Whalien adalah metafora yang sempurna untuk menggambarkan sosoknya, Sano Manjirou.
"I'm the whalien and you are the ocean."
"Sano-san."
Tatapan mata yang kosong seakan lelah dengan kehidupan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Angkasa gelap di soroti dari balik jendela. Untuk pertama kali matanya memandang keluar lewat jendela yang berada di kamar tersebut. Tirai putih yang sedari awal telah terpasang tak pernah sekali pun dibuka oleh Sano.
Kondisinya mulai membaik usai mengisi perut dan meminum obat yang diberikan oleh tetangganya.
Satu harian pikirannya terus saja tertuju pada manusia terakhir yang mengajaknya berbicara.
Dari pagi, lelaki itu terus berharap matahari segera turun dan mempertemukannya dengan waktu sore. Dimana wanita itu akan datang menemui.
Namun petang telah berlalu, malam yang kini ada. Wanita yang dinanti tak kunjung datang. Sano Manjirou hanya membisu memandang gulita, berusaha menyembunyikan kecewa.
Sekian lama tidak berharap akan kehadiran manusia lain. Namun kini lelaki itu benar benar ingin ada hadirnya [name].
"Apa yang sebenarnya kutunggu."
Tubuhnya dibawa berjalan menuju pintu rumah, berniat keluar untuk mencari angin dan me-reset kembali otaknya sudah dipenuhi oleh wanita yang tinggal di rumah nomor sembilan belas.
___
[name] sudah mengambil keputusan bahwa ia tak lagi ingin dekat dengan Sano.
"Ini demi kebaikan ku."
Walau begitu tetap saja ada rasa tidak nyaman yang menggantung dalam benaknya. Dipikir tak seharusnya percaya akan omongan yang belum tentu benar. Tapi juga merasa takut jika hal tersebut merupakan sebuah fakta.
[name] tak bisa menghindari Sano, Selalu saja ada kesempatan untuk mereka bertemu.
Perubahan sikapnya membuat lelaki berumur dua puluh tujuh itu bertanya tanya. Bagaimana bisa wanita ini berubah begitu cepat?
Sano terus berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa memang sepatutnya ia dijauhi oleh wanita itu, sano merasa tak layak diperlakukan dengan baik.
Sano Manjirou sadar sudah jadi takdirnya untuk hidup sendiri tanpa adanya kehadiran orang lain dalam hayatnya. Pria itu yakin bahwa ini adalah bayaran dari jalan hidup yang telah dipilih olehnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sungguh, Sano adalah pendusta besar. Sakit. Hatinya sakit, berteriak memohon agar terbebas dari takdirnya yang menyedihkan.
Sano tak ingin sendiri.
Pria itu telah jatuh, masuk kedalam teluk renjana.
Terus berangan wanitanya segera kembali. Bermimpi jeritan hampa akan terdengar. Berkhayal mendobrak pintu kemustahilan.
Whalien 52 hz merupakan seekor paus jantan yang hidup sendirian di tengah lautan dalam Samudra Pasifik .
Paus jantan tersebut menghasilkan suara nyanyian pada frekuensi 52 Hertz. Frekuensi ini lebih tinggi daripada frekuensi komunikasi paus normal yang pada umumnya hanya berkisar antara 12 sampai 25 Hertz.
Tidak ada satupun paus yang mampu mendengar atau merespon suara paus yang abnormal itu.
Cerita ini terinspirasi dari fenomena hewan mamalia paus paling kesepian didunia, The loneliest 52 Hz whale.
A/N
Aku hanya merasa kalau whalien 52 Hz sangat mirip dengan Sano Manjirou.