Kalista, gadis dingin dan enggan bersosialisasi harus berurusan dengan pria tengil seantero Kampus Nirwana karena menolaknya, ia harus menerima perlakuan tak menyenangkan dari penggemar berat si pria yang terkenal sebagai pangeran kampus.
"Pangeran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gimana kuliah kalian? Semuanya berjalan lancar kan?"
"Iya dong Pa, gini-gini nilai Marvin gak akan malu-maluin"
"Tapi tetap aja lo gak bisa ngalahin kepinteran gue Bang" ledek Jeno.
"Ish sialan, Papa bakalan lama disini?"
Pria berkulit putih itu berpikir, seulas senyum tercetak di wajahnya.
"Jangan pergi-pergian mulu Pa, Jeno kangen"
"Ck, udah besar juga" sindir Marvin tapi sang adik tak menghiraukan. Ia masih menatap lekat wajah ayahnya menunggu jawaban yang akan diberikan olehnya.
"Papa usahakan"
"Pa, besok kita mau ke makam Mama dan Papa Kai, Papa mau ikut juga? Ada Papa Chandra dan Mama Egi juga"
Pria itu terdiam, entah kenapa hatinya selalu berdenyut nyeri tiap kali mendengar kenyataan jika wanita pujaannya telah tiada. Tepat lima belas tahun ia pergi tapi rasa nyeri yang bersemayam di dalam hatinya tetap sama, ia masih belum rela terlebih lagi dengan hilangnya Hana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah keluar dari penjara Sean kembali menata hidupnya yang hancur dan berantakan. Ia kembali memulai semuanya dari awal, perusahaannya, hubungan keluarganya semua ia perbaiki dari awal. Setelah kepergian Krystal, Sean tak pernah terlihat untuk mencari pengganti wanita yang memenuhi ruang di hatinya fokusnya hanya satu, hanya untuk buah cinta mereka yang Krystal titipkan padanya. Ia beruntung Jeno lahir, dengan begitu garis keturannya tidak akan putus, bukan?