"Bangun, bodoh." suara kriwil terdengar.
"Apa ini.. Apa aku sudah di neraka?"
"Neraka ndasmu." lalu kau di tendang olehnya.
"Ah~"
"...aku berharap dia mati saja." suara kuda terdengar.
Dengan perlahan engkau pun membuka matamu.
Dan yang kau lihat adalah Marco. Lalu kau membelainya. Warna merah pun muncul di wajahnya.
"I'm in Paradise.."
"Hm? Apa?" tanya lelaki berponi tirai itu.
"Parad.." kau mendengar suara yang berat, dan kau mengenali siapa dia.
"Lainah?" lalu kau melihat keatas mu. "Hai sayang."
"Hm, dia sehat wal afiat." Roma bilang sambil mengangguk.
"Sehat? Kalo begini sehat, dia pas sakit kayak apa--" tanya Sasha.
"Kau lupa? Sehatnya dia adalah sakitnya kita." Connie menambahkan.
Dengan perlahan kau mencoba untuk duduk, tentu di bantu oleh Marco.
"Kon, jangan sampai aku berikan Tol di namamu kalau kau tidak diam."
"Huh? Apa? Konitol?" Connie menatapmu, lalu ke Roma. "Apa maksudnya?"
"Jamur yang tumbuh di antara hempitan." jawab Roma sambil menatap gelap dirimu.
"Hempitan? Huh? Hey.. Aku tidak mengerti bukan karena aku bodoh kan?" lalu Connie menatap ke semua rekannya. Tapi tidak ada yang merespon.
Mikasa tetiba berjalan mendekatimu, lalu berlutut. "Apa kau bisa berdiri?"
Sebenarnya kau tidak merasakan rasa sakit yang amat buruk, hanya sedikir pegal. Tapi karena kau kira Mikasa akan menggendongmu jadi kau berbohong.
"Aduh.. Sakit sekali.. Oh!"
Mikasa kembali berdiri. "Ok, semoga lekas sembuh." dan meninggalkanmu.
"Wa-- tunggu!!" kau memanggil tapi dia sudah berjalan bersama Eren dan Armin.
Karena kau malas berjalan, matamu mencari kesana kemari untuk seseorang yang bisa membawamu.
Tapi tidak ada.
Marco membantu Jean, Reiner membantu Historia, Sasha dan Connie.. Well, mereka kembar tak seiras yang selalu bersama. Roma dan Annie sudah pergi duluan, dan tidak ada lagi yang tersisa.
Mina dan Thomas, ntahlah, tapi mereka sudah tidak ada semenjak kau bangun. Jadi dengan pasrah, kau berdiri sendiri.
"Cih, sialan."
Tapi saat kau sudah berdiri tegak, dan meregangkan tubuhmu, kau ingat masih ada satu orang yang tersisa.
"Bertholdt?" ucapmu dengan pelan. Tapi seseorang mendengarnya.
"Um, ada apa (Y/n)?" dan orang yang kau maksud menjawab.
Kau menoleh kebelakang, dan dia ternyata sedang berada di bawah pohon. Mungkin karena dia hampir se-tinggi pohon, kau mengira bahwa dia adalah pohonnya.
"SEJAK KAPAN KAU DISITU?! ALAMAK.. KAGET AKU."
"Aku sudah disini sejak tadi, sebelum kau terbangun." jawabnya, dengan keringat yang menitih di dahinya. Apa ini orang ga dehidrasi keringetan mulu? Hmm.. Pasti kantong airnya sebesar raksasanya, kau bertanya dalam pikir.
"Uhh.. Ayo kita kembali." perkataannya menarikmu kembali ke realita.
Kau teringat bahwa kau sedang berada di hutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Are You Ready To Rumble? (Attack on Titan Reader Insert)
FanfictionBagaimana bisa, kau yang beda dunia menjadi bagian dari mereka? Ya bisa lah, ff gitu loh /tabok ©Hajime Isayama Attack On Titan is NOT mine Except Roma, and (Y/n). They. Are. Mine. Shh Semua di mulai karna Roma Rivoult; si tukang ribut yang kebosana...
