Happy Reading ❤️
Jarak antara Zahra dan Revan semakin jauh. Zahra selalu menghindar dan Revan yang tidak lagi mengganggu Zahra. Ke rumah Zahra hanya untuk mengantar-jemput Meira. Sikap mereka berdua membuat Meira bingung. Zahra dan Revan juga tidak saling menyapa saat bertemu.
Pemaksaan dan ancaman Revan kemarin membuat Zahra takut saat melihat kebersamaan Revan dan Meira. Tidak ada yang salah, tapi ancaman kemarin membuat Zahra was-was. Bisa saja, Revan membawa Meira pergi diam-diam.
Ia tak sesibuk seperti kemarin-kemarin. Pulang lebih awal juga, lebih banyak meluangkan waktu untuk Meira.
"Meira mau makan apa, Sayang?" tanya Zahra yang baru saja keluar dari kamar.
Semula Meira masih ngambek dengan Zahra, tapi setelah dijelaskan alasannya, Meira bisa mengerti dan memaafkan Zahra. Lagipula, Meira sangat merindukan Zahra, ia tak bisa marah terlalu lama dengan mamahnya.
"Ikan bandeng goreng kasih telur!" ucap Meira dengan tawa riang.
"Oke! Mau ikut Mama masak?" Meira menggeleng.
"Meira mau main masak-masakan aja! Gak mau masak beneran," jawab Meira yang sedari tadi sudah membawa mainan masak-masakannya.
Zahra hanya tersenyum. Lalu, melangkah menuju dapur. Mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Tentu saja ia tak hanya membuat ikan bandeng goreng dengan telur, ia akan memasak sayur lodeh dan sayur bayam juga.
Terlalu fokus memasak, Zahra tak sadar jika mantan suaminya itu masuk ke dalam rumah. Revan menyapa Meira sebentar, lalu menyusul Zahra ke dapur. Ia hanya duduk di kursi makan sembari memperhatikan Zahra.
Suasananya sama seperti dulu saat Zahra masih menjadi miliknya. Suasana yang ia rindukan. Suasana yang mungkin tidak akan bisa terulang lagi. Semua memang salahnya.
Revan menyadari kalau tindakannya itu salah. Revan tidak punya hak lagi untuk mengatur hidup mantan istrinya itu. Percayalah, ancamannya kemarin tak sungguh-sungguh. Revan terbawa emosi saat itu.
"Sejak kapan kamu di situ?"
Revan tersadar dari lamunannya. Ia kembali menatap Zahra yang sedang menghidangkan makanan. Aroma masakan yang harum membuat perutnya berbunyi, padahal dua jam sebelumnya ia sudah makan.
"Ayo, makan bareng. Panggilin Meira," ajak Zahra.
Hatinya berbunga-bunga mendengarnya. Zahra masih bersikap baik setelah kejadian kemarin. Seolah, lupa dan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Meira! Ayo makan, Nak!" panggil Revan.
Tak lama kemudian, Meira pun datang. Matanya berbinar menatap ikan bandeng goreng kesukaannya.
Mereka makan dengan tenang. Hanya ada ocehan Meira dan suara dentingan sendok dan garpu. Sesekali Revan melirik Zahra.
"Besok aku seminar di Bandung. Aku titip Meira."
***
Revan menghembuskan nafas berat. Lagi dan lagi Zahra disibukkan oleh pekerjaannya. Yang membuat Revan jengkel setengah mati, pasti Meira murung lagi. Tak hanya itu, Revan jadi tidak ada waktu berdua dengan Zahra.
Amel juga tak kapok dengan ancamannya. Amel tetap mengganggunya lagi. Meski, tidak sesering dulu. Amel tidak hanya mendekati Revan, ia juga berusaha mendekati Meira.
Gawat!
"Mas, aku masakin makanan kesukaanmu, nih. Dan ini buat Meira cantik," ucap Amel sembari meletakkan kotak bekal dan menyerahkan dua coklat ke arah Meira.
Revan mendengus kesal. Harus waspada sama Amel. Bisa saja nanti ia akan mencuci otak Meira dan membuat pengaruh buruk bagi anaknya. Meira hanya diam saja, tapi tetap menerima pemberian dari Amel.
Revan pura-pura menyibukkan diri, sesekali mengawasi gerak-gerik Amel juga. Amel sangat perhatian dengan Meira. Dulu perhatian Amel itulah yang membuatnya jatuh cinta, tapi sekarang perhatian itu membuat Revan jengah.
"Pulang!" sentak Revan. Matanya menatap tajam Amel yang sok akrab dengan Meira.
"Lho, kenapa? Aku ada waktu luang. Sekalian mau nemenin Meira makan. Zahra ada seminar, kan?" Amel malah ngeyel.
"Dari mana lu tau kalau Zahra lagi seminar?" tanya Revan ketus.
"Sesama Dokter pasti tau lah," jawab Amel cuek.
Revan membuang muka sebal. Amel ini susah diusir. Harus dengan cara kasar baru mau pergi. Tapi masalahnya, di sini ada Meira. Tidak mungkin ia berbuat kasar di depan anaknya.
"Meira, jemput Mama, yuk!" Akhirnya, Revan punya ide bagus untuk menghindari Amel.
Meira menatap papahnya berbinar. "Ayok!"
"Aku ikut!" Si Amel ikutan.
"No, tante! Tante gak boleh ikut! Nanti Mama sedih lagi!" tolak Meira sembari menatap Amel datar.
Revan tersenyum puas. Baguslah, kalau Meira gak suka dengan keberadaan Amel. Sedangkan, Amel menatap Meira dendam. Ia tidak suka dengan orang yang membuat rencananya gagal. Membalas pun tak berani, ada bapaknya.
"Ayo, Sayang." Revan menggandeng tangan anaknya. Meninggalkan Amel yang sedang menahan kesal.
Tiba-tiba di belakangnya ada yang tertawa. "Jadi cewek mahal dikit, dong!"
***
Jangan lupa vote and comment!
KAMU SEDANG MEMBACA
EX HUSBAND (END)
No FicciónPernikahan yang sudah dibina selama hampir sepuluh tahun itu kandas karena hadirnya orang ketiga. Zahra tidak pernah menyangka bahwa pelakor yang merusak rumah tangganya itu adalah sahabatnya sendiri. Revan merasa sangat menyesal dan merasa kehilan...
