Kamu adalah matahariku. Mengawali pagiku dan menyinari hidupku.
Sejak semalam, Lili tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia bahkan tidak menyentuh makanan, hanya terus larut dalam tangis yang tak kunjung reda. Dokter menyatakan bahwa lelaki paruh baya itu terkena serangan jantung mendadak dan hingga kini masih belum sadarkan diri. Ashalia dan Ghefira tetap setia menunggu di kursi depan ruang perawatan Ardian. Dari keluarga Relegan, hanya Mario dan Zio yang masih berada di sana, menemani keluarga besannya dalam kesedihan.
Fajar telah merekah, namun tak ada seulas senyum pun yang menghiasi wajah Lili. Ia duduk termenung di kursi taman, tempat yang semalam menjadi pelarian untuk sekadar menghirup udara segar. Mario terus memperhatikannya dari kejauhan, khawatir sesuatu yang buruk bisa menimpa wanita itu di tengah rapuhnya keadaan.
Dengan langkah hati-hati, Mario akhirnya menghampiri. Lili hanya menatap bunga-bunga di sekeliling taman, namun pandangannya kosong, tak lagi berbinar seperti biasanya. Padahal, setiap kali berhadapan dengan bunga, Lili selalu tampak gembira. Kini, sorot itu hilang, tergantikan kehampaan.
Mario menarik kursi dan duduk di sampingnya.
"Apakah dirimu merasa lebih baik?" tanyanya pelan.
Namun yang terdengar hanyalah hembusan angin yang lewat, membawa kesunyian di antara mereka. Lili tetap terdiam, seakan terkurung dalam dunia yang tak mampu dijangkau siapa pun.
"Lili,"
Mendengar namanya dipanggil Lili pun menoleh, menatap pria yang ada di sampingnya, ia tersadar dari lamunannya ketika pria itu memanggil namanya dengan suara khasnya.
"Iya."
"Mas, sejak kapan dirimu berada di sini?"
"Kamu tidak perlu bertanya, karena aku akan selalu ada bersamamu di mana pun dirimu berada, Lili." Mario menatap lekat wajah wanita itu, pucat pasi, matanya sembab dan air matanya sudah mengering.
"Dirimu tidak terlihat baik-baik saja, kita pulang sekarang."
"Tidak."
Lili tersenyum hambar, bagaimana bisa ia pulang sedangkan ayahnya masih terbaring tak berdaya di sini. Tidak tahu apakah keadaannya akan membaik atau malah sebaliknya. Dan pria ini malah mengajak dirinya pergi, tidak. Tidak akan dia tinggalkan ayahnya sendirian. Tidak.
"Ayo pulang, bersihkan dirimu dan isi tenagamu untuk menangis nanti." ajak Mario tetapi wanita itu masih tetap dengan pendiriannya.
"Kenapa? Kamu ingin menjauhkan diriku dengan ayahku? Apa itu yang kamu inginkan?" tanya Lili kepada Mario yang terlihat memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas panjang, mencoba menenangkan kekesalannya.
"Apa maksudmu bertanya kenapa? Kamu harus mengisi tenagamu yang hampir habis itu. Jika kamu sakit siapa yang akan terbebani dan kesusahan? Ibumu bukan?"
"Di satu sisi ayahmu sedang terbaring koma dan sisi lain putrinya sedang sakit karena tidak makan seharian. Apakah kamu ingin menambah beban ibumu?" lelaki itu mencecar Lili dengan berbagai pertanyaan sehingga sukses membuat wanita itu memikirkan ulang apa yang sedang dilakukannya.
"Apa kamu khawatir padaku? Maksudku dengan keluargaku?"
"Ya. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Bukankah itu yang ingin kamu dengar?"
"Tidak. Aku hanya ingin mendengar kejujuran darimu."
"Jadi, apa sekarang kamu ingin pulang? Jika iya, ikutlah denganku." Mario memegang tangan Lili, menggenggamnya dengan erat.
"Tidak."
Mario melepaskan genggaman tangannya. Sial. Jawaban dari wanita itu lagi-lagi membuat Mario hampir tersulut api amarah, namun demi membuat keadaan semakin membaik ia akan berusaha meredam amarahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIRANI
RomanceHaliaca Putri Pranata, atau Lili, mengira pernikahannya dengan Mario akan menjadi babak baru yang indah dalam hidupnya. Namun, realitanya jauh lebih kejam. Begitu janji suci terucap, suaminya, Mario, langsung merobek semua harapan dengan kalimat din...
