Kamu menghancurkan banyak hal untuk mendapatkan kebahagiaan yang hanya sementara.
Senyuman itu menyeret Haruman kembali ke masa silam, pada sosok wanita yang pernah begitu ia cintai. Senyuman yang dahulu merekah indah, sebelum akhirnya retak oleh luka yang merobohkan dunia cintanya. Kini, ketika menatap putri bungsunya yang bersiap melangkah menuju pernikahan, hatinya dipenuhi bahagia. Namun, di balik rasa syukur itu, Haruman menaruh cemas. Ia tahu, pilihan calon suami bukan sekadar perkara cinta—melainkan jalan hidup. Ia tak ingin sang putri mengulang penderitaan, sebagaimana yang pernah dialami Ruby, dulu.
"Sayang, putri yang ayah paling sayangi ..." panggil Haruman kepada Lalea yang sedang berjalan menemui Haruman yang berada di balkon rumah.
Di sana sudah terdapat anggota keluarga yang lain. Ada Ruby, Mario, Lili, Pandu, Amaya dan Zio. Mereka semua dipanggil Haruman menuju balkon karena ia akan membahas mengenai Lalea, lebih tepatnya masa depan Lalea.
"Iya, Ayah."
"Mega, tolong buatkan teh hijau untuk kami." kata Ruby yang langsung dihampiri oleh Mega.
Lili melihat sekeliling, ia mengedarkan pandangannya namun ada satu hal yang membuatnya sangat serius menatap, yaitu luka di tangan Amaya.
Ia pikir itu adalah ulah tidak waras dari Pandu, segera ia membuang pikiran buruk itu dan fokus pada pembicaraan Haruman. Tetapi kenapa lukanya begitu besar?
"Ayah sudah menemukan calon suami yang paling baik di antara yang terbaik untukmu, Lalea."
Lalea terkejut. "Calon suami? Kenapa Ayah tidak mengatakan sebelumnya kepadaku?" wajahnya memerah, "Kenapa Ayah tidak meminta pendapatku terlebih dahulu?"
Mario yang melihat adiknya yang seperti itu pun bersuara, "Lalea, tenanglah ... Jika suasana hatimu sedang kacau, aku harap kamu tidak menambah kekacauan di hati bersih mu itu."
Lalea bangkit dari duduknya. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini—mengapa semua orang selalu ingin mengatur hidupnya? Yang ia dambakan hanyalah satu: kebebasan. Bebas bersama orang yang ia cintai, meski ia tahu, itu tampak mustahil.
Dengan langkah tergesa, gadis itu meninggalkan balkon dan menuju kamarnya. Tiba-tiba, rasa mual menyerang. Ia mempercepat langkah menuju toilet di dalam kamar. Amaya hendak mengejarnya, namun Ruby menahan dan memberi isyarat bahwa biarlah ia sendiri yang menangani putrinya.
Ruby memutar knop pintu, rupanya tidak terkunci. Perlahan ia masuk, namun pandangannya segera terpaku pada sesuatu di meja rias—sebuah test pack. Seketika, wanita paruh baya itu nyaris tak mampu berdiri tegak.
Darahnya terasa berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang, seakan ingin meloncat keluar dari dada. Tangannya bergetar ketika ia meraih benda kecil itu, mencoba meyakinkan diri bahwa pandangannya keliru. Namun kenyataan tidak bisa disangkal. Dua garis tegas terpampang di sana.
Ruby terhuyung, tubuhnya seolah kehilangan tenaga. "Ya Tuhan..." bisiknya lirih, suara yang nyaris tak terdengar. Air mata mulai berkumpul di sudut matanya. Perasaan hancur, marah, kecewa, dan takut bercampur menjadi satu.
Di luar pintu, Amaya masih menunggu dengan wajah penuh cemas. Ia tak tahu, bahwa dunia kecil yang mereka jaga dengan susah payah baru saja terguncang oleh rahasia besar yang terbongkar. Sementara itu, Lalea masih di dalam kamar mandi, menggenggam perutnya yang terasa mual, tanpa menyadari badai besar sedang menanti di luar.
Lalea hamil?
Oh, astaga.
Ruby mengunci pintu kamar Lalea dari dalam, wanita itu sangat marah dan merasa terhina atas apa yang sudah dilakukan oleh putrinya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIRANI
RomanceHaliaca Putri Pranata, atau Lili, mengira pernikahannya dengan Mario akan menjadi babak baru yang indah dalam hidupnya. Namun, realitanya jauh lebih kejam. Begitu janji suci terucap, suaminya, Mario, langsung merobek semua harapan dengan kalimat din...
