- More Than This -
Setelah memantapkan hati untuk berjalan pergi dan tau diri bahwa aku tak ada tempat dihatinya untuk berdiam diri, aku pun mencari pelampiasan hati.
Menjalin hubungan tanpa mencintai. Membuat seseorang jatuh cinta dan patah hati.
Aku menjauh dari kehidupan lalu. Aku memulai hidupku yang baru---hidup dengan penuh bayang-bayang masalalu.
Sudah kuputuskan untuk membuang jauh cintaku padanya. Namun ternyata, hatiku juga ikut terbuang bersama cinta itu.
Aku sudah mati rasa.
Hatiku sudah terlampau kecewa.
Benar yang orang katakan: jika kau siap mencintai seseorang dengan sangat dalam, maka kau juga harus siap kecewa dan terluka dengan sangat dalam juga.
Nyatanya, aku tak siap untuk kecewa dan terluka.
Apa yang harus kulakukan?
Mencintainya adalah hal yang membuatku bahagia,
tapi juga membuatku terluka.
Aku mencoba mencari cinta baru, namun tetap tak ada yang sama.
Hatiku hanya mau dia.
Cintaku hanya ingin berdiam dan menetap dihatinya.
Namun aku tak bisa. Cintaku sudah kalah telak.
Cintaku sudah terbuang begitu saja.
Aku ingat betul dua tahun lalu. Hari dimana ia sangat bahagia. Hari yang ia tunggu tibanya. Hari dimana ia yang akan sah menjadi istri orang lain.
Dipertemuan terakhir kami, aku pernah berkata padanya: kita akan bertemu lagi nanti. Mungkin dihari pernikahanmu atau dihari pernikahanku.
Tidak, aku tak mengundangnya dihari pernikahanku. Aku tak ingin sosok dia yang nyata hadir di pernikahanku. Biar saja, sosok nya yang ada dalam hatiku yang hadir hari itu.
Aku berdiri sedikit jauh dari altar pernikahannya. Aku lihat lelaki yang menang dibantu oleh takdir Tuhan itu sedang berdiri menunggu pengantin nya.
Senyum mekar ia tunjukan begitu juga wajah gugup yang membuatku tertawa kecil.
Aku pun melihatnya. Melihat wanita yang kucintai sangat dalam. Aku melihat dia dengan gaun pernikahan yang sangat cantik ia kenakan.
Aku melihat senyumnya. Senyum bahagia yang tak pernah ia tunjukan padaku.
Aku bahagia melihat wanitaku--ah tidak, maksudku, wanitanya.
Aku bahagia ketika melihat dia bahagia bersama lelaki yang ia cintai.
Aku bahagia melihat ia begitu banyak sekali tersenyum dihari itu.
Aku juga bahagia ketika melihatnya kaget menatapku di hari reuni sekolah.
Aku bahagia, bahagia walau hanya melihatnya dari jauh.
Aku sudah memiliki seorang putri. Namanya Jungwoo, usianya baru 4 tahun.
Aku sangat menyayanginya. Begitu, sangat menyayanginya.
Aku menikah dengan seorang gadis yang telah lama menyukaiku. Seorang gadis yang hatinya tak goyah walau sudah kujauhi dan kukatan bahwa tak menyukainya. Namun tetap dia terus saja menyukaiku,
Menyukai lelaki brengsek sepertiku.
Aku menikahinya disaat usia kami masih terbilang muda.
Aku tak mencintainya. Saat menikah bahkan sampai saat ini, aku masih belum mencintainya.
Dia terlalu sabar menghadapiku yang dingin ini.
Dia sadar bahwa aku tak mencintainya. Dia sadar bahwa dia hanya ku jadikan pelampiasan semata. Namun ia tetap bertahan, meyakinkan diri bahwa aku bisa berubah.
Entahlah, kapan aku bisa berubah. Kapan aku bisa menganggapnya sebagai Eunha dan bukan Jungwoo.
Kapan aku bisa mencintainya.
Aku tak tahu, kapan waktunya tiba.
Pernah sekali ia bertanya kenapa aku menamai anak kami dengan nama 'Jungwoo'.
Hahaha, dengan bodoh aku menjawab, "agar sama seperti perempuan cantik yang dulu kucintai."
Aku memang brengsek, mengatakan hal gila itu pada seseorang yang telah bertaruh nyawa demi melahirkan anakku.
Aku memang brengsek tak pernah memikirkan perasaannya setiap kali aku mengatakan bahwa, "Jungwoo sangat cantik, sama seperti wanita yang pernah kucintai dulu."
Aku tak pernah menyadari bahwa hatinya kian hari kian terluka. Hatinya yang kuat seperti baja kian hari kian terkikis.
Hatinya yang mencintaiku tanpa goyah, kini mulai remuk diamuk luka.
Cintanya yang begitu besar padaku kini mulai sedikit demi sedikit hilang entah kemana.
Aku tau jika dia sering sekali menangis seorang diri. Aku tau jika dia tak pernah suka dengan nama yang kuberikan pada anak kami.
Aku tau bahwa dia terluka dengan sikap ku yang seolah tak pernah menganggap dirinya ada.
Aku tau, namun aku tak peduli.
Hingga tibalah pada suatu hari dimana ia mulai bosan dan lelah dengan semua yang kulakukan.
Ia putuskan untuk pergi dari hidupku. Ia putuskan untuk melepaskan cintanya padaku.
Ia meminta izin untuk pergi,
dan ku izinkan dia pergi.
Karena aku tau, selama dia bersamaku, dia tidak akan pernah bisa bahagia.
Aku memang kejam telah membiarkan hati lain merasakan luka. Aku memang kejam telah membuat seseorang jatuh cinta lalu ku hancurkan cintanya begitu saja.
Aku memang kejam karena menjadikannya sebagai pelampiasan hati.
Aku adalah lelaki brengsek yang tak pantas dicintai.
Aku, ya, aku, Mingyu yang belum bahkan tak akan pernah bisa selesai dengan masalalunya.
***
Hola!
Hahaha iseng ngetik bonchap khusus Mingyu
Maaf di publish nya tengah malem begini wkwkwk
Terima kasih sudah membaca!
Btw, jangan lupa mampir ke Somewhere Far Away!
See you, guys!
- jwooxds
KAMU SEDANG MEMBACA
More Than This ✔
Fanfiction[Genderswitch!] [Jaewoo] [Completed] :: Konsekuensi mencintai itu, ya, patah hati. Start: 21 Nov '20 End : 12 April '21 ©jwooxds [2]
