Jangan terus-terusan mencari kesalahanku, jika sebenarnya kamu menginginkan pergi dariku.
Mengingat kejadian pagi tadi dalam lubuk hati Mario merasa bersalah, memaki wanita itu tanpa alasan hanya untuk meluapkan perasaan benci di dalam dirinya.
"Kamu bisa diam tidak?" Mario menjawab perkataan Lili dengan nada yang cukup tinggi sehingga membuat Lili terkejut.
"Kamu tahu? Kamu memang wanita kampungan yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa bersanding dengan saya." tukas Mario menatap Lili dengan tatapan tidak suka, namun masih tetap sama, Lili akan selalu menghormati Mario sebagai suaminya.
"Mas, aku ini istri kamu, jadi tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali kematian."
"Kamu ingin menjadi istri saya, bukan? Tetapi kali ini kamu membuat hidup saya dalam masalah."
"Seorang istri itu membawa keberuntungan. Namun, kamu adalah wanita yang membawa kesialan. Karena hari ini sakit saya kembali kambuh dan kali ini klien saya sangat penting, jika terjadi apa-apa karena keteledoran kamu membuat saya telat bangun, saya tidak akan pernah memaafkan kamu."
Di lain sisi, pikiran dan hati Mario tak sejalan. Ia berpikir, sekejam itukah dirinya? Tidak. Mario Relegan tidak akan pernah berpikir lemah seperti ini.
Ia sudah mengambil keputusan. Bahwa sehabis ia menyelesaikan pekerjaannya, ia akan membawa wanita yang berstatus sebagai istrinya itu sebuah tempat yang ia sukai.
***
Sore itu, Lili sedang menyirami bunga-bunga yang baru dibeli dan ditanamnya di halaman belakang, atau lebih tepatnya, rumah suaminya, Mario. Ia menyukai bunga Lily yang sesuai dengan namanya, tetapi ia lebih menyukai bunga Mawar karena durinya.
Tanpa disadari Lili, Mario sedang mencarinya. Pria itu sudah lelah berkeliling di rumahnya yang sangat luas. Mario menghela napas panjang, berpikir mengapa ia harus membuang-buang waktu mencari wanita yang dibencinya.
Hanya satu tempat yang belum ia kunjungi, yaitu halaman belakang. Emosi Mario yang tadinya sudah memuncak, kini mereda. Ia melihat wanita itu sedang membelakanginya, mengenakan daster cokelat muda selutut dan rambut yang diikat asal-asalan, fokus menyiram tanaman sambil bersenandung.
Bunga mawar, taman mawar, kedai kopi, aku suka ...
Hujan datang saat panas membuat hati tenang.
Musim panas segera berlalu membawa kenangan panjang ...
Lalala ... Lala ... Lalala ...
"Lili." panggil Mario.
Wanita yang dipanggilnya tak kunjung menoleh, karena tertegun. Pertama kali suaminya memanggil namanya, sebab sebelumnya lelaki itu memanggilnya bukan dengan nama, melainkan dengan sebutan wanita kampungan.
Setelah puas tersenyum-senyum sendiri, Lili pun membalikkan tubuhnya menghadap sumber suara.
"Cepat siap-siap, saya nunggu kamu, cuma lima belas menit." ucap Mario singkat kemudian meninggalkan Lili sendiri dengan berbagai alasan. Semua yang melihat Lili pasti akan langsung tahu bahwa Lili tengah merasakan cinta.
Lili sudah siap, ia memakai midi dress polos berwarna baby blue dan riasan wajah natural. Setelah selesai menelepon, Mario membalikkan badan dan melihat Lili sudah berada di depannya.
Mario berjalan menuju mobil, disusul oleh Lili. Sesampainya di tempat tujuan, Mario mempersilakan Lili masuk lebih dulu. Lili merasa takjub melihat banyaknya dessert yang ada di toko tersebut. Matanya berkeliling ke seluruh ruangan yang dipenuhi berbagai macam hidangan penutup.
"Aku akan mengangkat telepon sebentar, kamu bisa memilih apa yang kamu inginkan," kata Mario sambil berbicara dengan seseorang di telepon.
Dengan perasaan bahagia, Lili mengitari etalase dessert. "Kalau boleh, aku ingin semuanya," bisik Lili. Ia membayangkan betapa bahagianya dikelilingi kue-kue cantik dan lezat.
"Wah, ini indah sekali, sayang kalau dimakan," lanjutnya dengan senyum yang tak pernah pudar.
Ia memesan dua kotak dessert rasa choco dan strawberry. Namun, ia harus mencari suaminya karena takut ditinggal. "Ke mana Mario?" pikirnya.
Setelah mencari, Lili menemukan Mario. Tapi, siapa wanita di sampingnya?
"Mas," panggil Lili, yang tentu saja didengar oleh Mario.
"Maaf, siapa, ya?" Lili mengerutkan kening, bertanya pada wanita yang sedang bergandengan tangan dengan Mario.
Wanita di samping Mario terlihat sangat bahagia, karena dalam hubungan mereka ada cinta.
"Ini tunangan saya," jawab Mario cepat, yang dianggukan oleh wanita itu. Lili sangat terkejut. Ia merasa tidak sopan jika ada yang melakukan hal yang tidak wajar kepada suami orang, apalagi di hadapan istrinya dan di tempat umum.
"Tunangan?"
"Iya, saya tunangannya Mario." jelas wanita itu dengan percaya diri tanpa ada rasa malu sedikit pun. Cantik tapi tidak beretika, cibir Lili dalam batinnya.
"Hai, nama saya Malika Putri Prayoga. Kamu pasti Lili, 'kan?" tanya wanita yang bernama Malika itu.
"Iya benar. Saya istri sah dari mas Mario."
"Dan saya adalah wanita yang di cintai oleh Mario." Tak mau kalah dengan ucapan Lili, Malika seperti ingin memancing amarah wanita itu.
Tidak ingin membuat keributan karena ia tahu keadaan di mana ia sedang berada, Lili mengambil pesanannya yang telah dibayar oleh Mario dan berlalu menuju mobil. Lili duduk di sebelah pengemudi, yaitu Mario. Tetapi Mario malah memarahi Lili di depan Malika.
"Ngapain kamu duduk di sini?" tanya Mario dengan menatap tidak suka kepada Lili.
"Mas," Lili ingin membalas perkataan Mario dan belum selesai ia menyelesaikannya Mario sudah menyela tanpa mendengarkan pendapatnya sebentar saja.
"Kamu tahu posisi kamu, 'kan?"
"Cepat bangun, Malika akan duduk di sini, di samping saya." usir Mario.
"Kamu bisa mendengar ucapan saya, tidak? Di mana telinga kamu?" tanya Mario yang kemudian di turuti oleh Lili. Bukan mengalah, tetapi karena Lili sangat menghormati Mario dengan menuruti perkataannya, walau itu sangat menyakitkan.
"Dia kekasih saya dan kamu hanya orang asing bagi saya." bisik Mario sebelum Lili turun dari mobil.
Lili duduk dibelakang dan harus melihat suaminya bersama wanita lain, di mana pun perebut lelaki orang tidak akan pernah menang dalam merusak hubungan yang telah dilandasi kepercayaan dan janji suci. Lili memalingkan wajahnya dan membuat tatapannya menatap ramainya jalanan ibukota namun hatinya sangat sepi.
Harapan Lili salah, ia pikir Mario akan membuatnya bahagia meski sehari saja namun sebaliknya, Mario sangat menyakitinya. Mario menurunkan Lili di halaman depan rumah dan ia pergi berdua bersama Malika, entah ke mana.
Dengan cepat, Lili masuk ke rumah dan meletakkan dessert yang di belinya tadi di meja makan. Ia berlari menuju kamarnya dengan hati yang sangat hancur, terluka dan kecewa. Begini susahnya jika hidup bersama orang kaya, karena ia akan memperlakukan kita sesukanya.
"Siapa sih yang tidak terluka jika suaminya memprioritaskan wanita lain daripada istrinya?"
"Untuk apa Malika tetap menjalin hubungan kepada laki-laki yang sudah beristri? Masih banyak lelaki lajang yang lebih mapan dan tampan dari Mario, tetapi kenapa harus suamiku?"
"Dan untuk berapa lama lagi aku harus terluka?" Ada masih banyak lagi pertanyaan dari wanita itu, namun ia hanya bisa mengatakan kurang dari semuanya. Ia terus menangis dengan suasana hati yang kacau dan menutupi wajahnya karena tak sanggup menatap semuanya.
Namun ia tidak menyerah, untuk apa menyerah? Lili adalah istri sah dari Mario. Dan ia akan merebut kembali suaminya dari pelukan wanita ular itu. Sampai kapanpun ia tidak akan rela jika suaminya bersama Malika.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIRANI
RomanceHaliaca Putri Pranata, atau Lili, mengira pernikahannya dengan Mario akan menjadi babak baru yang indah dalam hidupnya. Namun, realitanya jauh lebih kejam. Begitu janji suci terucap, suaminya, Mario, langsung merobek semua harapan dengan kalimat din...
