Matahari mengeluarkan sinar dan api memberikan pelita.
Tepat dua belas bulan setelah kepergian Fitri membuat Haruman kehilangan dirinya yang sebenarnya. Benar-benar berubah, bukan Haruman yang dikenal semua orang, ramah dan penyayang. Sekarang dia menjadi lelaki yang cuek, pembenci dan tidak punya perasaan jauh sebelum kepergian Fitri. Karakternya memang berubah tetapi dalam hatinya masih sama, dia mencintai Fitri walau yang ia tahu bahwa wanita yang dicintainya itu terus membuat hati dan rindunya tersiksa.
Di ruang kerjanya saat ia sibuk berkutat dengan laptopnya, Mario kecil datang dengan senyuman lebarnya membuka pintu secara perlahan. Kaki-kaki kecilnya menyentuh lantai yang menjadi saksi bahwa dulu ada seorang wanita yang baik hati serta budi pekertinya pernah menginjakkan kakinya di tempat ini.
Tangan-tangan kecilnya meraba setiap benda yang dilewatinya, hingga dirinya sampai kepada sang ayah yang sedikit tak acuh dengannya.
"A-yah ... A-yah," panggilnya dengan suara khas balita yang meminta perhatian kepada ayahnya.
Tetapi panggilan dari putra tercintanya itu tidak dapat menarik perhatian Haruman. Balita itu menaikkan kaki-kaki mungilnya ke atas meja samping Haruman bekerja.
"I-bu, Bu-bu ..." celotehnya, mungkin dia sedang merindukan ibunya yang telah menghilang dari pelukannya.
Haruman menghentikan sejenak aktivitasnya kemudian melirik kepada putranya yang sedang asyik bermain sendirian tetapi lelaki itu tidak sadar bahwa putranya akan celaka tanpa pengawasannya.
BRUKK !!!
Lelaki sibuk itu terkejut setelah beberapa saat kemudian dia baru tersadar bahwa putranya, Mario, sudah tergeletak dengan menahan rasa sakit akibat benturan karena balita itu terjatuh dari meja kayu.
Suara tangisan dan rengekan Mario membuat kepala Haruman menadi pening, nafasnya tidak beraturan dan kulitnya mengeluarkan keringat dingin hingga beberapa kali ia memegang kepalanya sembari menyeka peluh di dahinya.
Dia mengingat kenangannya bersama Fitri. Dari awal pertemuan hingga akhir perpisahan. Yang dirinya tahu adalah Fitri meninggalkan Haruman karena harta sebab itulah yang dikatakan oleh Ruby--Sahabat Fitri padanya.
Suara tangisan bayi masih jelas terdengar ditelinga nya saat dia menunggu dan menguatkan Fitri untuk mengeluarkan bayinya agar bisa melihat indahnya dunia. Hingga pintu terbuka dengan sangat keras membuat Haruman tersadar dari kenangan-kenangan yang berhasil mengobrak-abrik hatinya.
"Cucuku ..." teriak Jannet--Ibu Haruman. Dia menggendong Mario kecil yang terus menangis dan kemudian dengan cepat wanita itu membawa Mario menuju mobilnya untuk memeriksa balita itu di rumah sakit terdekat.
Jagra--Ayah Haruman menampar putranya itu dengan sangat keras. Bagaimana seorang ayah bisa diam melihat anaknya menjerit kesakitan? Inilah salahnya membiarkan putra tunggalnya itu mengurusi balita yang usianya baru menginjak tiga tahun sendirian. Untung saja Jagra dan Jannet berhasil datang tepat waktu sebelum balita malang itu bertemu dengan ibunya.
"Ayah tidak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan hari ini, Haruman."
"Ayah sangat berharap kamu menjadi lelaki yang bijak dan bertanggung jawab walau sekarang kamu merangkap dua peran sekaligus untuk Mario. Kamu bersikeras untuk tidak mencari wanita lagi untuk membantu merawat dan membesarkan Mario karena Ayah tahu bahwa sebenci-bencinya dirimu dengan Fitri, kamu tidak akan pernah bisa mengganti wanita yang kau cintai itu dengan siapapun." jelas Jagra menasihati Haruman yang masih terdiam atas apa yang terjadi malam ini.
Dalam hati Haruman ia benar-benar menyesal telah abai kepada anaknya tetapi ia juga sadar bahwa ia tidak bisa begini terus. Di sisi lain dia juga memerankan sosok ibu untuk putranya dan di sisi lain dia juga harus menyelesaikan tugasnya sebagai seorang ayah untuk mencari nafkah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIRANI
RomanceHaliaca Putri Pranata, atau Lili, mengira pernikahannya dengan Mario akan menjadi babak baru yang indah dalam hidupnya. Namun, realitanya jauh lebih kejam. Begitu janji suci terucap, suaminya, Mario, langsung merobek semua harapan dengan kalimat din...
