patahkan tekadmu atau kemalasanmu."
Dan dia meninggalkanmu pergi.
"Roma!" Marco memanggilnya, tapi ia tidak pedulikan. Kini mata coklat itu kembali menatapmu. "(Y/n)? Kalau kau lelah aku-,"
Matamu bersinar terang. "Iya! Gendong aku, cepat! Dan buktikan ke Kepala Kusut itu kalau kedua Opsinya itu salah!"
Marco tertawa kecil. "Kau memang tidak ada malunya ya?"
"Shh, lebih baik tidak ada malu daripada tidak ada nyawa."
Dengan perlahan kau berdiri, dan Marco menunjukkan punggungnya ke hadapanmu, sambil sedikit merunduk.
"Uhh.." lalu kau melihat ke Peralatanmu, yang akan menganggu saat kau berada di Punggungnya. "Marco, lupakan. Kita tidak bisa, karena Peralatan ini akan menganggu."
"Ohh.." balasnya. Lalu dia berbalik dan mengulurkan kedua lengannya.
"...nggak."
"Tapi (Y/n), bukannya kau juga menggendongku seperti ini kemarin?"
"Memang, tapi itu hanya akan membuatku terlihat seperti Bayi sungguhan, jadi tidak."
"Ah.. Kalau begitu anggap saja seperti Pengantin!"
...
...
Kau menyengir.
Wajah temanmu itu langsung memerah setelah paham kenapa kau begitu. "T-tidak!! Bukan begitu maksudku! Aku hanya berpikir kalau-"
"Oh Marco, ternyata kau orang yang tidak sabaran ya?" lalu kau menutup kedua wajahmu; seperti malu, tapi padahal malu maluin. "Padahal kan kau tahu.. Kita masih belum cukup Umur."
"Bu-bukan!!" dan dia tambah panik.
Karena tidak tega lagi akhirnya kau melepas tawamu.
"Iya, iya.. Tenang, sobat!" lalu kau mempuk puk punggungnya. "Sudahlah ayo, jangan sampai si Landak berkoar koar lagi."
Dia mengangguk. "Hm, ayo."
Dan kalian mulai berjalan, tapi kau merangkulnya. "Kau harus belajar untuk bersabar, ingat, perjalananmu masih Panjang."
Mendengar itu Marco kembali merona. "Sudahlah, hentikan!"
Dan kalian tertawa bersama.
____________
KAMU SEDANG MEMBACA
Are You Ready To Rumble? (Attack on Titan Reader Insert)
FanfictionBagaimana bisa, kau yang beda dunia menjadi bagian dari mereka? Ya bisa lah, ff gitu loh /tabok ©Hajime Isayama Attack On Titan is NOT mine Except Roma, and (Y/n). They. Are. Mine. Shh Semua di mulai karna Roma Rivoult; si tukang ribut yang kebosana...
