𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1
"Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu."
Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri!
Navian Adraha, gitaris...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ckrek.
Blitz kamera yang lupa dimatikan mengerjap seiring suara yang dikeluarkan. Nino menampaki ponselnya dan terkekeh.
"Gila lo, Sal. Baca buku aja keren. Pantes aja calon gebetan gue pada naksir."
Aksal, yang sedari tadi sibuk duduk di sofa sudut, membaca satu dari puluhan buku yang menghiasi kafe bernama York tersebut menurunkan kaki, baru sadar bahwa dirinya telah dipotret. Mereka bilang, ketika Aksal mulai membaca, dia akan selalu masuk ke dunianya sendiri, dan seluruh suara lain di muka bumi ini dikedapkan. Ia bahkan tidak menyadari betapa ributnya teman-temannya di sekitar, atau lalu lalang pengunjung kafe yang cukup ramai.
"Dih. Keren apanya? Duduk gitu doang."
Bukan Aksal yang menyahut, melainkan Navy, yang telah kembali ke meja mereka dengan telepon di tangan. Beberapa menit lalu, ia buru-buru kabur ke antah berantah setelah menerima panggilan telepon tidak dikenal. Terima kasih kepada keberisikan Nino dan Langit yang memenuhi hampir seisi kafe hingga beberapa orang menoleh ke arah mereka.
Aksal menurunkan bukunya dan menoleh, menyadari tatapan tidak menyenangkan dari Navy meski hanya sedetik. Cowok yang baru datang itu selanjutnya mendudukkan diri di sofa kosong di dekat kaki Aksal, menatap teman-temannya bergantian. Terlihat, suasana hatinya tampak bagus. terlalu bagus untuk merasa marah malam ini.
"Guys! Gue punya kabar gembira!" seru Navy sebelum membiarkan siapapun bertanya.
Semua yang lain, Aksal yang tengah duduk bersandar membaca buku, Langit yang lesehan di lantai, Nino yang sedang mengutak-atik ponsel, serta Pandawa yang sibuk memegang gitar serentak menghentikan kegiatan mereka dan menumpahkan perhatian itu pada Navy. Ada binar di wajah cowok itu yang membuat semua orang penasaran.
"Apaan?"
Navy membungkuk mendekat. "Masih inget, nggak, kita pernah ngirim demo lagu kita ke Sound Music?"
Alis semuanya mengerut. Ada jeda sejenak yang membiarkan semua orang memanggil kembali ingatan mereka. Tidak lama, Nino bicara dengan antusiasme dalam nada suaranya. "Inget lah, anjir! Kita udah ngirim tiga kali ke sana, bela-belain hujan-hujanan, eh nggak ada kabar!"
Sejak setahun yang lalu, beberapa bulan setelah membentuk The Effects dan menemukan harmoni kelimanya, The Effects mulai punya goal sendiri. Bukan cuma tampil di atas panggung kecil atau di kafe-kafe, keseringan membawakan lagu orang lain. The Effects ingin punya panggung mereka sendiri, lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri, yang ketika mereka membawakannya, semua orang bisa mengikuti.