Kalista, gadis dingin dan enggan bersosialisasi harus berurusan dengan pria tengil seantero Kampus Nirwana karena menolaknya, ia harus menerima perlakuan tak menyenangkan dari penggemar berat si pria yang terkenal sebagai pangeran kampus.
"Pangeran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yuri menata beberapa makanan di meja makan, ya meskipun hanya roti bakar yang sebagian sisinya gosong serta nasi goreng yang dapat dipastikan jika rasanya pasti tak karuan. Sedari tadi putri bungsunya sudah duduk di meja makan, ia hanya melihatnya tanpa berniat untuk memakannya.
"Sarapan dulu dong Yer"
Yerin mengangguk pasrah, ia memilih mengambil roti bakar yang tidak terlalu gosong.
"Pangeran tidur belum bangun juga?" tanya ibunya saat menuangkan susu untuk Yerin.
"Pangeran tidur? Mana ada! Dia itu beruang buluk Ma yang bulunya hampir rontok semua haha"
"Enak aja lo" sambar seorang pria bertubuh tegap sambil menoyor kepala adiknya.
Sang adik hanya melotot sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tumben udah rapi kamu, biasanya jam segini masih ileran, Bang?"
"Setiap orang berhak untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi Mamaku sayang" jawabnya sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Ih jijik" sambar Yerin menatap geli pada kakaknya.
"Ya udah dimakan dulu sarapannya"
"KALAN AYO BURUAN BERANGKAT, GUE UDAH SIAP"
Belum juga pria itu duduk untuk memakan sarapannya, suara menggelegar terdengar begitu nyaring hingga memekakkan telinga.
"Astaga Bayu, dateng ke rumah orang bukannya ucapin salam malah teriakan gitu kalau Papanya Kalan ada abis kamu diceramahin sama dia loh" ucap Yuri memperingatkan.
Bayu hanya terkekeh sambil mengelus tengkuknya.
"Maaf Tante, abis nih kunyuk suka lama. Padahal katanya kita disuruh tunggu di luar aja nanti dia nyamperin eh tapi apaan"
"Abang juga baru bangun Kak Bay"
"Ih Yerin jangan manggil Say gitu ah jadi malu ada calon mertua sama kakak ipar jangan terlalu frontal atuh bibeh"
Yerin hanya melotot, telinga teman abangnya sepertinya hanya dijadikan aksesoris yang tidak berguna.
"Yey najis, amit-amit jabang bayi punya adik ipar kayak lo"