Ryuzaki menguap lebar, dia menggosok matanya dan tersenyum. Setelah pembicaraannya dengan Light kemarin, perasaannya sudah lebih tenang sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Tok...tok...tok... "Ryuzaki-nii? Kau sudah bangun?" suara Beyond terdengar dari balik pintu kamar Ryuzaki. "Iya, aku sudah bangun." ujar Ryuzaki seraya berjalan menuju pintu lalu membukanya. Beyond berdiri tegak didepan Ryuzaki sambil membawa nampan berwarna perak. "Pagi Beyond-kun." Sapa Ryuzaki. "Pagi Ryuzaki-nii." Beyond tersenyum sambil mengecup puncak kepala kakaknya yang sedikit lebih pendek darinya itu. Ryuzaki melirik nampan ditangan Beyond. Roti bakar dengan selai coklat dan stoberi, lalu dua gelas susu. "Mau sarapan bersamaku?" tanya Beyond sembari melangkah memasuki kamar Ryuzaki. "Boleh juga." jawab Ryuzaki yang lalu mengikuti Beyond duduk dikasur. Ryuzaki mencomot roti coklat dan memakannya dengan lahap. "Pelan-pelan saja makannya. Nanti tersedak loh!" baru saja Beyond berujar, Ryuzaki sudah tersedak, "Uhuk...Uhuk...Uhuk!" Wajah Ryuzaki membiru, dia memegangi lehernya. Beyond dengan panik menyerahkan susu pada Ryuzaki, Ryuzaki meraih susu itu dan meminumnya sampai habis. Beyond menghela nafas lega, lalu wajahnya berubah kesal, "Baru saja dinasihati, Ryuzaki-nii mamang kekanak-kanakan!" Ryuzaki hanya tersenyum malu. "Tau enggak B, kemarin aku sempat berbicara dengan Light." Beyond melirik kakaknya sekilas, "Berbicara soal apa?" tanyanya datar. Ryuzaki tersenyum lebar, "Ada deh! Tapi yang jelas kau tidak perlu bersandiwara pacaran denganku lagi. Aku tidak mau merepotkanmu. Pasti tidak enak dipaksa berpacaran dengan orang yang tidak benar-benar kau sayangi." Beyond membeku, menatap tajam kakaknya, lalu beranjak pergi. "B mau kemana?" tanya Ryuzaki bingung. Beyond menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar Ryuzaki. "Jika Ryu-nii menganggap bahwa lebih baik begitu, mugkin memang lebih baik kita hentikan saja semua sandiwara ini. Tapi, aku tidak keberatan berpacaran dengan Ryuzaki-nii, itu karena aku sayang Ryuzaki-nii. Jangan pernah Ryu-nii menganggap perasaanku pada Ryu-nii adalah sebuah sandiwara. aku permisi dulu." BRAAK! Beyond berjalan keluar seraya membanting pintu. "Beyond?"
Ryuzaki memakai mantel dan sarung tangannya. Kali ini dia akan mengunjungi rumah Light, tentu saja tanpa sepengetahuan Luna. "RYUZAKI-SAMA! LIGHT-SAMA SUDAH MENUNGGU!" Teriakan Watari menggelegar. Ryuzaki tersenyum, "SEBENTAR WATARI!" Ryuzaki meraih syal jingga diatas tempat tidurnya, lalu memakainya.
Ryuzaki berjalan menuruni tanggan dengan tergesa, tidak mau membuat Light menunggu terlalu lama. "Maaf, sudah lama nunggunya?" tanya Ryuzaki seraya mendekati Light dan Watari yang sedang bercakap-cakap. Light memandang Ryuzaki dan tersenyum, "Belum terlalu lama. Mau pergi sekarang?" tanya Light. Ryuzaki mengangguk dengan pipi memerah. Light tertawa geli lalu mencubit pelan pipi uke-nya itu, "Kau memang terlalu imut. Ya sudah, ayo pergi. Watari-san juga ikut kan?" ujar Light yang menatap Watari dengan pandangan bertanya. Watari mengangguk, "Tentu saja Light-sama." Light mengangguk puas, lalu kerutan muncul didahinya, "Beyond mana? Dia tidak ikut?" "Maaf Light-sama. Beyond-sama tidak mau ikut karena tidak enak badan." Light tersenyum maklum, "Baiklah. Ayo pergi Ryu." Light menoleh kearah Ryuzaki lalu menaikkan sebelah alisnya. Ryuzaki berdiri diam dengan wajah seolah dia sedang berpikir keras tentang sesuatu. "Ryu?" Panggil Light khawatir. Dia meraih bahu ukenya itu lalu mengguncangnya pelan. Ryuzaki tersadar, lalu mengerjapkan matanya. Ia mendongkrak menatap Light, dan tersenyum, "Aku tidak apa-apa kok. Ayo pergi." Ryuzaki menarik lengan meraih lengan Light dan memeluknya erat.
Kediaman Yagami adalah sebuah rumah bertingkat dua dengan model klasik. Rumahnya memang tidak sebesar rumah Ryuzaki. Tapi Ryuzaki bisa merasakan aura nyaman saat berada didalam rumah ini. Saat pertama memasuki rumah ini, ibu Light, ayah Light dan adik Light yang bernama Sayu langsung menyambut mereka dengan hangat. Apa lagi ibu Light, dia langsung memeluk Ryuzaki dan menciumi pipinya saat pertama kali melihat Ryuzaki.
"Nak Ryu, silahkan nambah lagi makannya." Ujar ibu Light dengan penuh senyum. Ryuzaki hanya tersenyum kikuk lalu mengangguk. Ryuzaki belum terbiasa diperhatikan sebegitunya oleh seseorang. Ayah Light tersenyum, "Sayang, jangan begitu. Ryuzaki-kun jadi merasa tidak nyaman kan?" "Soichiro-kun tidak usah ikut-ikut! Wajar kan, aku memperhatikan Nak Ryuzaki. Bagaimana pun dia kan calon menantu kita!" Ujar ibu Light dengan wajah sebal. Pipi Ryuzaki memerah malu, Light yang duduk disebelah Ryuzaki tertawa kecil, dia lalu meraih tangan Ryuzaki dan mengecupnya pelan. "Jadi kapan Ryuzaki-nii dan onii-chan pacaran?" Tanya Sayu dengan wajah menggoda. Ryuzaki hanya speechless, "Anak kecil diam saja! Mending kau main saja sana!" ujar Light dengan gesture mengusir. Sayu mem-poutkan bibirnya, "Dasar baka nii-chan." gumannya pelan. Light berdiri, hendak menjitak Sayu, "Apa kau bi..." "Light-kun tidak boleh begitu pada Sayu-chan. Light-kun kan kakaknya, jadi harus mengalah!" Ryuzaki berujar dengan nada sok dewasa. Light hanya mengangguk pasrah dan kembali terduduk. Sayu tersenyum penuh kemenangan, "Aku lebih suka Ryu-nii dari pada si Luna itu! Aku lega, nii-chan lebih memilih Ryu-nii. Kau dan Luna sudah putus kan nii-chan?" Tiba-tiba ruangan itu hening. Orang-orang saling berpandangan dalam hening, sepertinya orang tua Light sudah mengetahui masalah Luna itu. Hingga akhirnya keheningan itu terpecah saat Light menjitak sayu, "Diamlah!" Ryuzaki menatap Light dan menggenggam tangannya erat, Light mengecup dahi Ryuzaki, "Tenanglah Ryu. Aku tidak akan membiarkan hal-hal yang buruk terjadi. Apa pun yang terjadi, aku akan berusaha menyingkirkan Luna untuk menyelamatkan hubungan kita." "Oh ya mana Watari?" tanya Ryuzaki tiba-tiba. "Dia pamit sebentar. Katanya mau mengambil sesuatu."
Begitu selesai makan malam, ibu Light segera menarik Ryuzaki keruang tamu. Wanita paruh baya itu dengan semangat menunjukkan berbagai foto masa kecil Light. Tak jarang Ryuzaki dibuat tertawa karena tingkah wanita itu atau pun karena foto-foto konyol Light. "Ini saat Light lertama kali masuk TK. Dia imut kan?" Ryuzaki mengangguk, "Ya... Tapi dari pada imut dia lebih bisa dibilang tampan." Ibu Light tertawa, lalu wanita itu memeluk Ryuzaki. Saat wanita itu melepas pelukannya, Ryuzaki bisa melihat kegembiraan dimatanya. "Kau tahu? Light menjadi berubah saat dia patah hati karena Luna. Bocah itu selalu menggandeng wanita baru tiap hari. Aku dan ayahnya sudah tidak bisa mencegahnya lagi." Ujar ibu Light, Ryuzaki terdiam dan mendengarkan. Ibu Light tersenyum, lalu melanjutkan. perkataannya, "Tapi semua berubah saat kau datang, dia menjadi lebih tenang dan... bahagia. Kami memang kaget saat mengetahuinya. Well, sebenarnya hanya ayah Light yang kaget, aku sih senang." Ibu Light tertawa kecil, dahi Ryuzaki mengenyit. "Dia sempat bertengkar dengan ayahnya, tapi lalu ayahnya sadar bahwa kau adalah yang terbaik untuk Light. Karena kau, Light menjadi lebih baik. Aku harap kalian langgeng. Dan aku juga harap, masalah kalian dengan Luna cepat selesai. Aku hanya ingin Light bahagia..." Ryuzaki tersenyum lalu menggenggam.tangan wanita itu erat, "Aku mengerti. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakan Light." Ibu Light tersenyum lebar, air mata meleleh dari matanya, "Terimakasih Nak Ryuzaki..." Ryuzaki mengangguk lalu memeluk wanita paruh baya itu. "SAYANG! RYUZAKI-KUN! CEPAT KESINI! ORANG YANG DITUNGGU-TUNGGU SUDAH SATANG!" Teriakan ayah Light tersengar. "Orang yang ditunggu-tunggu?" tanya Ryuzaki seraya melepaskan pelukannya. Ibu Light tersenyum lalu menarik tangan Ryuzaki, "Ayo kita lihat saja siapa orang yag ditunggu-tunggu itu!"
"Kakek!" Sayu dan Light berlari kearah seorang pria tua bermata biru. "Hahaha... cucu-cucu kakek sudah tambah besar!" Lelaki tua bersuara baritone itu berkata. Ibu Light berjalan mendekati lelaki tua itu lalu memeluknya erat, "Senang sekali melihatmu kembali ayah." Si lelaki tua tersenyum, "Tentu saja aku akan datang menantuku. Aku ingin melihat gadis beruntung yang mendapatkan hati cucuku, Light." Ibu Light terdiam, melirik anaknya, seolah mengisyaratkan sesuatu. "Eh... kek." panggil Light. Kakek Light memandang cucunya itu, "Kenapa cucuku? Mana gadis beruntung itu? Kenalkan padaku." Light menundukkan kepalanya, "Kek... sebenarnya, yang aku sukai bukan seotang gadis." "apa maksudmu cucuku?" Light menelelan ludah, memberi isyarat pada Ryuzaki untuk mendekat. Ryuzai mendekati Light, membiarkan pemuda itu menggenggam tangannya. "Yang kusukai adalah dia, Ryuzaki Lawliet." Light berkata lantang. "APA?" Kakek Light berteriak terkejut. Wajahnya penuh emosi, tangannya terkepal erat, "JANGAN BODOH LIGHT! DIA SEORANG LAKI-LAKI!" "Aku tidak peduli kek! aku mencintainya!" light tak gentar, berdiri didepan Ryuzaki deng gagah. Sang kakek melirik marah Light dan Ryuzaki, "Apa yang kau lihat dari seorang lelaki hah! Kau sudah gila! tidak punya otak! buta!" "Percuma kakek membentakku! aku sudah jatuh cinta pada Ryuzaki!" Kakek Light seolah tidak mendengar, dia menarik tangan Ryuzaki, "Kau pakai guna-guna apa hah! Apa yang kau perbuat pada cucuku! kau merusak Light!" "Kakek Hentikan!" teriak Light histeris. Ryuzaki merasakan tangannya sangat sakit karena ditarik sangat kasar oleh kakek Light. "Diam Light! Dan kau! Apa kau bisu! Jawab pertanyaanku!" Kakek Light meraih dagu Ryuzaki kasar. Ryuzaki hanya terdiam dan terisak, "Hentikan... sakiiit..." gumannya pelan. Light yang tidak tega, berusaha menghentikan perilaku brutal kakeknya. Tapi bukannya berhenti, kakeknya itu malah mendorongnya hingga terpental ketembok. "Jawab Brengsek! jangan menangis seperti wanita! Dasa penggoda, kau menggodanya dengan tubuhmu kan!" Ryuzaki tertegun mendengar perkataan kakek Light, dia tidak terima dibilang seperti itu, "TIDAAAAAK! AKU TIDAK MENGGODA LIGHT!" Teriak Ryuzaki frustasi. Kakek Light menatap Ryuzaki marah, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu, PLAAK! "Ryuzaki-sama!"
Watari muncul tepat Setelah kakek Light menampar Ryuzaki. Dia berlari panik kearah Ryuzaki. Ryuzaki terisak dan jatuh terduduk dengan pipi yang sedikit membengkak. Light juga mendekati Ryuzaki, membiarkan pemuda itu menangis dibahunya. Watari begitu marah, tidak pernah ada seorang pun yang boleh menampar tuannya, dan tidak ada seseorang pun yang boleh melakukannya. Dia berdiri dengan cepat, menatap tajam wajah kakek Light. Wajah Watari berubah pucat saat melihat siapa yang berdiri didepannya, "Roger..." "Wammy..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Killing You Softly (boyxboy)
RomanceRyuzaki 'ditembak' oleh sang pangeran sekolah, Light Yagami. Ryuzaki bimbang akan perasaannya, dan benarkah sang pangeran memiliki sebuah rahasia gelap?
