• leaving

2.1K 472 32
                                        



Bunyi nyaring yang berasal dari smartphone terdengar disepenjuru ruangan dalam rumah nomor sembilan belas. Wanita penghuni yang sedang merias diri didepan cermin bangkit dari duduknya, berjalan mendekati meja nakas dipinggir kasur untuk mengambil benda kecil yang dianggap sebagai harta karun oleh sebagian besar manusia yang hidup di zaman modern, itu.

Geraknya lambat tidak terburu karena waktu masuk kerja masih terbilang cukup lama, sekitar satu jam lagi. Melihat nama yang tersampir membuat wanita itu merasa sedikit ganjil. Biang jari menekan tanda hijau untuk menerima pangggilan masuk.

"Halo, ibu?" sahutnya.

Belum genap sepuluh menit namun tali bicara sudah diputus lebih dulu oleh [Name]. Tubuhnya dibawa berlarian kesana kemari mencari benda benda yang sekiranya dibutuhkan. Wanita itu kelimpungan, tanpa pikir panjang langsung bergegas mengunci pintu apartemennya.

Mengulur tali, memisah jarak dengan manusia yang rentan jika tertinggal. Bagaikan induk hewan yang pergi meninggalkan anaknya. Namun, bukan dalam artian konotasi tetapi dalam makna denotasi.

Jemarinya bergerak cepat, menekan susunan huruf dalam ponsel, mencari cari nama orang yang sepatutnya ia mintai izin untuk tidak bekerja.
Dengan alasan yang sedikit dilebih lebihkan, sebuah perizinan tidak bekerja akhirnya diberikan. Tentu saja dengan potongan gaji.

Tiket kereta api menuju kota diseberang tokyo telah ditangan. Mengestimasi waktu, Kemungkinan besar [Name] harus berada dalam transportasi umum itu selama tiga jam lamanya.


___



"Siapa yang menyuruhmu datang?" wanita paruh baya yang kerap dipanggil ibu oleh [Name] itu berkecak pinggang dihadapan anaknya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah sakit tempat sang nenek dirawat.

"Hm? Baiklah aku akan kembali ke tokyo," ujar wanita perantau pada ibunya dengan maksud berseloroh. Tubuhnya berbalik pura pura hendak pergi tapi dengan cepat ditarik memasuki rumah sakit.

[Name] menikmati setiap ocehan orang orang terkasihnya yang berkumpul dalam satu ruang sempit berbau obat. Eksistensi sang nenek dan kedua orang tuanya menciptakan suatu kebahagiaan yang sudah berbulan bulan tidak dirasakan. Manusia yang berstatus sebagai cucu dan anak itu menjadi bintang atau pusat pembicaraan diantara. Kehidupan merantaunya bagaikan topik hangat yang wajib didengar secara rinci.

"Bagaimana dengan lelaki? Kau sudah bertemu seseorang yang menarik?"

Pertanyaan sang ibu membuat seluruh mata menatap tajam ke arah [Name]. Wanita dalam pandangan hanya diam, mencoba memutar kembali ingatan tentang lawan jenis yang pernah masuk dalam pikirannya. Sano Manjirou. Pria itu memiliki impresi terbesar yang membiak dimemori otak.

Senyuman penuh arti terukir diwajah rupawan. Gambaran reaksi keluarga saat mengetahui anak kesayangan berhubungan dengan seorang eks mafia berada dalam khayal.

"Tentu saja," jawab [Name]. Kalimatnya mengundang banyak pertanyaan bagi pendengar. "Sebaiknya sudahi topik ini," lanjut wanita itu.

Atas permintaan dari objek bicara, tema bahasan akhirnya berganti. Sebaliknya, kehidupan orang tua yang kini menjadi pembicaraan.
Kondisi sang nenek tidaklah buruk, giginya yang menjarang bahkan tak henti ditunjukkan, pertanda ia tertawa.

[Name], sebenarnya tidak diwajibkan pulang ke kota asalnya hanya untuk melihat keadaan ibu dari ayahnya tersebut. Wanita itu hanya terlewat khawatir. Memang sudah menjadi tabiat, mengingat kepada jirannya saja ia cemas berlebihan.
Seperti saat ini. Pria suram yang tinggal disebelah rumah tak hentinya dipikirkan. Sebuah kata pamit tidak sempat terucap karena terburu buru.

"Jangan tinggalkan aku."

Suara lemah namun mengandung aksentuasi kuat yang terekam dalam hipokampus terputar dengan sendiri.

"Aku akan keluar sebentar," pamit [Name]. Setelah mendapat izin dari keluarganya barulah wanita itu meninggalkan ruang dan bergerak menuju area luar bangunan. Tas ditinggal, hanya telefon genggam yang dibawa olehnya.

Nama bertajuk 'Sano Manjirou' dicari dalam tumpukan kontak yang tersimpan. Namun, nihil. Keduanya tak pernah bertukar nomor sebelumnya.

Kayu panjang yang disusun horizontal dengan tambahan ferum dikedua sisi menjadi tempat persinggahan. [Name] memasukkan ponsel dalam kantung celana, kepala diangkat menatap terik sang surya.
"Hanya dua hari, aku rasa tidak apa," desisnya.

Kepala yang mulanya menengadah, dengan cepat ditegakkan hingga matanya memandang lurus kedepan.
"Aku sangat percaya diri." [Name] tergelak, wajahnya ditutup menggunakan kedua tangan.

"Sano-san mungkin tidak mencariku."





To be continued...







Kota apa yang berada diseberang Tokyo dengan jarak tempuh 3 jam? Yak benar kota Kyoto.

Whalien | Sano ManjirouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang