Vote, comment, and happy reading!
"Halo, Moon Gayoung. Ini Karina Aespa bersama Emma Watson dan Jennie Blackpink. Lo masih di sana? Ganti."
"Gue nggak ikutan, ya!" Terdengar suara Alexa di latar belakang. Cewek itu selalu memutar bolamata setiap teman-temannya melakukan hal-hal aneh, seperti sekarang. Berkomunikasi di perpesanan dengan ikon telepon dan warna hijau tetapi bertingkah seolah-olah mereka sedang bicara di walkie-talkie seperti di film-film detektif.
"Ini gimana cara makenya, emang? Tes. Tes. Ah. Ah. Satu. Dua." Poppy menimpali. Lalu, seperti yang sering terjadi, dia mulai menyanyi. "Andai engkau bisa sadari, betapa beratnya aku~"
"IYA! IYA! KITA TAHU LO BERAT! PLIS STOP!!!" Selin dan Deera menyemburkan serapah bersamaan. Poppy tergelak keras.
"Psst! Serius nih. Gayung mana, sih? Gayuuung???"
"Halo, guys." Akhirnya, suara yang ditunggu muncul. Berbisik-bisik. "Ini Moon Gayoung, Black Mamba telah ditemukan. Roger, ganti."
Terdengar napas di seberang sana, dari dua saluran yang berbeda. Suasana kembali menjadi serius seperti sediakala (terima kasih kepada Deera yang membekap Poppy). Lalu, bisikan berat mengisi kekosongan sejenak pada sambungan tersebut. "Halo, Moon Gayoung, apakah kamu yakin? Ganti."
"Ya, Dasha Taran. Black Mambanya ... gede. Ganti."
"Ini Karina Aespa. Jika target telah ditentukan, silakan laksanakan misi sekarang. Ganti."
"Halo Karina Aespa. Target sudah terkepung. Operasi segera dimulai. Ganti."
"Hancurkan Black Mamba. Ganti."
"Semoga berhasil, Gayung! Ganti."
Candy tidak menjawab, ia menyimpan kembali ponselnya ke saku celana ketika terdengar percakapan dari empat orang yang tersisa.
"Black Mamba emang apa, sih? Dia lagi ngapain?" Poppy memecah kesunyian.
"Nggak tahu," Selin berujar rileks. "Candy lagi ngigau kali, biarin aja."
"Jadi laper. Sodaranya Black Forest, bukan?"
"ANJRALALA!"
"Bubar, guys!" Alexa menghalau pertengkaran ketiganya. "Tutup! Tutup! Ini pake hape gue dan nggak pakai wifi, nanti abis kuota!"
Telepon terputus seketika. Candy mengabaikan grasak-grusuk dari ponsel yang lupa dimatikan, lalu mengedarkan pandangan ke sekililing lantai dua rumah. Tidak ada siapa-siapa di sekitar. Ia lalu menatap pintu di depannya dan memasang sikap waspada. Misi ini ... hidup dan matinya bergantung di sana.
Navy sudah tertidur. Candy memastikannya dengan mengirim chat, lalu menelepon hingga mengetuk-ngetuk pintu cowok itu dan tidak ada jawaban darinya. Bagus, batin Candy. Menurut Selin, obat itu bekerja dengan ampuh, cowok itu tidak akan terbangun meski tubuhnya diangkut lalu dilempar ke kandang singa.
Ia memutar pegangan pintu. Tidak terkunci. Sempurna! Rasanya seakan semesta akhirnya mendukungnya. Melirik jam dinding, Candy bertekad untuk menemukan surat dan menghapus foto itu secepatnya.
Meski tahu Navy tidak akan bangun walaupun gempa bumi, tsunami dan letusan merapi berkolaborasi, ia tetap berhati-hati melangkah mendekati cowok itu. Candy memulai pencariannya dari atas lemari nakas, ponselnya tidak ditemukan di sana. Ia menggeledah setiap laci di bawahnya, tetap tidak ada. Lalu, matanya dengan cepat memindai tempat tidur Navy, dan di sanalah ia. Ponsel itu tergeletak di atas kasur. Persis di sisi lengan Navy sebelum cowok itu membuka lengannya, menutupi ponsel di bawahnya dan memberikan Candy akses pemandangan ekslusif berupa ketiak, seolah Candy menginginkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinderella Effect
Teen Fiction𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1 "Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu." Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri! Navian Adraha, gitaris...
