Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sedangkan di apartemen, Ara sedang melamun, ia masih kepikiran dengan pertemuan nya dengan Beomgyu tadi.
"Apa aku harus kasih Beomgyu kesempatan lagi?"
Ara menggelengkan kepalanya kuat membuat air mata yang ia pertahankan itu jatuh.
"Gak, aku gak bisa ngasih dia kesempatan lagi hikss, kamu gak boleh egois ra, Beomie lebih butuh Beomgyu dari pada kamu"
Ara buru-buru menghapus air matanya dan berjalan kearah kamar, ia membuka laci nakas dan mengeluarkan surat yang sama dengan surat yang ia kasih seminggu yang lalu pada Beomgyu. Surat perceraian.
Hanya perlu tandatangan Beomgyu, dan mereka akan resmi berpisah.
Bayangan ditaman tadi terus berputar dikepala Ara. Bagaimana Beomgyu memperkenalkan nya pada Beomie sebagai bunda nya, bagaimana Beomie memanggil Beomgyu dengan sebutan ayah, bagaimana Beomie memanggilnya dengan sebutan bunda. Bagaimana Beomie tersenyum melihat Beomgyu tersenyum.
Ara tidak mau egois, ia tidak mau mengambil Beomgyu dari Beomie, Beomie masih membutuhkan Beomgyu untuk mendampingi nya. Ara tidak mau senyum anak itu hilang jika tidak melihat ayahnya.
Ara melipat surat itu dan memasukkan nya kedalam amplop putih. Ia akan berkunjung dan memberikan langsung surat itu pada Beomgyu.
Ia akan mengirim pesan pada Yeonjun nanti saat sudah selesai memberikan surat itu pada Beomgyu. Ara buru-buru menyambar tas nya dan berjalan keluar apartemen.
■□■□■□■□■
Kembali lagi dikediaman keluarga Beomgyu. Sekarang Yeonjun sedang di introgasi oleh bunda nya.
"Siapa Yeonjun, niel?"
"Tadi kan udah niel bilang, Yeonjun itu Daniel bun"
"Kenapa bisa jadi Yeonjun?"
Yeonjun memutar bola matanya malas. "Itu nama Korea Daniel"
"Ko kamu gak bilang sama bunda?"
"Tapi niel udah bilang sama ayah"
"Ayah ayah bunda bunda itu beda niel"
Sedangkan buna dan Beomgyu hanya diam melihat pertengkaran antara anak dan bunda di depannya.
Tokk.. Tokk..
"Bibi"
"Iya nyonya"
"Tolong bukain pintu, ada tamu di depan, nanti langsung disuruh masuk aja"
Bi Sumi mengangguk dan permisi untuk membukakan pintu.
Bi Sumi, asisten rumah tangga yang diperkerjakan untuk mengurus Beomgyu saat pergi nya Ara dari rumah.
"Nyonya"
Mereka semua menoleh kearah bi Sumi dan dam! Buna, Beomgyu,bunda Yeonjun,dan Yeonjun melihat Ara yang berdiri tepat di samping bi Sumi.
"Ara"
Buna beranjak dari duduknya dan berlari untuk memeluk menantu kesayangannya itu.
Grepp..
"Sayang, kamu kemana aja?"
Ara hanya diam memperlihatkan senyum manisnya pada buna.
"Buna kangen sama kamu"
Chupp..
"Niel"
Yeonjun menggenggam tangan bundanya erat, meminta nya untuk diam dulu.
"Ara"
Buna melepas pelukan nya dan menghadap Beomgyu yang berdiri tepat dibelakang nya.
"Gyu, aku mau ngasih ini" ucap Ara memberikan amplop putih pada Beomgyu.
Beomgyu menerimanya dan menatap Ara dengan tatapan bertanya.
"Surat perpisahan kita, kalo bisa secepatnya kamu tandatanganin yah" ucap Ara tersenyum.
Beomgyu menggeram dan merobek amplop serta isinya itu menjadi berkeping-keping.
"Aku gak mau!"
Brakk..
Beomgyu menjatuhkan tubuh nya dan berlutut didepan Ara. "Aku mohon ra, kasih aku kesempatan hikss"
Ara menuntun Beomgyu untuk berdiri, namun Beomgyu menolak dan memeluk kaki Ara dengan erat.
"Jangan kaya gini gyu"
"Aku mohon hikss kasih aku kesempatan sekali lagi"
Ara tetap menarik Beomgyu untuk berdiri.
Grepp..
"Hikss aku mohon sama kamu"
Buna yang melihat itu menangis dan berjalan mundur. Sedangkan Bunda Yeonjun menatap Beomgyu dan Ara dengan tatapan bingung. Jadi anak sahabatnya ini adalah suami dari perempuan yang anaknya bawa ke Amerika?
Bunda tau Ara sudah mempunyai suami, maka karna itu bunda tidak terlalu berharap jika Ara bisa menjadi menantunya.
"Aku mohon hikss"
"Aku gak bisa gyu hikss"
Beomgyu melepas pelukan nya dan menggenggam tangan Ara erat. "Aku harus apa biar kamu bisa maafin aku dan tarik keputusan kamu itu, bilang sama aku ra"
Ara menggeleng. "Lepas aku, itu yang aku mau"
Air mata Beomgyu turun semakin deras. Ia tidak mau pisah dengan Ara, tidak ia tidak mau.
"Aku gak mau pisah hikss" lirih Beomgyu menggelengkan kepalanya kuat.
"Kamu mau liat aku bahagia kan?"
Beomgyu mengangguk.
"Aku bakal bahagia kalo kamu lepas aku gyu"
"Kita bisa bahagia bareng tanpa harus pisah sayang"
Ara menggeleng. "Kamu harus bahagia bareng ka Hani dan Beomie, bukan aku"
Genggaman tangan Beomgyu semakin erat membuat Ara meringis pelan.
"Aku mohon hikss"
"Gak bisa hikss"
Ngingg..
Kepala Beomgyu tiba-tiba pusing. Dan Beomgyu memilih untuk memeluk Ara erat dan bersamaan dengan Ara membalas pelukan nya.