Kalista, gadis dingin dan enggan bersosialisasi harus berurusan dengan pria tengil seantero Kampus Nirwana karena menolaknya, ia harus menerima perlakuan tak menyenangkan dari penggemar berat si pria yang terkenal sebagai pangeran kampus.
"Pangeran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenapa kalian malah membiarkannya pergi? Bertahun-tahun aku mencarinya dan sekarang saat ia sudah kembali kalian membiarkannya pergi begitu saja? Kalian benar-benar jahat"
Theo tak dapat lagi menahan amarahnya, ia benar-benar tak menyangka jika keluarganya sendiri yang malah mendorong Hana untuk pergi padahal baru sebentar saja ia bisa merasakan memeluk kakaknya yang selama ini hilang. Atau mungkin itu berarti jika hanya ia yang merindukan Hana dan merasa sangat kehilangan?
"Kak, dia masih syok. Kita gak bisa memaksa dia untuk tetap tinggal disini" sambar Jeno dan setelahnya Theo menatap sinis padanya.
"Dari ucapanmu aku tersadar jika memang watak licik pria itu benar-benar kau warisi dengan sempurna"
"THEO"
"Kenapa Papa? Aku mengatakan hal yang sebenarnya, anak kecil itu benar-benar mewarisi sifat licik pria perebut itu, kan? Pria itu yang membuat semuanya kacau, andai ia tak hadir di tengah-tengah kebahagiaan keluargaku mungkin semua tak akan menjadi seperti ini"
"Kak"
Theo menahan Marvin untuk berbicara.
"Tidak usah membelanya Marvin, aku tau kalau kau juga berpihak padanya. Apa kau lupa jika karena pria itu keluarga kita terberai?"
Theo semakin meluapkan kesedihannya, pria itu memang belum bisa menerima kenyataan tentang hubungan kedua orang tuanya yang sempat kandas karena kehadiran Sean. Tapi kehadiran Sean bukan untuk membuat keluarga mereka terberai, pria itu bahkan sangat menyayangi Hana dan Marvin seperti putranya sendiri bahkan Theo yang dulu mereka anggap sudah tiada, Sean juga sangat menyayanginya. Tapi bagi Theo semuanya salah, baginya kehadiran Sean di dalam kehidupan ibunya merupakan malapetaka.
"Theo kamu mau kemana?" tanya Chandra saat melihat pria itu berlari mengambil kunci mobil miliknya.
"Tenangin pikiran, kalau disini kepalaku akan semakin sakit"
Mereka saling menatap, tak mengerti dengan sikap Theo yang keras kepala.
"Kak Theo benar, hadirnya aku malah membuat semuanya semakin buruk. Kenapa Mama harus melahirkan aku? Kenapa Mama malah menerima Papa Sean masuk ke dalam hidupnya. Kak Theo benar, aku sumber masalahnya"