Bagian 15 - Palsu

1.2K 67 0
                                        

Kamu bisa saja menyembunyikan masa lalu dan menutupnya secara rapat, tetapi kamu tidak bisa menyembunyikan kebenaran walau dirimu telah berlari sejauh mungkin.

Wanita itu tampak semakin mempesona ketika riasan lembut menghiasi wajahnya dan gaun pengantin membalut tubuhnya anggun. Di depan cermin, senyum tak henti merekah, seakan ia sedang bercakap dengan bayangannya sendiri. Dari jendela yang terbuka, angin sepoi-sepoi menyapa, menyusup lembut hingga menimbulkan desiran halus di tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha sekuat tenaga menenangkannya.

Di balik senyum itu, hatinya bergetar hebat. Ada bahagia yang menyelimuti, namun juga kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia teringat perjalanan panjang yang membawanya ke hari ini—hari di mana semua doa, pengorbanan, dan air mata seolah menemukan jawabannya. "Inikah benar jalan yang kupilih?" bisiknya dalam hati. Bayangan masa depan menari di pelupuk matanya, dan ia hanya bisa berharap bahwa kebahagiaan ini bukanlah mimpi sesaat.

"Sungguh, aku sangat bahagia atas pernikahan sahabatku." Ruby memulai pembicaraan. Sejujurnya ia tidak ingin melihat Fitri menikah dengan sang pujaan hatinya, tetapi apa boleh buat? Jika takdir berkata seperti itu.

Fitri memakai gaun dari perancang busana internasional yang dipilihkan langsung oleh keluarga Haruman.

Gaun dengan Empire Style berwarna putih sangat cocok pada tubuh mungil wanita itu. Kedua keluarga itu sepakat untuk memilih tema dekorasi pernikahan bernuansa silver gold. Sungguh beruntung sekali Fitri menjadi menantu dari pewaris tunggal keluarga Relegan.

"Ruby,"

"Aku gak tahu harus melakukan apa nanti. Bagaimana aku memulai obrolan dengannya?"

"Oh, tidak. Ini sangat mudah, Fitri."

"Ada banyak topik obrolan. Tidak perlu dipikirkan." Ruby memeluk Fitri dari belakang. Wajah mereka berdua terlihat di cermin, banyak yang mengira mereka adalah saudari kembar tetapi tidak.

Fitri tersenyum tipis. "Apa nanti selepas aku menikah kita akan bisa bermain bersama seperti dulu? Meluangkan akhir pekan untuk berbagi cerita di tepi kolam angsa."

"Ya, tentu. Kita akan selalu bersama menjadi sahabat sejati, kamu dan aku adalah saudari yang tidak akan pernah terpisah, Fitri."

Kedua sahabat itu terus tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan masing-masing, entah benar-benar tertawa bahagia atau apa. Mereka tidak tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya, mungkinkah ini akhir kebahagiaan tulus mereka?

Mencintai memang tidak salah tetapi yang salah adalah ketika seseorang mengambil paksa cinta tanpa tahu maknanya.

Vina--ibu Fitri telah memanggil putrinya, ia menghampiri Fitri ketika hendak turun.

"Sayang, mari kita ke bawah, semua tamu telah menunggu cantiknya putriku."

"Baik, Bu."

"Fitri?" panggilan Ruby membuat Fitri menoleh ke arahnya.

"Ada apa, Ruby?"

Ruby menyunggingkan senyuman. "Tidak, aku ingin ke toilet sebentar. Kamu bisa turun duluan, aku akan segera menyusul dirimu."

"Aku akan semakin gugup jika kamu tidak ada di sampingku, Ruby." Fitri mengernyitkan keningnya. Jika saat ini dia sudah gugup bagaimana jika nanti ia berhadapan dengan lelaki yang bertemu dengannya karena kesalahpahaman itu dulu?

"Aku akan segera kembali, Fitri. Tenanglah ada ibumu yang terus berada di sampingmu, Fitri. Benar 'kan, bu Vina?"

"Tentu, nak Ruby."

TIRANICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang