Berhenti. Jangan pernah membawa masa lalu jika kamu sedang bersama masa depan.
Pagi itu, pernikahan Lalea digelar. Wanita itu tampak mempesona dalam balutan gaun biru toska yang ia pilih sendiri. Gaun itu sengaja dibuat sedikit longgar, menyembunyikan perutnya yang kian membesar. Namun, meski kecantikan wajahnya tak terbantahkan, tak ada secercah bahagia yang terpancar darinya. Senyum yang seharusnya menghiasi pengantin di hari sakralnya sama sekali tidak tampak. Seperti Ruby dulu, Lalea merasakan luka yang sama—dijebak dalam pernikahan tanpa cinta.
Tidak seorang pun bertanya apakah gadis kecil keluarga Relegan itu bahagia. Tidak ada yang peduli apakah ini pernikahan yang ia impikan, atau apakah hatinya berdebar dengan rasa yang sama seperti gadis-gadis lain saat melangkah ke pelaminan.
Hari pertama ia menapakkan kaki di Mansion Relegan, semua berjalan sesuai harapannya: mendapat hati sang Tuan, hidup bergelimang harta, dan menempati rumah megah yang berkilau bak istana. Lantai marmer yang berkilat memantulkan langkah anggunnya, gaun pengantin yang sedikit ia jinjing, dan senyum yang tak pernah pudar sejak ijab kabul. Pernikahannya dengan lelaki pujaan hatinya berlangsung cepat, seakan dunia bersekongkol memenuhi mimpinya.
Namun, di balik keheningan rumah besar itu, kenyataan berbeda menunggu. Bayi mungil sahabatnya berada jauh di kediaman mertua, sementara sang suami pergi entah ke mana. Lalea tak peduli—selama mimpinya masih erat dalam genggaman.
Malam itu, ia membuka pintu kamar dengan perlahan. Cahaya remang menyoroti ruangan, menampakkan sebuah lemari besar di hadapannya. Daun pintu lemari itu terbuka, memperlihatkan sebuah peti berisi gaun pengantin putih. Lalea mendekat, tangannya bergetar ketika menarik gaun itu keluar. Ia menggenggamnya begitu erat, seakan meremas kenangan yang tak ingin ia biarkan hidup kembali.
Bayangan masa lalu menyesak di kepalanya.
"Sungguh, aku sangat bahagia atas pernikahan sahabatku."
Gaun bergaya Empire berwarna putih itu dulu tampak begitu sempurna melekat pada tubuh mungil Fitri. Kedua keluarga sepakat memilih tema silver-gold, menjadikan pesta itu tampak mewah dan megah. Fitri begitu beruntung—menjadi menantu pewaris tunggal keluarga Relegan.
Napas Lalea memburu. Ia buru-buru keluar dari kamar, membawa gaun itu bersamanya. Di halaman belakang Mansion, ia mengumpulkan ranting-ranting kering, lalu menyalakan pemantik. Api kecil itu segera membesar, merah menyala seperti bara amarahnya. Dengan tanpa ragu, ia melemparkan gaun itu ke dalam kobaran api.
Nyala api menjilat kain putih yang perlahan berubah menjadi abu. Lalea menatapnya tanpa berkedip, hatinya penuh dengan kepuasan sekaligus dendam yang tak terucap.
"Api ini akan membakar semuanya..." bisiknya lirih, "termasuk kenangan terakhir tentangmu di rumah ini."
***
Ruby menghampiri Lalea yang sedang termangu duduk di sisi kasur, apakah yang sedang ia lihat seperti déjà vu? Putri kecilnya itu mengingatkannya pada puluhan tahun yang lalu saat dirinya terlibat dalam rumitnya perasaan cinta.
"Dirimu sangat terlihat cantik, sama seperti Ibu waktu menikah dahulu." tuturnya sembari menatap wajah putrinya.
Dirimu memang sangat mirip dengan diriku, Lalea. Tetapi Ibu harap nasibmu tidak akan seredup Ibu.
Ruby terdiam untuk beberapa saat sebelum melanjutkan kata-katanya, "Apa dirimu siap dengan semua ini?"
"Bagaimana menurut Ibu? Apakah putrimu ini siap?" tidak menjawab perkataan ibunya melainkan sebaliknya gadis itu memberi Ruby pertanyaan. Bicaranya sangat lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIRANI
RomansaHaliaca Putri Pranata, atau Lili, mengira pernikahannya dengan Mario akan menjadi babak baru yang indah dalam hidupnya. Namun, realitanya jauh lebih kejam. Begitu janji suci terucap, suaminya, Mario, langsung merobek semua harapan dengan kalimat din...
