Whalien adalah metafora yang sempurna untuk menggambarkan sosoknya, Sano Manjirou.
"I'm the whalien and you are the ocean."
"Sano-san."
Tatapan mata yang kosong seakan lelah dengan kehidupan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
"Shinichiro?"
"Emma?"
"Izana? "
"Jii-san?"
"... Apa akuadalah orang yang hebat?"
Pintu berwarna biru itu berderit, tidak begitu terdengar sebab suara manusia lain yang lebih mendominasi.
Mata menyipit, menahan cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Namun dengan cepat melebar saat maniknya menangkap keberadaan wanita yang kemarin malam mengganggunya. Pengampu dibawa mendekati wanita itu, di tatapnya lamat setiap sisi, menyidik tempat tersebut dengan seksama, mencari benda yang tertinggal.
Dompet hitam yang berada di sebelah lengan kiri wanita itu diambil perlahan, Sano bisa bernapas lega, ia tak lagi kehilangan benda berharganya.
Kini kegundahan yang sedang melanda pria itu, haruskah wanita gila ini dibangunkan atau diabaikan saja. Lagi pula bagaimana bisa si gila ini tidak terbangun, apakah lantai itu terasa empuk baginya, pria itu keheranan.
Kaki Sano yang dialasi sendal menendang nendang bagian paha wanita itu, walau ia tidak mengeluarkan tenaga tapi tetap saja kekuatannya terlalu besar.
Tanpa butuh waktu lama [Name] langsung membuka mata, namun ditutup kembali menggunakan tangan karena tidak kuat menatap sinar matahari yang terik.
"Sano-san?" ujar [Name] dilihatnya pria itu hendak pergi dari rooftop. "Jam berapa sekarang? Aku tertidur disini?"
Tidak ditanggapi, pria itu sudah masuk kedalam apartemen.
Brakk
Pintu dibuka dengan kasar, Sano yang posisinya masih berjalan menuruni tangga sedikit terkejut. dengan kecepatan kilat wanita itu berlari melewatinya.
Brukk
Tubuh [Name] terjatuh membentur lantai, sedikit meringis tapi langsung terburu buru berlari ke arah rumahnya. Sedangkan orang yang menyaksikan kejadian itu hanya tercengang keheranan.
Bekerja dan menemukan pekerjaan di tokyo bukanlah sesuatu yang mudah, bisa dikatakan sangat sulit. Sikap disiplin ditanamkan pada setiap pekerja. [Name] sangat bersyukur bisa mendapat pekerjaan di kota besar, dirinya yang hanya seorang gadis desa harus berusaha menunjukkan kemampuan serta kedisiplinannya setiap bekerja.
Pekerjaannya terbilang cukup mudah namun memakan waktu, dari pagi hingga sore. Gajinya pun cukup memenuhi kebutuhan sehari hari, walaupun tetap harus berhemat.
Napas wanita itu menderu, setelah berlarian beberapa meter pastinya membuat ia kelelahan. [name] tak sabar menunggu bus, dipikir bahwa waktu menunggu bus cukup untuknya berlari ke tempat kerja.
Pakaiannya dirapikan, pernapasan pun sudah kembali normal, otaknya bekerja mencari kata kata yang tepat untuk jadi alasan. Ini merupakan pertama kalinya [Name] terlambat. Pintu dibuka membuat lonceng diatasnya bergoyang.
"Selamat pagi, tuan."
___
Bel rumah apartemen nomor 20 berbunyi, berulang kali ditekan hingga pemilik rumah jenuh dan akhirnya membuka pintu.
"Oh, selamat malam." [Name] membungkuk saat berhadapan dengan Sano si penghuni apartemen nomor dua puluh.
"Apa masalahmu." pria itu memberi tatapan sinis seperti sebelum sebelumnya.
[Name] berdiri tegak, bibirnya mengembang "terimakasih sudah membangunkanku tadi pagi, Sano-san," ungkapnya dengan tulus.
"Hm" dibalas hanya dengan deheman, namun dalam lubuk hati, Sano sebenarnya sedikit merasa senang.
"Aku membawa taiyaki, sebagai tanda terimakasih."
Bungkusan cokelat [Name] sodorkan pada pria itu. Ia tahu betul makanan kesukaan tetangganya itu, bukan diberitahu tapi ia sadar sendiri. Setiap kali diberi taiyaki Sano pasti langsung menanggapi.
Bungkusan dari kertas tersebut diambil tanpa ragu menggunakan tangan kanan. [Name] tersenyum lebar melihatnya.
"Selamat menikma--"
Brakk
Pintu kembali tertutup, memisah kedua insan. [Name] yang sudah terbiasa dengan kelakukan menyebalkan tetangganya itu, hanya bisa mengelus dada.
"Selamat malam, Sano-san," ucapnya sebelum kembali masuk kedalam apartemen.
Pria dibalik pintu belum menjauh, telinganya bisa dengan jelas mendengar ucapan selamat malam itu.