Bagian 2 - Ikuti naluri

2.9K 163 5
                                        

Jika bibir tidak bisa bersuara, maka biarkanlah hati yang bicara.

Pagi-pagi sekali, Lili sudah berada di dapur, menyiapkan menu spesial untuk suaminya. Ia membuat sandwich, nasi goreng dengan berbagai topping seperti sosis, udang, jamur, dan sayuran, serta tak lupa susu hangat untuk Mario.

Aroma nasi goreng Lili sangat menggugah selera. Ia merasa bahagia karena hari ini adalah hari pertamanya memulai cerita baru. Senyum tak henti-hentinya terukir di wajahnya. Namun, di dalam hatinya, ia merasa cemas. Ia takut kejadian semalam terulang lagi, di mana masakannya disia-siakan. Masih banyak orang di luar sana yang susah payah mencari sesuap nasi, tetapi Mario dengan mudah membuang makanan tanpa rasa bersalah.

Lamunan Lili buyar ketika ia sadar bahwa ia lupa memberi tahu suaminya bahwa sarapan sudah siap. Baru saja ia hendak bangkit dari duduknya, Mario datang dengan amarah yang seolah membuat seisi rumah tak betah lagi satu atap dengannya. Lelaki itu tampak sangat rapi dengan kemeja biru dan jas hitamnya.

"Selamat pagi, Mas." Tidak ada jawaban dari Mario karena ia terlihat sedang menjawab telepon penting.

"Sebentar lagi saya datang, tunda rapatnya lima belas menit lagi." ucap Mario menutup telepon terdengar kesal kepada seseorang di ujung telepon.

"Mas, sarapan dulu." ajak Lili kepada Mario.

Mario memang menuruti perkataan Lili dengan duduk di meja makan, namun hanya memakan setengah dari sandwich dan meneguk setengah gelas susu hangat yang dibuatkan oleh Lili.

"Mas, makannya pelan-pelan nanti Mas bisa tersedak."

Mario terus menatap Lili dengan wajah datar. Lili merasa ada yang salah dengan dirinya, padahal ia yakin tidak melakukan kesalahan apa pun. Pakaiannya pantas, wajahnya polos tanpa riasan berlebihan, dan rambutnya digelung rapi.

Uhukkk ...

Mario tersedak sehingga ia terus terbatuk-batuk, Lili dengan gerakan cepat membantu Mario untuk menuangkan air ke dalam gelas. Tetapi lelaki itu terus terbatuk tiada henti, hingga ia batuk dengan suara yang sangat besar dan mengeluarkan darah.

"Ambil ... Ambilkan obat saya di meja kecil samping vas bunga di kamar." pinta Mario dengan napas yang sedikit sesak dan terus memegangi dadanya.

Lili yang panik pun berlari menuju kamar Mario dan mengambil obat yang di minta olehnya berharap semuanya baik-baik saja.

"Mas ini," Lili memberikan sebuah botol kaca kecil yang berisi obat milik Mario, entah obat apa itu tetapi obat itu bisa meredakan sakit yang dialaminya.

Setelah meminum obat itu, Mario merasa lebih baik. Dadanya tidak terlalu sakit dan dia tidak kembali batuk.

"Bagaimana keadaan, Mas? Apa masih sakit?"

"Kamu bisa diam tidak?" Mario menjawab perkataan Lili dengan nada yang cukup tinggi sehingga membuat Lili terkejut.

"Kamu tahu? Kamu memang wanita kampungan yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa bersanding dengan saya." tukas Mario menatap Lili dengan tatapan tidak suka, namun masih tetap sama, Lili akan selalu menghormati Mario sebagai suaminya.

"Mas, aku ini istri kamu, jadi tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali kematian."

"Kamu ingin menjadi istri saya, bukan? Tetapi kali ini kamu membuat hidup saya dalam masalah."

"Seorang istri itu membawa keberuntungan. Namun, kamu adalah wanita yang membawa kesialan. Karena hari ini sakit saya kembali kambuh dan kali ini klien saya sangat penting, jika terjadi apa-apa karena keteledoran kamu membuat saya telat bangun, saya tidak akan pernah memaafkan kamu." tutup Mario kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.

TIRANICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang