Di Balik Kain Penutup Jenazah

23 7 0
                                        

***

Rike terbangun dari tidur siangnya. Ia langsung meraih ponsel, mengecek kabar dari kakak perempuannya yang sore ini direncanakan berkunjung dari luar kota ke rumahnya. Kakaknya itu bersama satu anak, dan juga suaminya.

Begitu ponsel diperiksa, memang ada kabar mengenai kakaknya itu beserta keluarganya. Sayangnya bukan berita baik, Rike justru mendapati berita dari pihak rumah sakit yang membuatnya mematung dengan tatapan penuh kesedihan. Kakak perempuan, ponakan, dan kakak iparnya menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

Nyawa kakak perempuan Rike beserta suaminya tak dapat tertolong. Meski demikian, Rike pantas untuk bisa sedikit bersyukur, ponakannya dikabarkan tak sampai merenggang nyawa seperti ayah dan ibunya.

Tak lagi berbasa-basi, setelah mendengar ponakannya masih hidup, Rike lantas mematikan ponsel meski suara di seberang sana masih terdengar ingin menjelaskan kondisi ponakannya. Rike buru-buru bergegas ke rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, tepat di ujung koridor Rike langsung disambut oleh ponakannya yang lantas menuntun Rike menuju sebuah ruangan.

Ketika menghentikan langkah di depan ruangan tersebut, Rike sudah disambut dengan tangisan histeris adik perempuannya yang terus berusaha memeluk jenazah yang sedang didorong oleh petugas rumah sakit menggunakan meja jenazah. Entah itu jenazah kakaknya, atau kakak iparnya. Rike tak dapat memastikan sebab tubuh dan wajah jenazah tersebut ditutupi kain putih.

Seorang dokter lantas menghampiri Rike dan mengajak bicara. "Mba keluarganya, ya?" tanya dokter sembari menunjuk adik perempuan Rike yang terus menangis.

"Iya, Dok. Itu adik saya."

Dokter mengangguk paham, lalu kemudian berkata, "Maaf, Mba, kami sudah berusaha keras, tapi ponakan Mba...." Ia menahan kata-katanya sembari menggelengkan kepala dengan berat hati. "Tidak bisa kami selamatkan. Saat di bawa ke sini, jantungnya masih berdetak meski kondisinya sudah kritis. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain. Sebenarnya tadi waktu di telefon, pihak kami ingin menjelaskan kondisinya yang sudah tak memungkinkan untuk bertahan, tapi Mba sudah terlanjur memutus sambungan telepon," lanjutnya pilu.

Sementara mata Rike kini melirik mayat di atas meja jenazah. Adik Rike terus menangis meronta-ronta, dan sempat menarik kain penutup jenazah hingga Rike dapat melihat dengan jelas wajah pucat pasih ponakannya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa.

"Nggak mungkin," tampik Rike tak percaya. "Barusan dia sama saya...." Rike menahan kata-katanya. Matanya berkeliling ketakutan. Tak ada siapapun yang seumuran dengan ponakannya di sana. Lantas, siapa yang sesaat lalu menuntunnya tiba di tempat ia berada saat ini?



VOTE
    ⟱

HITAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang