𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1
"Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu."
Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri!
Navian Adraha, gitaris...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apakahdiamarah?
Ataubiasaaja?
Tapi ... kelihatannyadiamarah.
Candy mencoba menebak-nebak apa yang ada di pikiran Navy sepanjang perjalanannya menuju rumah. Di depannya, Aksal membawa motor dalam kecepatan sedang. Candy bahkan tidak berusaha berpegangan pada pinggangnya atau apapun. Dan Aksal sepertinya mengerti hingga melambatkan laju.
Siang tadi, lepas dari pelukan refleksnya pada Aksal, Candy menemukan cowok itu di sana, cowok yang namanya ia panggil-panggil dalam hati ketika terjebak di toilet tadi. Navy. Navy melihatnya bersama dengan Aksal, lalu, tanpa mengucapkan apa-apa, berbalik pergi begitu saja.
"Rumahnya nomor 39 kan, tadi?" Pertanyaan Aksal mengagetkannya dan tahu-tahu, motor menepi. Tepat di depan rumahnya.
Candy bahkan tidak sadar bahwa mereka sudah sampai! Dengan kelabakan, ia turun dari motor, nyaris tersandung dan mencium aspal dalam ketergesaannya. Untungnya, itu tidak terjadi. Ia buru-buru mengembalikan helm pada Aksal.
"Makasih banyak, kak! Mau─"
Candy melirik dengan sudut matanya. Mobil Navy ada di sudut pekarangan. Dari tempat Aksal berdiri, seharusnya terlindung bonsai-bonsai kesayangan Bubun. Aksal tidak boleh melihatya. Jadi, niatnya untuk berbasa-basi mengundang cowok itu masuk ia batalkan.
"Eh, sampai jumpa kalau gitu!"
Aksal tampak sedikit kebingungan, tetapi ia mengangguk. "Hm. Sampai jumpa besok."
Usai kepergian Aksal, Candy berbalik kembali ke rumah. Niatnya ingin memperjelas kejadian tadi, mengartikan tatapan menusuk Navy padanya. Tetapi ketika menaiki tangga dan jelas-jelas melihat Navy membanting pintu di depannya, seluruh keberanian Candy menguap.
Ia berdiri di depan pintu kamar Navy, genggaman tangan di udara, namun tak mengetuk.
Ya, Navy memangmarah, kayaknya.
Apadiamerajuk? Cemburu?
Tapigueharusapa? Menjelaskan?
Kenapa? Kitanggakpunyahubunganapa-apa. Nggak ada alasanuntukmenjelaskan.
Maka, begitu saja, Candy menyimpan kembali tangannya dan berlalu. Harapnya, masalah ini juga akan berlalu. Secepatnya.
***
Hingga malam habis dan hari berganti, mereka tidak bertukar satu patah katapun. Saat makan malam, Navy hanya menghabiskan makannya dengan cepat dan masuk ke kamar, gitarnya terdengar, namun selain itu, tidak ada. Begitupun paginya ketika mereka berada di meja makan yang sama sebelum berangkat sekolah.