Bagian 24 - Cahaya

873 53 4
                                        

Saat dulu kau di dekatku, duniaku penuh warna dan bercahaya.

Di rumah sederhana itu, Lili menemukan tempat berteduh—perlindungan dari teriknya matahari siang dan dinginnya malam. Bersama Frika, ia merasakan kenyamanan yang sudah lama hilang dari hidupnya. Dinding-dinding rumah itu mungkin sederhana, namun bagi Lili, justru di sanalah ia bisa bernapas lega tanpa harus terus-menerus menundukkan kepala di bawah bayang-bayang Mario.

Meski begitu, hatinya tak pernah benar-benar tenang. Ada rasa was-was yang terus mengintai, seperti bayangan gelap yang mengikuti ke mana pun ia melangkah. Lili tahu persis, Mario tidak akan pernah berhenti. Lelaki itu akan terus mencarinya, menelusuri setiap jejak, hingga pada akhirnya ia menemukannya. Pikiran itu membuat dadanya sesak. Ia ingin bebas, tapi bayangan Mario selalu saja menjadi rantai yang mengekangnya.

Dalam diam, Lili menggenggam tangannya sendiri. Ia berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Di rumah ini ia aman—untuk sementara. Namun ia juga sadar, badai bisa datang kapan saja.

"Bu Frika." panggil Lili kepada bu Frika yang sedang memasukan adonan roti ke oven.

"Iya, Putriku."

"Aroma yang sangat lezat membuatku teringat dengan masa kecilku."

"Aku juga merindukan saat-saat bersama denganmu, Bunga-ku, Putriku."

"Kalau ibu Frika merindukannya, kenapa sudah lama tidak ke kota?"

"Karena ibu merasa lebih nyaman ketika berada di desa, Sayang. Apakah sehabis ini kamu akan pergi ke kota?"

"Sepertinya begitu. Aku tidak akan meninggalkan keluargaku di sana, ada masih banyak tugas yang harus kuselesaikan dan masih ada banyak orang yang membutuhkan diriku."

Bu Frika tersenyum manis, "Hatimu memang semurni embun di pagi hari, Sayang." Lili terdiam mencoba mengingat-ingat kembali kalimat yang diucapkan bu Frika sepertinya ia sangat kenal dengan kata-kata itu.

"Baiklah. Aku akan bersiap-siap dulu, Bu."

***

Mansion Relegan benar-benar seperti kehancuran yang perlahan-lahan mulai merambat dari dinding-dinding bersih yang retak. Mulai dari hilangnya Lili, Mario yang tidak bisa dikendalikan, Pandu yang menghambur-hamburkan uang perusahaan dan Gania yang mulai bertindak buruk atas dirinya sendiri.

Sejujurnya dalam hati Haruman, lelaki itu menangis tetapi berusaha tegar untuk memperkuat keluarganya. Andai, andai saja dulu kekasihnya tidak meninggalkan dirinya maka mungkin pernikahannya dengan Ruby itu tidak akan pernah terjadi.

"Amaya, bagaimana keadaan cucu perempuanku? Apakah dia sudah merasa lebih baik?" tanya Haruman kepada Amaya yang baru saja keluar dari kamar Gania.

"Putriku keadaannya sudah lebih baik dari yang sebelumnya tetapi masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka-lukanya." mendengar penuturan dari Amaya, lelaki setengah paruh baya itu menganggukkan kepalanya pertanda mengerti dengan semua yang dikatakan oleh Amaya kemudian wanita itu berlalu.

Haruman merenungi nasibnya, apakah selamanya akan seperti ini atau akan berubah menjadi lebih baik?

"Entah apa yang pernah kuperbuat hingga diriku dan anak cucuku merasakan kepedihan seperti ini."

"Pandu, aku tidak pernah mendidik anak itu untuk menjadi seperti ini, yang kulakukan untukmu hanya untuk kebaikan dirimu, Nak. Tetapi kamu yang membuat keluargamu menjadi hancur seperti ini."

Haruman berjalan menuju halaman depan di sana ia tidak tega melihat putranya yang begitu kacau, ia pun kini turun tangan setelah berkali-kali ia berpikir untuk membiarkan Mario menangani permasalahan keluarganya sendiri. Ia bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh putra sulungnya itu, sakit ketika ditinggalkan begitu saja. Meski sudah bertahun-tahun yang lalu, sakit itu masih terasa segar dan sangat jelas ia rasakan.

TIRANICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang