22. Hujan Petir

14.4K 3.8K 417
                                        

Rekomen dibaca pas hujan~


Ya mau baca sekarang gapapa sih. Happy reading ❤

- C I N D E R E L L A   E F F E C T -

Kali ini, Candy memastikan pintu kamarnya terkunci rapat-rapat hingga tidak ada celah bagi si Narapidana usil itu untuk mengganggunya lagi. Tidak lagi, setelah insiden Candy nyaris tersedak obat nyamuk semprot dan hubungan telepon dengan Aksal yang terputus. Apa lagi, Candy tidak berhasil menghubungi cowok itu lagi setelahnya. Teleponnya sibuk dan keberanian Candy berheni sampai di sana.

Juga, seharian ini, Candy sudah cukup lelah menghadapi si bayi besar itu yang merengek meminta segala hal. Minta dibuatkan mi goreng tapi pakai kuah dengan dicampur telur kocok tapi kuningnya harus utuh lah, minta es teh hangat lah, pengin donat tapi susunan mesesnya harus rapi, lah. Yang bener aja?! Bisa kena mental Candy lama-lama meladeni dia.

Jadi ketika Navy mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, Candy abai. Begitu pun ketika cowok itu mulai mengirim pesan beruntun. Candy segera memblokirnya.

Candy mengintip melalui jendela kamarnya begitu suara berisik air hujan yang menjatuhi atap tiba-tiba datang tanpa permisi. Di luar, langit malam yang telah gelap menjadi semakin gelap. Bulir air berukuran besar-besar menimpa kaca jendela, meninggalkan kabut. Dan sesekali, guruh terdengar, beberapa saat setelah kilatan cahaya terbentuk di langit.

Sekali lagi, Candy mendesah sembari merebahkan diri di atas tempat tidur, lalu menarik boneka lumba-lumbanya untuk dipeluk. Bubun dan Yayah lama sekali perginya. Om Dicky dan Yayah memang biasanya pulang larut, bekerja, sekaligus mencari rumah baru untuk Om Dicky dan masih mencari pelaku penipuan, katanya. Sementara Bubun pergi arisan dan belum kembali, padahal biasanya Bubun sudah kembali sebelum magrib. Tepat saa memikirkan hal tersebut, ponsel Candy berdenting. Ada pesan baru dari Bubun.

Bubun pulangnya telat kayaknya, hujan lebat di sini. Dedek kalau mau makan panasin sup di kulkas aja ya, atau bikin mi dulu.

Duh, padahal Candy penginnya makan masakan Bubun. Atau setidaknya, tidak usah memasak tidak apa-apa. Asal Bubun ada di sini, agar Candy bisa menempel-nempel dan Navy tidak akan berani mengganggunya.

Panjang umur. Baru Candy membiarkannya melintas di kepala, sosok yang dimaksud terdengar di balik pintu, mengetuk-ngetuk dengan urgensi yang membuat Candy bangkit duduk.

"Di! Kendi! DEDEK!"

"Nggak ada orang!" jawab Candy asal, meninggikan suaranya.

"Itu yang nyahut apa? Botol Yakult?"

"Bodo amat!"

Candy berusaha menarik kakinya kembali ke tempat tidur, tetapi lagi-lagi, pintu diketuk dengan keras. Si Napi itu ... benar-benar kurang kerjaan, ya? Batin Candy mendongkol.

"Bukain, dong pintunya!"

"Males!"

"Plis! Sekali ini aja. Penting, nih!"

"Ada apaan?"

"Bukain dulu!"

Candy menimbang. Sosok malaikat di kanannya mengatakan untuk membukakan pintu, siapa tahu memang ada yang penting. Sementara sosok bertanduk di kiri membisikkan pikiran untuk kembali rebahan dan menutupi diri dengan selimut. Abaikan suara Navy, cowok itu sebenarnya tidak ada, Navy itu hanya mitos. Namun setelah beberapa saat, kemalasan dan sikap waspadanya kalah oleh rasa penasaran ketika Navy terus-terus menggedor. Ia pun beranjak untuk membuka pintu.

Cinderella EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang