𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1
"Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu."
Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri!
Navian Adraha, gitaris...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika Candy membuka mata, ia melihat Aksal yang tengah bercahaya saking gantengnya. Cowok itu tersenyum, menampakkan deret gigi yang amat menyilaukan, begitu silaunya hingga harus menghalau cahayanya dengan tangan.
Aksal berlari membawanya, jubah putihnya berkibar-kibar di belakang, permata di mahkota emasnya berkelap-kelip ditimpa cahaya matahari, dan kelopak-kelopak bunga berwarna pink berguguran entah dari mana. Pokoknya, suasananya amat indah, hingga Candy rasanya tidak keberatan tidur selamanya.
Dia ingin... berada dalam pelukan Kak Aksal selamanya.
Tetapi impian itu harus berhenti karena mereka telah sampai di tujuan. Aksal melambat, berjalan penuh wibawa menuju sebuah kasur besar yang juga dipenuhi kelopak mawar serta tumbuhan rambat di sekitar. Di sana, Aksal merebahkannya dengan hati-hati, mengibaskan jubah, lalu duduk di sisi Candy, pelan agar tidak mengejutkan cewek itu. Tersenyum, ia menyingkirkan helai rambut Candy yang menutupi wajah.
"Candyrella, bangun," bisiknya lembut, mendayu-dayu di telinga.
Seorang kurcaci berwajah kucing menyela. "Kau tidak bisa membangunkannya, Pangeran. Kau harus menciumnya agar ia bangun."
"Ciuman?"
"Benar. Silakan, Pangeran."
Detik itu juga, Candy rasanya hampir kejang-kejang.
Aduh, gimanaini? Kamu kan belumtujuhbelastahun, Candy. Masih dua bulanlagi! Malaikat dalam diri Candy bermonolog.
Ah, nggak papa! Kesempatan kayak gini nggakdatang dua kali! Setan di sisi lainnya langsung nyolot.
Jangan, Candy. Kamuharusbangunsekarang, malaikat bicara lagi.
Enggak, Candy! AyotarikKakAksal dan mintadinikahi!
Dasarsetancabul!
Apalobilang?!
Lalu, malaikat dan setan itu baku hantam. Sementara Candy dengan gugup menyiapkan diri. Ia mengerucutkan bibir, menanti ciuman yang dikatakan kurcaci.
KakAksal ... dedeksiap!
Lalu...
Brakkk! Pintu terbuka. Dan seorang berjubah hitam muncul. Ketika ia mengayunkan pedang dan berteriak, api menyembur dari mulutnya.