Bagian 8 - Lampu dari kegelapan

1.8K 114 5
                                        

Tidak ada yang bisa menyakitimu selagi aku selalu ada disampingmu.

Fajar telah tiba, seluruh anggota rumah sedang sarapan bersama. Mario sudah kembali dengan perasaan yang lebih tenang dari sebelumnya. Ia duduk di meja makan, namun kursi di depannya kosong.

Hening. Hanya ada suara dentingan alat makan.

Mega, kepala asisten rumah tangga kediaman Relegan, merasa kasihan kepada Lili. Baru beberapa hari di rumah besar ini, sudah banyak hal buruk yang terjadi padanya. Mega membawa nampan berisi sup kaldu dengan beberapa makanan dan segelas susu hangat untuk Lili.

"Permisi,"

"Nak, ini bu Mega, tolong bukalah pintu, ayo sarapan dulu." pinta Mega mencoba memberikan sarapan kepada gadis malang itu.

Amaya yang melihat bu Mega, ia pun mencoba membujuk kakak iparnya itu untuk makan, jika tidak maka kesehatan wanita itu akan menurun. Sebenarnya Amaya sangat mempercayai Lili karena wanita itu tidak mungkin melakukan hal seburuk itu.

"Kakak, ini aku Amaya, makan dulu kak sarapannya, kalau gak mau setidaknya minumlah segelas susu hangat ini." Yang didapatkan Amaya sama halnya dengan Mega, tak ada perubahan dari wanita itu. Mega memberi tahu Lili bahwa jika ia lapar, makanan sudah tersedia di dapur. Amaya dan Mega pergi di depan kamar wanita itu dan membiarkannya tenang.

Dari pagi hingga sore Lili belum juga keluar dari kamar, beberapa anggota keluarga sangat mengkhawatirkan keadaan dirinya.

Petang pun datang dengan warna jingganya, Lili keluar dari kamarnya untuk menghirup udara segar di halaman depan Kediaman Relegan. Ia keluar saat gelap karena dari pagi hingga malam keluarga itu berkumpul, dan tidak ada yang peduli padanya. Mereka hanya melihat kasta.

'Keluarga bangsawan tidak akan pernah serasi dengan pelayan'.

Baru sebentar ia berjalan-jalan, tangannya sudah dicekal oleh seseorang. Pandu mencoba menariknya dan Lili berusaha melawan namun tenaga Lili tidak sebanding kuatnya dengan lelaki itu. Belum usai masalah tadi malam, kini Pandu kembali datang tanpa rasa jera.

Lelaki itu terlihat berani menyudutkan Lili di tembok dekat gerbang utama yang gelap. Pandu mencoba membelai wajah Lili dan perlahan mendekatkan wajahnya. Lelaki itu tampak membisikkan sesuatu ke arah wanita yang sedang digodanya itu.

"Jika semulanya aku duluan yang bertemu dengan dirimu, maka aku akan sangat beruntung jika kamu menjadi istriku. Teman hidupku."

"Sayang gadis cantik dengan bibir ranum seperti dirimu di sia-siakan oleh kakakku."

Zio yang baru saja pulang dengan kesibukannya, tidak sengaja melihat kakaknya berulah lagi hingga langsung mendorongnya jatuh tersungkur dari hadapan Lili yang meringkuk ketakutan.

Suara ribut-ribut itu membuat seluruh keluarga turun ke halaman depan begitu juga Mario.

"Sudah Kak, sudah cukup!"

"Aku sudah diam melihat Lili yang berulangkali dirimu coba untuk melecehkannya dan demi ketentraman rumah tanggamu aku diam."

"Sekarang, lihat wanita malang ini diselimuti ketakutan." bentak Zio yang membuat Pandu ingin menghajarnya. Namun tangannya dicekal oleh Mario.

Mario tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Pandu. Gania dan Gazza yang masih di bawah umur pun di bawa pergi untuk menonton televisi oleh Mega.

Mario meminta Lili menjelaskan namun tak ada kata yang terucap dari bibir manisnya.

"Lili!" bentak Mario membuat wanita itu tersadar dari lamunannya, ia memikirkan apakah suaminya akan percaya jika ia menjelaskan segalanya tentang hari ini? Jika semalam ia meninggalkan rumah bagaimana dengan hari ini?

TIRANICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang