Ada yang nungguin? Ayo absen dulu!
Vote dan komen kalian sangat berarti. Jadi jangan ragu untuk menumpahkan perasaan kalian saat baca. Kritik dan sarannya juga ditunggu <3
Candy buru-buru menuruni tangga, dengan tas tersampir di satu bahu dan sisir masih di tangan. Ia berlarian ke dapur sambil menyisir rambut dan bedak yang masih belepotan di wajah. Hari ini sama saja seperti hari-hari biasanya. Ia terus mensugesti diri untuk menyelesaikan satu episode drama yang berakhir menjadi sepuluh, tertidur di jam dua pagi lalu bangun terlambat. Atau keasyikan menjelajahi media sosial, melihat orang joged-joged tanpa manfaat, membaca komentar-komentar dua orang asing yang saling beradu argumen untuk membela idolanya, atau hanya sekedar mengagumi foto-foto di laman Instagram Aksal untuk ke-7129375 kalinya. Apapun itu, skenarionya selalu sama. Ia akan tertidur lewat tengah malam yang berakibat pada kesulitan bangun. Ia bangun pun sebenarnya merupakan hal yang patut disyukuri karena ia berhasil mengalahkan pertarungan mata yang menolak membuka, terima kasih kepada perpaduan alarm yang memekakkan telinga dan omelan Bubun dari dapur.
"Buuun! Liat buku paket Sejarah Candy, nggak?"
Bubun yang sedang menuangkan susu pada dua buah gelas kosong dan dua cangkir kopi di atas meja makan mendelik menatapnya. "Yang sekolah itu sebenarnya kamu atau Bubun, sih?! Apa-apa ke Bubun. Di rak paling atas. Kemaren Bubun rapihin."
Atas wajah galak yang Bubun tunjukkan, Candy menyengir. "Makasih, Bun!" Cepat-cepat, ia berlari kembali menaiki tangga, tasnya masih separuh terbuka karena habis diobrak-abrik.
Melihatnya, Bubun lagi-lagi harus menggeleng. Hal ini nyaris terjadi hampir setiap hari. Anak itu memang tidak ada tobat-tobatnya. Maka, ia pun kesulitan menahan diri untuk tidak mengomel. "Kamu bisa nggak sih, sehari aja bangun lebih pagi?! Buku tuh disiapin dari malem. Seragam juga! Sepatu juga! Main hape sampai subuh lagi, Bubun sita hape kamu!"
Candy menghentikan langkah di pertengahan tangga, ringisannya kembali. "Enggak, Bun! Janji, besok Candy bangun pagi!"
Janji itu sudah terlalu sering Bubun dengar, tapi esok yang ditunggu tidak pernah datang. Bunda hanya dapat mengembuskan napas berat dan kembali mengurusi sarapan yang sedang ia hidangkan alih-alih melayani emosinya lagi. Tidak melihat Candy seperti cacing kepanasan setiap paginya adalah hal terbaik untuk jantung Bubun. Sayangnya, anak itu muncul lagi, nyaris berlari menuruni tangga dengan sebelah kaos kaki masing-masing di tangan.
"Buuun! Yayah hari ini nggak bisa nganterin lagi, ya?" rengeknya sembari menjatuhkan sebelah kaos kakinya, membebaskan tangan untuk mencomot roti yang baru dilapisi Bunda dengan selai cokelat dan menjejalkannya ke mulut sembari ia berjingkat-jingkat berusaha memasang kaos kaki tersebut.
"Iya. Yayah harus buru-buru pergi lagi," jawab Bunda, memilih untuk mengabaikan kekacauan Candy pagi ini. Namun gagal. "Kalau makan tuh, duduk!" omelnya lagi, tanpa bisa ditahan-tahan.
"Nggak sempat, Bun. Nanti telat!" Candy meraih gelas susu, meneguknya setengah dan menelun seluruh sisa makanan yang ada di mulut sebelum merengek lagi. "Pesenin ojek dong, Bun. Candy mau pasang sepatu dulu."
"Ngapain naik ojek?" Seseorang menyela dari seberang meja.
Candy menahan napas. Untuk sesaat, ia lupa dengan kehadiran Om Dicky di rumahnya. Dengan senyum lebar, pria plontos itu meneruskan. "Kan ada Navy. Pergi bareng Navy aja."
"Hah?!"
Dan ia juga hampir lupa dengan keberadaan si Parasit Baru itu di rumah ini. Cowok itu tersenyum dari seberang meja makan. Senyum yang, dari kacamata Candy, penuh konspirasi.
"Yuk, Dede Candy udah siap?" ujarnya sembari berdiri dan menyandangkan ransel di bahu. Kepada kedua orangtua Candy, ia mengulurkan tangan untuk salim. "Saya pergi dulu, Om, Tante, Papi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinderella Effect
Teen Fiction𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1 "Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu." Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri! Navian Adraha, gitaris...
