Tekan bintang dan tinggalkan in-line comment, ya. Sayang semuanya ❤
"Kemana sih, tuh anak! La haula!"
Navy sekali lagi menurunkan ponselnya dari telinga, menekan ulang tombol panggil untuk kesekianbelas kalinya dan mondar-mandir frustrasi di sepanjang lorong belakang panggung. Tanpa hasil. Nino masih belum mengangkat panggilannya.
"Pacaran sampai lupa waktu tuh pasti!" Langit ikutan mengerang.
"Terakhir sih katanya otw," Aksal bersuara. "Tapi itu udah satu jam yang lalu. Mungkin macet?"
Embusan napas kasar lolos dari bibir Navy. Ia nyaris mengacak rambut, kalau saja tidak ingat berapa lama yang ia habiskan untuk menatanya. "Terus gimana, dong? Lima menit lagi kita tampil tapi tuh anak nggak nongol-nongol!"
"Improvisasi bisa nggak, sih?"
"Mau improve gimana? Dia tuh megang drum, gimana mau gantinya? Lagian nggak sempat!"
Selang keempat orang itu bertukar pandang putus asa, cowok yang sedari tadi bolak-balik mengintip ke ruang persiapan di belakang panggung, sekarang datang lagi. Kali ini sembari menenteng teh sisri plastikan yang entah didapatkan dari mana. Karena, hei, mereka berada di dalam kafe sekarang.
"Butuh drum, Bang?" Echan bertanya, matanya berbinar menatap semua orang di ruangan.
"Kenapa? Mau jadi drum? Mau digebukin?" sahut Navy.
"Eits! Bukan gitu, Bang! Tapi saya bisa main drum."
Navy menyipit. Echan, yang kali ini, seperti biasa datang bersama dua komplotannya Jeje dan Mahen, tersenyum. "Nyanyi bisa, gitar bisa, ukulele bisa, gamelan juga bisa!" serunya berapi-api. "Cuma satu yang saya nggak bisa. Mainin hati perempuan~"
"Anjralala!" Jeje dan Mahen bersorak bersamaan.
"Lalalala~" Echan berputar sembari menggoyangkan pinggul.
Echan tersenyum bangga sementara Navy dan yang lain mengurut kening, pening. Navy yang bertindak sebagai ketua klub musik sekaligus ketua dalam band mereka, meantap Echan dari atas ke bawah. Baggy pants, kaus kebesaran, rambut model jamur yang belah pinggir, lalu senyum polos kelewat lebar.
Hm... Bentukannya sangat tidak meyakinkan.
Tidak ada sesenti pun bagian dari dirinya yang tampak seperti pemain band, meski anak itu kerap mempromosikan grupnya pada Navy dan kawan-kawan.
Lalu, seorang laki-laki yang Navy kenal baik sebagai manajer kafe, memunculkan kepala di pintu. "Mas? Udah siap? Udah waktunya."
Tidak ada pilihan lain.
"Oke," ujarnya. Keputusan Navy untuk merekrut Echan mendapat pelototan dari teman-temannya, yang dibalas dengan tatapan meminta maaf dari Navy
Usai briefing singkat, mereka bersiap untuk naik ke atas panggung. Mengisi tempat yang kafe itu sediakan, dengan Echan, kali ini, menjadi salah satu dari mereka sementara dua temannya yang lain berteriak-teriak di bawah panggung, membuat seluruh mata memandang mereka.
Rasanya, Navy ingin menutup wajah dan kabur saat itu juga. Tetapi ia memejamkan mata. Dan begitu ia membukanya, Navy segera berada di dunia yang berbeda. Panggung ini adalah dunianya. Jiwanya. Dan segera saja, segala resah itu sirna. Yang bisa dia pikirkan sekarang hanya satu; menampilkan penampilan terbaiknya, menikmati dunianya.
Waktu terus berlalu...
Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan
Masih teringat jelas senyum terakhir yang kau beri untukku...
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinderella Effect
Teen Fiction𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1 "Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu." Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri! Navian Adraha, gitaris...
