Kamu... punya seorang pangeran pribadi?
- Candy
"Stress~" Satu suara cempreng singgah ke telinga.
"Stress~" Dua suara lain mengikuti nada.
"Menjanjikan kemenangan~"
"Telolelet~"
Tiga orang gila itu hadir lagi, batin semua orang yang ada di meja begitu sekelompok kurang waras yang menamai diri mereka JaSeDo band alias Jasa Sedot Dosa Band muncul, membawa-bawa teh botol yang dialihfungsikan selayaknya gitar.
Mereka adalah Ihsanul Huda, kerap disapa Echan, Mahendra Wiraguna dipanggil Mahen, dan Jeremy, dipanggil Jeje. Ketiganya adalah teman sekelas Candy. Punya band kecil-kecilan yang cuma pernah naik panggung hajatan, paling banter, itu pun menyumbang lagu gratis. Cita-citanya pengen kayak The Effects dulu, band populer di sekolah-sekolah se-jabodetabek. Baru deh, nanti ngalahin Aril, Babang Tamvan dan Charlie Van Hotten, menurut Mahen.
Echan menyeruak maju paling depan, meletakkan sebelah kakinya di atas bangku kosong di samping Deera, lalu berpose menopangkan dagu.
"Hi, ladies," sapanya sok berwibawa. "Tempat ini kosong?"
Yang berakhir dengan mendapat hantaman di belakang lutut dari Deera, hingga dia nyaris terhuyung.
"Duduk tuh yang bener, Kuyang! Kagak! Kagak ada tempat buat kalian! Ini tuh tempat duduknya Candy."
"Ah elah, masih ada yang kosong kok." Sekarang ekspresi Echan berubah 180 derajat. Dia yang tadinya memasang gaya paling keren ala-ala The Effects, sekarang cemberut seperti anak TK. Yang tidak mempan, karena bibirnya yang dimanyunkan pun segera ditepuk oleh Alexa.
"Geli tahu, nggak!"
"Kakak-kakak, aku salah apa, ya?" tanya Echan dengan wajah tanpa dosa.
"Lo lahir aja udah salah!" sahut Deera, yang lain terkekeh sementara Echan membuka teh botolnya dengan kelewat bertenaga, seolah sedang ngambek.
"Dah nggak ada tempat nih? Geseran napa?! Geser! Geser!"
Kali ini, cowok bernama panggung Mahen yang maju, menggeser Alexa agar bisa duduk di samping cewek itu. Namun sebelum pantatnya berhasil menyentuh bangku dengan sempurna, seseorang menariknya kembali.
"Nggak usah nikung, ya!"
Dan Jeje segera duduk menggantikannya, mengabaikan Mahen yang dalam kepalanya tengah mengacungkan jari tengah. Cowok itu memberikan senyum lebar pada Alexa, gebetannya sejak masa MOS sekolah. Sayangnya, cewek yang ditaksir memberikan sikap jutek.
"Kenapa lo senyum-senyum? Muka lo kremian?!" tanya Alexa galak.
"Alex ish! Orang lagi makan!" Deera, Selin dan Poppy protes pada saat bersamaan.
"Kalau kalian nggak mau, buat gue aja sini!" kata Echan, menarik mangkuk bakso terdekat, dan segera mendapat tangkisan dari tiga tangan sekaligus.
Di tengah kericuhan itu, datanglah Candy yang langsung duduk di tempat kosong, tempat yang tadinya sudah diincar Echan. Wajah cewek itu pucat dan hampa. Ia tampak seperti kehilangan separuh nyawa.
"Kenapa lo? Kayak abis ketemu setan." Mahen menegur.
"Ya emang." Candy mendesah lantas menenggelamkan kepalanya di antara kedua lipatan tangan di atas meja. Tatapan Navy yang tajam masih membayang di kepala, berikut ancaman cowok itu. Belum lagi resiko yang harus ia terima jika menghadapi fansnya. Rasanya, ia tidak akan bisa ke sekolah dengan aman sentosa lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinderella Effect
Teen Fiction𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1 "Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu." Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri! Navian Adraha, gitaris...
