Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah seminggu ini Ara menghabiskan waktu berlibur di Daegu rumah keluarga Choi, keluarga Beomgyu.
Ara sempat menolak karna ia harus tetap berkerja, namun buna dan Minji tetap memaksa Ara untuk ikut berlibur di Daegu.
Soal kerjaan nya di cafe, buna sudah berbicara langsung pada Hoshi, dan Hoshi juga mengizinkan Ara untuk berlibur, Hoshi pikir Ara juga butuh liburan selama libur sekolah ini.
Dan soal pembayaran rumah sewa yang selama ini Ara tempati, rumah itu sudah sah menjadi milik Ara sekarang, karna sebelum berangkat ke Daegu Beomgyu memberikan sertifikat rumah itu pada Ara dan menyuruhnya menyimpan sertifikat itu dengan aman, Ara juga sempat menolak karna Ara pikir ini terlalu berlebihan.
Namun ternyata, rumah itu sengaja ayah Beomgyu beli untuk Ara, sebenarnya ayah bisa membelikan rumah lain untuk Ara tempati, namun ayah fikir Ara pasti akan sulit meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan bersama kedua orang tuanya.
Ara benar-benar tidak enak menerima semua pemberian dari keluarga Beomgyu, tapi mau bagaimana lagi? Ara benar-benar tidak boleh menolaknya.
Pagi ini sudah menunjukkan pukul 05.55 pagi waktu Korea Selatan. Dikediaman keluarga Choi, Ara sudah terbangun dan sedang menyiapkan sarapan untuk yang lain.
Tapp.. Tapp..
Ara menoleh dan melihat buna yang berjalan menuju dapur.
"Sayang"
"Bun"
"Lagi ngapain?" tanya buna berdiri disamping Ara.
"Bikin sarapan bun"
"Em.. Cocok nih jadi menantu" goda buna sambil mengelus surai Ara lembut. "Buna bantu yah, kamu mau bikin apa?"
"Nasi goreng bun, ayah sama ka Minji suka gak?"
Buna tersenyum. "Suka ko"
Ara ikut tersenyum dan melanjutkan kegiatanya membuat nasi goreng dibantu oleh buna.
Setelah selesai buna dan Ara membangunkan yang lain untuk sarapan.
"Siapa yang masak?" tanya ayah.
"Ara yah, gimana enak?" tanya buna.
Ayah mengangguk mantap. "Enak, kakak harus belajar dari Ara oke ka"
Minji mengangguk cepat dan menyuap kembali sarapannya.