𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1
"Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu."
Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri!
Navian Adraha, gitaris...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di antara Candy, Selin, dan Poppy, Deera terbengong-bengong di tengah-tengah kegiatan klub lukis. Tadi siang, usai dia merangkai rencana indah untuk mampir ke toko es krim sepulang sekolah, dia justru diseret begitu saja kemari, lalu disuguhi kanvas sementara semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing; melukis bebas.
Terkutuklah Candy yang menjadikannya tumbal hanya karena ia tidak ingin malu sendiri berada di tengah-tengah murid berbakat seni. Sementara bakat mereka berdua hanya ... halu.
Ia melirik ke samping, pada sahabatnya Selin. Memang tidak perlu diragukan, Selin punya bakat itu. Sejak awal masuk sekolah, Deera sudah dibuat takjub dengan kemampuan gambarnya yang sudah mirip manga asli. Anak itu menggambar hampir setiap waktu istirahat, meski yang digambar kebanyakan adalah dua cowok dalam pose romantis.
Ia melirik lagi ke sisi lainnya, kepada Candy, dimana cewek itu sedang menggambar sketsa dua buah gunung dan matahari terbit di tengah-tengahnya. Deera seketika menggeleng. Ternyata, ada yang lebih parah dari gambar sawah dan sungai miliknya. Candy hanya menggambar gunung, sawah dan jalan, seperti anak TK! Pantas saja Candy ngotot sekali mengajak dirinya serta. Rupanya biar dia tidak jadi badut sendirian di tengah komunitas para seniman. Bahkan Poppy juga, ketika dia mengintip, punya hasil gambar yang bagus.
Kalau sudah begini, Deera menyesal tidak membuntuti Alexa latihan voli saja. Setidaknya, otaknya yang doyan istirahat tidak harus dipakai.
"Can~" gamitnya pada Candy. "Gue pulang aja, ya. Nggak bisa ngegambar~"
"Ssh. Duduk aja di situ. Bentar lagi selesai, kok."
"Gambaran gue kayak ceker ayam!" bisiknya keras.
Candy seketika, tanpa tahu malu memperlihatkan hasil gambarnya sendiri. "Kalo punya lo kayak ceker ayam. Punya gue kayak apaan dong?"
"Eeknya."
Candy meninju pundak cewek itu dan merengut. "Bo'ong dikit kek biar manis. Jujur amat!"
Keduanya kemudian memandangi sahabat mereka yang sedang fokus menggambar itu. Di sisi kiri, Poppy tampak sibuk membuat gambar yang nyaris tanpa bentuk jelas.
"Lo ngegambar apaan, Pop?" Deera berbisik.
Poppy menjawab tanpa menoleh, terlalu sibuk dengan karyanya. "Ini namanya lukisan asbrak... asbak ... eh, asbrak...."