32. Cemburu

14.8K 3.3K 500
                                        

Hai, aku update fresh from the oven.

Enjoy!

.

Pada akhirnya, Candy meloloskan diri dari tawaran Aksal, dengan berat hati. Ada sesuatu tentang Navy yang membuatnya merasa ... tidak nyaman. Merasa bersalah. Seakan cowok itu telah menangkapbasahnya melakukan sesuatu yang salah. Meski jika dipikir-pikir, tidak ada yang salah. Candy suka Aksal, Navy tahu itu. Dan ini merupakan satu langkah maju untuk Candy.

Apakah dia marah karena tidak lagi bisa memegang kartu kendalinya atas diri Candy?

Ketika dia akhirnya masuk ke Daihatsu Copen milik Navy, cowok itu memberikannya perlakuan dingin. Dimulai dari Navy yang tidak membalas omelannya soal pulang telat dan panas, juga tidak merespons ketika Candy minta dinyalakan AC. Mereka bahkan berkendara tanpa musik atau suara apapun, selain derum mesin mobil yang samar dan hiruk pikuk jalanan.

Tidak banyak yang bisa Candy lakukan. Ia mengeluarkan ponselnya. Kebingungan apa yang harus dilakukan. Ia tidak bisa berkonsentrasi main game saat di dalam mobil yang sedang melaju, apa lagi nonton drama. Obrolan kelas yang biasanya ramai, juga sepi, sepertinya anak-anak semuanya masih di jalan atau sedang beristirahat, mereka akan ramai membahas pr dan tugas-tugas sore harinya.

Ketika sedang menggeser-geser halaman depan sosial medianya, Candy kembali teringat percakapan terakhirnya dengan Kak Aksal sebelum mengejar mobil Navy yang nyaris meninggalkannya. Percakapan yang memberikan terlalu banyak hal untuk dicerna.

Tadinya, Candy hanya mengobrol dan tidak mengerti apa yang terjadi. Tetapi sekarang, obrolan itu kembali berputar di kepalanya. Dan itu membuatnya berpikir ulang.

"Kak, makasih, yang tadi." Kalimat itu berhasil Candy ucapkan setelah nyaris secara otomatis berbalik mengejar Navy tanpa berpamitan. Bukan apa-apa, bagaimana dia bisa pulang?

Tetapi akal sehatnya berpikir dua kali dan Candy teringat untuk berbasa-basi.

Aksal tersenyum. "Kamu suka susu dan rotinya?"

"Hm, iya. Tapi itu...." Candy mengangguk, meski sedikit ragu. Bukan itu hal utama yang menjadi alasan dia mengucapkan terima kasih.

Meskipun ya, ini membuktikan bahwa tadi pagi, memang Kak Aksal yang menolongnya, bukan? Mungkin ... dia tidak perlu repot-repot menjelaskan.

Kepada wajah Aksal yang tampak menunggu Candy untuk melanjutkan ucapannya, Candy menggeleng. "Enggak jadi deh. Aku duluan ya, Kak!"

Ia terburu-buru berjalan, berusaha melewati sang kakak kelas yang berdiri di sampingnya. Hanya untuk tidak menyadari bahwa tali sepatunya lepas, berujung kepada kaki satunya menginjak tali itu dan membuat Candy nyaris terjerembab seketika.

Aksal menolongnya, tidak cukup cepat, Candy terjatuh di satu lututnya sebelum cowok itu menariknya berdiri. Candy lihat, Aksal sedikit meringis. Candy tidak menyadari ini sebelumnya, tetapi tepat di bawah lengan seragam Aksal, ada perban melingkar.

"Itu lengannya kenapa, Kak?"

"Oh?" Aksal terkekeh, lantas menurunkan sedikit lengan pendek seragamnya seolah ingin menyembunyikan perban itu. "Jatuh dari motor kemarin. Tapi nggak papa kok, cuma cedera dikit."

Bagi Candy, cederanya terlihat cukup serius. Teriris cutter sedikit saja, Candy biasanya sudah menangis sampai membangunkan seisi rumah,jika lukanya tampak sebesar Aksal hingga harus diperban, Candy mungkin akan pergi ke sekolah dengan kursi roda. Bagaimanapun, cowok itu tampak menahan sakit ketika menolongnya tadi.

Sebentar!

Lalu, bagaimana cara dia mengangkat Candy dengan lengannya itu?

Apakah dia berbohong?

Cinderella EffectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang