Bagian 12 - Kesedihan datang lagi

1.4K 76 3
                                        

Manusia tidak akan pernah saling mengerti jika belum pernah merasakan penderitaan yang sama.

"Selamat pagi." sapa Lili kepada Mario.

"Selamat pagi,"

"Segeralah turun, ayah dan ibu menunggumu di bawah." awal pagi Lili disambut dengan sapaan Mario. Laki-laki itu nampak tidak merasa bersalah setelah melukai hatinya kemarin.

"Baik." balas Lili cepat. Ia tak mau beradu argumen lagi dengan Mario karena ujung dari perdebatan pasti akan dimenangkan oleh laki-laki egois itu.

Mario dan Lili disambut dengan senyuman hangat oleh seluruh anggota Relegan kecuali Ruby dan Pandu. Anak dan ibu itu sampai kapanpun tidak akan pernah bisa membuka ruang hati dan memberikan kebaikan kepada siapapun. Biarlah mereka seperti itu tetapi karma dari kejahatan akan membalas semuanya.

Haruman melihat satu persatu keturunannya. "Aku merasa sangat bahagia karena istri, anak, menantu dan cucuku bisa bersama dalam sarapan hari ini."

"Ayah sangat berharap kalau kebersamaan keluarga ini tidak akan pernah terpisahkan. Jangan sampai itu terjadi ..."

Haruman melihat Mario, wajah putranya itu masih tetap sama, irit bicara dan jarang tersenyum. Ia mengingat-ingat kenangannya bersama ibu Mario sembari bernostalgia sejenak.

Ia merasa seperti kembali ke masa muda nya, 35 tahun yang lalu.

"Kamu sangat cantik, Fitri." lelaki itu mendekati wanita yang sedang menyisir rambutnya di depan kaca meja rias.

Wanita itu menghentikan apa yang sedang ia lakukan dan berbalik menatap mata elang suaminya itu dengan senyuman.

"Benarkah?"

"Apa begitu menurutmu?"

Lelaki itu tersenyum dan kemudian membalas perkataan istrinya itu. "Tentu, saat pertama bertemu denganmu aku merasakan sesuatu yang berbeda."

"Apa kamu pikir aku makhluk jahat hingga dirimu merasakan aura yang berbeda ketika bertemu denganku, Haruman?" ketus wanita yang bernama Fitri itu, ia membalikkan tubuhnya menghadap cermin dan membelakangi Haruman.

Lelaki itu tertawa geli melihat istrinya dengan wajah tertekuk, ia tahu bahwa wanita itu sedang marah padanya. Tetapi apa bisa ia marah ketika Haruman membujuknya dengan cinta?

"Apa aku mengatakan hal yang salah?" tanya Haruman yang terkekeh melihat wajah cantik istrinya itu ketika sedang merajuk.

"Pikirkanlah sendiri!" Fitri mendengus kesal, bisa-bisanya suaminya itu mengatakan bahwa dirinya seperti makhluk jahat yang membuat Haruman merasakan aura berbeda jika berdekatan dengannya.

Haruman menangkup kedua pipi istrinya itu, "Kamu sangat cantik, Fitri. Kamu bagaikan ratu yang bertakhta dan telah mengambil alih hati serta pikiranku. Kamu adalah bidadari ku, Fitri." ucapan Haruman membuat wajah wanita itu memerah, hatinya berpacu lebih cepat dan ia tidak bisa menahan senyuman kebahagiaan itu.

Fitri langsung memeluk suaminya itu dan Haruman membalasnya dengan mendekap tubuh mungil istrinya itu.

"Aku sangat mencintaimu," wanita itu memejamkan matanya dan merasakan rasa nyaman saat Haruman memeluknya.

"Aku juga sangat mencintaimu, Fitri."

Haruman terlalu terhanyut dalam nostalgia mengenang masa lalunya itu, hingga ia tersadar ketika ponselnya berdering.

"Baik, aku dan putraku akan segera ke sana."

Haruman berdiri dari kursinya dan ingin meninggalkan meja makan, namun Ruby menghentikannya dengan memegang tangan Haruman.

TIRANICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang