Prolog

8K 291 18
                                        

T I R A N I


Kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang.


Bagaimana aku bisa menceritakan kisah cinta yang di mulai dari serpihan mimpi yang hancur?

Bagiku dan bagi kita semua mimpi adalah harapan besar yang membuat kita ingin selalu menggapainya. Namun mimpi yang sudah kurancang begitu indah kini telah tersisa dengan harapan yang hampir pudar.

"Kita bersama namun tidak ada cinta di antara kamu dan saya, kita tidak saling memiliki." ucapnya tanpa memikirkan perasaanku.

Aku menatap matanya mencoba menyadarkannya, "Cinta akan bersama kita seiring berjalannya waktu."

***

Aku tumbuh di keluarga sederhana. Ayahku, seorang manajer di perusahaan besar, beliau pahlawan super bagiku. Karena ia bekerja di kota sementara kami tinggal di desa, ayah sering pulang pergi. Kadang, jika pekerjaannya menumpuk, ia hanya pulang di akhir pekan. Dulu, setiap kali aku menangis karena terjatuh dari sepeda, ayah selalu menyeka air mataku dengan penuh kasih sayang, mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan.

Ibuku wanita terhebat, bagaikan seorang wonder woman yang cantik dan baik hati. Saat aku bermimpi buruk, ia selalu ada di sisiku, meyakinkan bahwa mimpi buruk akan segera berlalu dan kebahagiaan akan menanti saat aku bangun. Dari semua hal, senyum manis dan masakan lezatnya adalah yang paling ku sukai dari ibu.

"Sayang jangan lupa kue nya dikasih krim keju ya," kata Ibu seraya menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisi kopi dan susu.

Aku tersenyum, lalu menatap mata ibuku yang penuh dengan cahaya. "Bagaimana aku bisa lupa, Bu? Aku tidak akan lupa jika menyangkut kesukaanku." Kemudian dia terkekeh mendengarkan diriku berkata seperti itu.

Dengan ponsel yang masih digenggamnya dia mendekatiku, "Kak. Kayaknya daripada terus nunggu sinyal internet yang selalu hilang. Lebih baik aku langsung saja datang ke kampus, biar dapat informasi yang lebih jelas." Keluhnya dengan mimik wajah yang sedikit kesal.

"Betul juga kata kamu. Daripada kamu nanti ketinggalan informasi lebih baik langsung saja ke sana." balasku sembari meratakan krim keju.

"Aku pergi dulu ya, Bu, Kak. Aku nggak mau terus-terusan harus nunggu gini. Soalnya aku selalu ingat dia dan dia bisa diibaratkan dengan sinyal. Kadang hilang kadang juga ada. Kalau pun ada itu pun cuma sebentar kemudian menghilang lama hingga aku jenuh menunggunya."

Aku juga mempunyai adik perempuan, dia sangat cantik, cantiknya seperti ibuku dan melebihi diriku. Tidak-tidak, semua wanita itu cantik dengan caranya sendiri, dan semua itu tergantung cara pandang setiap manusia, jika saling membanding-bandingkan maka akan selalu tercipta iri hati.

Aku dan adikku beda lima tahun, sangat jauh tapi tak apa. Dia sangat banyak bicara, berbeda denganku yang berbicara hanya seperlunya. Rambutnya hitam bergelombang, dengan lesung pipinya yang menggemaskan.

Saat ini ia sedang menunggu konfirmasi dari universitas yang ditujunya.

Aku, anak pertama yang bahunya harus sekuat baja dan hatinya harus setegar karang. Tidak boleh menangis karena hal kecil, tetapi aku sering menangis di tempat sepi hanya karena hal sepele. Banyak yang berkata bahwa 'wanita itu tidak boleh menangis harus kuat', menurutku mental orang itu berbeda-beda, ada yang tahan banting dalam setiap keadaan dan ada pula yang selalu terlihat tegar namun rapuh di dalamnya.

Rambutku berwarna sedikit pirang dan lurus, mataku berwarna coklat hazel. Setiap orang yang selalu melihatku dan adikku bersama, beberapa dari mereka selalu bertanya-tanya.

"Kenapa wajah kalian berbeda? Dari mata dan rambut, sedangkan kalian saudari kandung."

Tapi aku selalu mengabaikannya dengan menepis semua pikiran negatif itu dengan senyuman. Karena aku pikir mungkin aku memiliki gen dari ayah.

Saat aku lulus sekolah menengah atas, aku tidak melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi walaupun aku ingin sekali menjadi guru karena saat itu faktor perekonomian keluargaku menurun drastis.

Mulai dari makan harus membagi nasi satu bungkus dengan adikku dan bekerja paruh waktu di toko milik orang. Hingga perlahan perekonomian keluargaku kini kian membaik.

Aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu, bukan menguping tetapi karena terlihat penting ya aku dengar sedikit saja, tak apa, bukan?

"Kalau begini, aku tidak rela jika putriku menikah hanya untuk melunasi bersih hutang-hutang Ayah. Putriku bukan barang dagangan yang bisa diperjualbelikan seperti ini. Ibu nggak rela." Begitu kira-kira perkataan ibu yang kudengar meski tidak terlalu jelas.

"Mau bagaimana lagi, Bu? Ayah pun rela jika di bui karena hutang demi kebahagiaan putri kita. Tapi, pak Haruman, ia memperlakukan Ayah layaknya keluarganya, apa kita tidak bisa membalas semua jasanya yang telah ia berikan selama ini?" ucap ayah dengan menahan amarahnya dan memelankan suaranya yang ditahan agar tidak terdengar siapapun terkecuali mereka berdua.

Aku tak kuasa menahan tangis dan pertahananku dari tangisan ini sudah pecah, aku berlari menuju kamar dan menutup pintu tak lupa menguncinya rapat-rapat agar tidak ada yang tahu bahwa aku sedang terluka.

Menjelang malam, aku selalu memikirkan pernikahanku nanti. Apakah aku akan bahagia seperti pernikahan di negeri dongeng? Apakah keluarganya akan sebaik keluargaku? Dan, apakah ibunya akan menyayangiku seperti ibu menyayangiku? Ada begitu banyak harapan tentang indahnya masa depan yang kunantikan..

Namun yang di dapatkannya hanyalah luka dan luka. Ia selalu terluka tiap kali ia berhasil menyembuhkan luka lamanya, karena ia tahu bahwa ia dibesarkan oleh kebohongan. Kebohongan besar yang telah disembunyikan rapih oleh orang-orang yang sangat ia sayangi dan cintai.

Ibarat bunga, mekar bunganya yang sangat indah itu karena di rawat dan selalu dipedulikan namun setelah bosan, bunga itu kini di diamkan, tak di hiraukan. Dan ketika sudah layu, bunga itu kini dibuang layaknya tak pernah berharga dalam hidupnya.

Pintu kebahagiaan selalu terbuka untuk siapa saja tetapi di antara pintu-pintu yang kuketuk tidak ada satupun yang akan terbuka. Mungkin saat ini bukanlah waktu kebahagiaanku akan datang. Harapanku tidak akan pudar. Esok bahkan hari-hari selanjutnya aku akan datang lagi dengan harapan baru dan berharap lagi pintu-pintu kebahagiaan itu akan terbuka untukku.

TIRANITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang