Meski bel telah berbunyi menandakan waktu istirahat telah berakhir dan pelajaran terakhir harus segera berlangsung, nyatanya masih banyak anak-anak Bintang Karya Insani yang bekeliaran di luar kelas. Anak-anak yang habis berolahraga tampak nongkrong-nongkrong di bangku panjang dekat taman, sebagian lagi baru keluar dari kantin, menenteng jajanan, sebagian bahkan masih di kantin, sedang sebagian yang lain memenuhi koridor, menuju kelasnya masing-masing.
Aksal bersama kedua temannya dalam The Effects menjadi bagian dari kelompok terakhir. Letak kelas yang satu arah mengizinkan mereka berjalan bersama. Dengan Aksal berada di tengah, Langit menyesal susu kental manis cokelat di sisinya, dan Nino yang mengalungkan lengan di pundak Aksal sembari membiarkan matanya jelalatan meneliti setiap siswi yang berpapasan.
"Sore ini sibuk?" tanya Langit sambil menyesap camilannya. Matanya mengarah ke Aksal.
Yang ditanya mengerutkan hidungnya sesaat, berpikir. "Kalau nggak ada rapat dadakan nggak ada, sih. Kenapa, Lang?"
"Futsal, yuk!" ajak Langit, intonasinya menjadi bersemangat. "Tim kita kekurangan keeper nih, Adrian absen, acara keluarga."
"Rajib banget lo futsal! Kagak bengek, apa?" Nino menyahut, rupanya sudah tidak ada lagi cewek-cewek untuk dilihat di sekitar.
"Nggak, lah. Calon pemain timnas U-19 gitu," ujar Langit sembari menepuk dada, senyum bermain-main di wajahnya. "Ntar kalau gue dah selevel Evan Dimas, lo jangan sok kenal, ya!"
"Selevel Evan Dimas pantat lo item!" Nino berdecak. "Lagian lo ngajak Aksal doang, nih? Gue aja sini, yang jadi keeper."
"Ogah! Lo kan muka-muka pengkhianat. Kalah entar tim gue!"
"Mana ada."
"Kemaren! Meleng liat cewek!"
Nino tidak menyanggah, ia justru tertawa lepas. Tawa yang kemudian ia hentikan ketika sudut matanya menangkap penampakan seorang cewek, terpaku di depan mereka seakan melihat hantu... atau artis. Sepertinya yang kedua.
Ia beringsut merapat ke arah Aksal dan memelankan suara ketika bertanya kepada kedua temannya. "Ceweknya Navy bukan sih?"
Ia masih mengingatnya, cewek berambut lurus sepunggung dengan lesung pipi kecil. Cewek yang menunggu Navy di depan ruang latihan. Ah, sayang sekali.
"Emang Navy demen cewek?" Langit menyahut dan seketika Nino mengangguk membenarkan.
Ya, benar juga. Navy tidak pernah terlihat naksir pada siapapun, yang dia pedulikan hanya dirinya dan popularitasnya. Apakah ini artinya Nino punya kesempatan mendapatkan adik kelas menggemaskan ini?
Mungkin tidak. Karena Aksal telah melangkah maju lebih dulu, lalu berhenti tepat di depan cewek yang mematung itu.
"Candy?" sapanya.
Cewek itu tidak menyahut, ia justru menatap Aksal dengan mata melebar. Bahkan ketika Aksal melambaikan tangan di depan wajahnya, ia tidak berkedip. Untungnya, efeknya tidak separah ketika pertama kali Aksal menyapa. Candy pada akhirnya berhasil menguasai diri dan menjawab dengan sedikit terbata.
"I-iya... kakak tahu nama saya dari mana?"
Tanpa suara, Aksal menunjuk nama pada tag nama di dada cewek itu. Hilang sudah perasaan spesial yang tadi menghinggapinya.
"Ya pernah denger Navy manggil kamu juga," tambah Aksal, dan Candy tidak tahu harus merasa bagaimana. Mendengar nama Navy menurunkan moodnya beberapa derajat.
"Oh, gitu," angguknya pelan, malu-malu menyelipkan helai rambut ke belakang telinga. "Ada ... apa, Kak?"
Sementara di belakang, Nino menarik Langit menjauh. "Duluan," katanya, berlalu sembari memberikan kedipan dan salam hormat menggunakan dua jari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinderella Effect
Teen Fiction𝚃𝚑𝚎 𝙴𝚏𝚏𝚎𝚌𝚝 𝚂𝚎𝚛𝚒𝚎𝚜 #1 "Mulai sekarang, lo gue angkat jadi babu." Candy pikir, dia bisa menjadi Candyrella dan hidup bahagia bersama Pangeran crushnya. Sial, dia malah bertemu Navy yang kejamnya melebihi ibu tiri! Navian Adraha, gitaris...
