Bagian 26 - Setelah duka ada suka

867 46 7
                                        

Yang pergi mungkin akan pulang dan yang hilang mungkin tidak akan pernah kembali.


Sunyi mengisi ruang yang dulu ditempati oleh kebahagiaan.
Ratu malam menghilang tak menampakkan sinarnya, Gelap Gulita.
Kuncup bungaku telah bermekaran, semerbak wanginya menjadi hal yang paling kusukai.

Wajahmu sangat elok wahai bungaku, hatimu sebersih embun di pagi hari.
Rambutmu sewangi mawar dan kelopak matamu bagaikan bunga teratai.

Aku merasa heran, terkadang hatimu sedingin es.
Kemudian dengan secepat kilat hatimu berubah menjadi panas seperti api.

Cerita kita belum tuntas karena cerita kita jelas baru di mulai, cinta tanpa akhir hanya ada awal. Sebab awal kedatanganmu adalah awal kebahagiaanku tidak akan pernah ada ujungnya sampai kapan pun. Mencintai dirimu adalah tantangan terbesar dalam hidupmu, menolak kenyataan untuk dicintai dan mencintai.

Selalu, bahkan senyuman yang benar-benar menandakan kamu bahagia itu memang tidak pernah terukir di bibir manis mu sejak pertama kali kamu bertemu denganku dan menginjakkan kaki di istanaku. Karena kebahagiaan di rumah tempatku dan dirimu berada adalah fana.

"Setelah malam ini, kamu tidak akan pernah melupakannya."

Ranjang yang bergetar dan suara jeritan tengah malam.

***

Rumah yang mewah, halaman yang besar, dinding yang kokoh berdiri tegak di lahan seluas puluhan hektar. Banyak makanan yang lezat, tranportasi yang memadai, baju elegan dan ponsel yang bermerk high class tidak menjamin adanya kebahagiaan itu sendiri.

"Bagaimana dengan tidurmu?" tanya Mario dengan suara sedikit serak khas seperti orang yang baru bangun tidur mencoba mengawali pembicaraan. Suasana lebih canggung dari sebelumnya sebab untuk pertama kalinya Lili berada satu ranjang dengan suaminya, Mario.

Tidak menjawab perkataan Mario melainkan wanita itu bersandar di dipan yang terbuat dari kayu jati dan meneguk segelas air putih yang berada di nakas.

"Entahlah. Dirimu semalam terus bergumam hingga aku tidak bisa memejamkan mata dan bergerak dengan leluasa."

"Maaf."

"Tidak apa, Mas."

Mario memposisikan tubuhnya yang awalnya tertidur kini terduduk dan menyandar di dipan sama halnya dengan Lili.

"Lili, maaf untuk semuanya. Kebahagiaan yang kamu impikan tidak pernah kamu dapat dariku, cinta yang kamu beri secara tulus tidak pernah kubalas. Kamu inginkan cintaku tapi aku selalu mengabaikan dirimu, memaki mu dan mengkhianati cintamu."

Jari-jarinya menyentuh pipi wanita yang ada di sampingnya itu, menyeka bulir bening yang keluar dari pelupuk mata istrinya itu. "Jangan pernah menangis, Sayang. Hatiku sangat sakit jika melihat matamu yang indah mengeluarkan air mata secara sia-sia."

Lili memegang erat tangan Mario yang berada di pipinya, "Bagaimana aku tidak menangis jika dirimu adalah salah satu alasanku menangis?"

"Aku salah, maaf. Silakan hukum aku jika diriku membuatmu terluka agar aku bisa merasakan pedih yang kau rasakan."

Lili memeluk Mario karena dia tidak ingin melanjutkan kata-katanya yang membuat suasana semakin mellow.

"Kita berdua berada di dalam satu pelukan, seketika beban dalam hati dan pikiranku berkurang. Di mana pun dirimu berada, disitulah aku berada. Kita tidak akan pernah pergi, meninggalkan satu sama lain sebab kita adalah satu."

Kamu harus bersabar sedikit lagi, Mas. Semua yang kamu kira salah akan terungkap kebenarannya. Orang yang selama ini dirimu hormati adalah orang yang paling menginginkan kehancuranmu. Dia yang memanipulasi pikiranmu untuk membenci seseorang yang telah mengandung dan bertaruh nyawa melahirkan dirimu. Dia adalah serigala berbulu domba.

TIRANICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang