Whalien adalah metafora yang sempurna untuk menggambarkan sosoknya, Sano Manjirou.
"I'm the whalien and you are the ocean."
"Sano-san."
Tatapan mata yang kosong seakan lelah dengan kehidupan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan tinggalkan aku."
Suara rendah Sano berhasil memasuki indera pendengaran [name], langkahnya berhenti, ia tidak percaya seorang Sano Manjirou mengucapkan kata seperti itu.
"Hiduplah denganku, [name]." Untuk pertama kalinya setelah melewati banyak purnama, Sano melafalkan nama wanita itu.
Apakah ini lamaran? Sano-san?
Wanita itu ingin menangis, sudah cukup, otaknya bekerja terlalu keras malam ini. [Name] merasa Sano sangatlah egois hanya memikirkan kemauannya. Sano sendiri sadari keegoisannya, pria itu telah membuang jauh harga dirinya. ia hanya ingin [Name].
"Sano-san..."
"Aku mohon."
Tatapan sendu lelaki itu membuat [Name] terpukul. Keduanya berpadangan dalam waktu yang cukup lama, angin dingin menyentuh tulang seakan tak terasa.
Helaan napas berat dilepaskan sebelum akhirnya [Name] membuka mulutnya. "Sano-san, menjalin hubungan bukanlah hal yang mudah, kita bisa hidup seperti biasa sebagai tetangga."
"Aku ingin dirimu, [name]."
"Sano-san..." wanita itu pejamkan matanya, mencoba untuk berpikir logis namun tetap saja rasa kasihan yang lebih pekat mendominasi pola pikirnya.
"Baiklah." keputusan telah diperoleh, rasa iba menjadi dasar terbentuknya hubungan antara dua insan.
Ini adalah ikatan yang longgar, bisa lepas kapan saja. Namun hal itu tidak akan terjadi, Sano Manjirou tak akan lepaskan ikatannya.
"Aku akan mencobanya."
Perbincangan yang pelik pun berakhir dengan kemenangan Sano Manjirou dan kepasrahan seorang [Name].
___
Nyaring bunyi alarm menggema terdengar ke setiap sudut rumah, Ponsel yang sedang diisi daya berusaha digapai untuk menghentikan suara bising di pagi hari.
[name] membuka kelopak matanya perlahan. karena posisinya miring maka jendela menerawang yang jadi objek pehatiannya.
"Sano-san," ucapnya. Mengingat kembali percakapan di rooftop kemarin malam. Wajahnya memerah tanpa alasan. "bodoh," ujarnya, lalu bangkit membersihkan tempatnya tidur, tirai biru disingkap membuat sinar mentari menerobos masuk menerangi kamarnya.
[Name] meregangkan tubuhnya sebentar, lalu beralih ke arah dapur memasak sarapan untuk dirinya sendiri. Makanan dihidangkan di atas meja makan, aroma tamagoyaki masuk dalam indera penciuman. Wanita itu makan dengan perlahan sambil memikirkan apa yang akan berubah antara dia dan Sano setelah ini.
"Ini membuatku frustasi." [name] bergumam sendiri, masih tidak mengerti bagaimana konsep hubungannya dengan manusia yang tinggal disebelah rumahnya itu.
"Lagi pula bagaimana bisa aku dengan mudahnya menyetujui permintaannya." penyesalan akhirnya datang menghampiri wanita itu. Dahinya di benturkan pada permukaan meja berulang kali.
Waktu terus berjalan [name] harus bekerja, piring dan peralatan kotor dibasuhnya sebelum bersiap membersihkan diri.
Sepatu dockside dipakai dengan berdiri, sebelah tangannya menopang pada dinding dan sebelahnya lagi berusaha memasukkan tumit kaki kedalam sepatu.
[Name] berjalan membuka pintu dan langsung membungkuk saat pintu terbuka menampakkan tetangganya yang berdiri tepat di depan rumah. "S-selamat pagi," ujarnya. Badannya kembali ditegakkan, matanya berusaha untuk tidak bertemu dengan netra hitam Sano. Wanita itu merasa canggung dan gugup.
"Sano-san selamat pagi, anda perlu sesuatu?" [name] menatap sekilas pria di depannya.
Sano tidak menjawab, Kakinya melangkah mengikis jarak antara dirinya dan [name], membuat wanita itu gelagapan namun tetap diam di tempat.
"aku rindu." Sano memeluk [name] erat, tangannya melingkar di antara dua lengan wanita itu, wajahnya diletakkan di atas bahu [name], menghirup aroma manis yang menguar masuk dalam hidungnya.
Patung, wanita dalam pelukan berdiri bak patung, napasnya sempat berhenti, muka dan telinganya panas kemerahan. Otaknya tiba tiba saja berhenti bekerja.
[Name] benar benar kaget dengan sikap lain dari Sano Manjirou, Ini sangat mengejutkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Wanita itu terus bertanya tanya.
"Sano-san," panggil [name]. Kesadarannya telah kembali, tangannya ditempatkan pada pinggang Sano, berniat untuk jauhkan pria itu.
"Maaf aku harus bekerja, tolong lepaskan."
[name] belum terbiasa, hatinya pun juga belum terbuka untuk sano. Mengingat bahwa jalinan ini hanya tercipta karena rasa iba bukan cinta.
I'm sorry if I say, "I need you" But I don't care, I'm not scared of love 'Cause when I'm not with you, I'm weaker Is that so wrong? Is it so wrong That you make me strong?
TBC
A/n
Aku tahu sebagian dari kalian merasa berkupu kupu saat baca ini, tapi hei bukankah mikey makin ooc? 😅