• suicide

3.3K 588 33
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




"Selamaat sore sano-san."

Laki laki itu berhenti kala jenamanya di sebut, motor besar tak jadi dinaiki, ia penasaran, manusia mana yang berani menyebut namanya walau sekadar marga.

"Anda ingin pergi?"

Ditemuinya wanita kemarin malam sedang tersenyum manis, sepertinya baru saja pulang bekerja.
"Bagaimana kau tau namaku?"
Tanya yang pria dengan nada yang sedikit tinggi.

"Aku menanyakannya dengan tetangga-- ah maafkan aku jika anda merasa tidak nyaman."
Ada sedikit rasa bersalah yang terlintas di otak [name].

Sano manjirou, laki laki itu memutuskan untuk tak menghiraukan [name]. Kendaraan berwarna hitam miliknya ia hidupkan hingga menimbulkan suara bising.

"Hati hati Sano-saan," teriak [Name]. walau mungkin tak terdengar oleh indera lelaki itu.

"Pria yang tak banyak bicara."
Ditatapnya Manjirou hingga tak terlihat dalam jarak pandangan.

"Mengapa mereka menyuruhku untuk menjauhinya, kupikir dia adalah pria yang baik."

Nyatanya belum ada satu pun kata atau sikap yang membuktikan Sano Manjirou adalah pria baik.

.

.

.

Sudah beberapa bulan tinggal bertetanggaan dengan Sano, namun tak ada celah untuk [Name] mendekatkan diri. Sering kali ia diabaikan bahkan mendapat bentakan dari Sano, walau begitu [Name] tetap tersenyum dan mengajak pria itu bercengkrama tanpa canggung.

Wanita itu sebenarnya tidak tertarik dengan Sano, memang sudah sifatnya yang ramah pada orang lain, hanya saja Sano menanggapinya terlalu berlebihan.

Krieet

Kepala [Name] menyembul keluar, aliran udara membuat rambutnya berserakan dan menghalangi pandangan, kakinya melangkah keluar di atas rooftop.

Dirinya penat memikirkan hal yang tak seharusnya dipikirkan, bermaksud menghirup udara segar di luar ruangan.

Pupilnya melebar melihat seorang pria yang sedang berdiri di atas pembatas, tubuhnya refleks berlari dan menarik 'orang itu' hingga terjatuh membentur lantai.
[Name] menariknya dengan sekuat tenaga hingga ia pun ikut terjatuh, bersebelahan. Keduanya meringis kesakitan, memegang bagian yang terbentur.

"Apa kau baik baik sa--"
Wanita itu berhenti saat tahu siapa orang yang 'diselamatkan' olehnya.

"S-sano-san," ujarnya takut takut sebab pria itu menatapnya dengan tajam bahkan dahinya berkerut.

"Ada apa denganmu?" tanya Sano. tangannya mengelus bokong yang sakit.

"Aku menyelamatkan orang yang ingin bunuh diri," ujar [Name] dengan percaya diri.

Sano menghela napas, ingin memaki tapi lebih memilih diam. Dimaki sekeras apapun tidak akan mempan bagi wanita gila ini pikirnya.

"Anda baik baik saja?" iris mata [Name] menyelidik bagian tubuh pria itu.

"Apakah anda punya masalah yang besar sampai ingin bunuh diri?"

Sano tak menanggapi, ia lebih memilih pergi daripada mendengar ocehan tidak jelas dari wanita gila, tapi langkahnya berhenti saat telinganya menangkap perkataan [Name] dengan nada yang serius.

"Sebesar apapun masalahmu, kau tidak dibenarkan untuk menyerah pada hidup, masalah ada untuk menguji orang orang hebat,masalah ada untuk kita atasi bukan dihindari ... Sano-san kau adalah manusia hebat, kau hidup sampai saat ini adalah bukti kehebatanmu, jangan pernah berpikir untuk menyudahi hidupmu," ucap si wanita gila panjang lebar, tak sadar bahwa dirinya berkata dengan leluasa tidak formal seperti biasanya.

Detik per detik, Sano tidak ada niatan untuk menjawab atau menjelaskan bahwa sebenarnya ia tak ingin bunuh diri. Pria itu terpaku pikirannya dengan perkataan [Name], jantungnya berdegup kencang matanya sendu memandang pintu biru.

[Name] kebingungan melihat Sano terdiam, tidak bergerak dan tidak bicara sepatah kata pun.
'apa dia mati berdiri?' pikiran negatif kian bermunculan di otaknya.

"Sano-san? Anda baik baik saja?"

Baru saja [Name] ingin menghampiri, namun Sano sudah melenggang pergi, pintu rooftop dibantingnya keras membuat manusia yang masih berada ditempat itu tersentak kaget.

"Benar benar."

Karena posisinya yang masih terduduk, [name] pun membaringkan tubuhnya di atas lantai, tak peduli bajunya akan kotor nantinya.

Maniknya beralih dari pemandangan angkasa gelap saat kakinya tak sengaja menyenggol suatu benda.




TBC



Whalien | Sano ManjirouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang