Whalien adalah metafora yang sempurna untuk menggambarkan sosoknya, Sano Manjirou.
"I'm the whalien and you are the ocean."
"Sano-san."
Tatapan mata yang kosong seakan lelah dengan kehidupan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
"Sano-saaan Sano-saaan," teriak [Name] sembari menekan bel rumah nomor dua puluh.
Baru saja wanita itu memasuki rumahnya, lalu ia sadar kemarin malam menemukan benda kepunyaan sano yang tertinggal di rooftop.
Tungkainya kembali dibawa menuju tempat sebelumnya. "sano-san sano-san sano-san." nama pemilik rumah dipanggil berulang ulang.
[name] sadar, untukbertemudenganpriaitutakpernahmudah dirasa. Harusberusaha dan pantang menyerah. Jikatidak, Sano manjirou tak akanpernah membukakanpintu.
"ck" pria itu mendecak, mata legamnya menatap [name] dengan murka. Baru saja ia hendak memakan taiyaki tapi diganggu oleh kehadiran wanita gila.
"Semalam anda meninggalkan dompet di rooftop, aku berniat memulangkan tapi aku mendengar suara motor anda pergi jadi kupikir besok pagi saja tapi tapi oh apa tadi pagi anda pergi ke rooftop untuk mengambil dompet?" [name] berusaha menjelaskan maksudnya.
Tak seperti biasa,Sano mendengarkan dengan tenang, tanpa sadar menikmati kata demi kata yang keluar dari mulut wanita itu.
Baru saja pintu hendak ditutup kembali, tapi [name] dengan sigap menahannya. "sano-san?"
"?"
"Aku bertanya, apakah anda sudah mengambil dompet di rooftop?"
Empat mata beradu, dengan hanya dibatasi sebilah pintu,posisi sano dan [name] terbilang sangat dekat. Untuk yang keberapa kalinya [name] kembali terperangah dengan tatapan pria itu, sano mungkin saja sedang menatapnya tapi [name] bisa merasakan bahwa pria itu tengah menatap dunia lain.
Seolah menatap kematian.
"Aku sudah mengambilnya," imbuh sano datar. suaranya berhasil membuat [name] memalingkan muka dan menjauh dari pintu.
"Syukurlah," ujar [name]. matanya lebih memilih memandang tembok putih.
"Tidak ada lagi?" Sano bertanya.
"Huh?"
"Tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
!
"Tidak, maaf mengganggu waktumu sano-san."
Kepedulian berakhir dengan kata maaf.
____
2 hari kemudian
Pintu toko roti terbuka, menimbulkan suara gemericing dari lonceng diatasnya.
"Selamat daaa--"
Pekerja di toko itu berhenti bicara saat maniknya bertemu dengan tatap sang pelanggan yang baru saja masuk. Keduanya terdiam sesaat, menatap satu sama lain.
"Selamat datang." karyawan toko lebih dulu kembali kesadarannya. Senyuman ramah ditunjukkan dengan percuma.
"Taiyaki."
Pertama kalinya Sano dan [Name] berjumpa di tempat wanita itu bekerja.
Alasan mengapa [Name] suka membawa pulang taiyaki dan jenis kue lainnya adalah karena ia bekerja di bakery.
Seluruh pertemuan seolah sudah ditakdirkan, seringkali dua insan dipersatukan dalam waktu sendiri, satu kehadiran dapat mengubah segala kehidupan bagi yang lain.
Netra hitam Sano menonton gerak gerik [name] dengan seksama, hal itu membuat wanita yang ditatap merasa gugup, segala tindakannya dilakukan dengan serius, takut jika melakukan kesalahan.
"Silahkan tuan, semua 1200 yen." Bungkusan putih [name] berikan pada Sano. Satu buah roti ikan tersebut dihargai 300 yen, pria itu membeli 4 buah taiyaki.
Ada jeda sebelum tangannya mengambil bungkusan, senyuman manis [name] di tatap datar oleh Sano.
"Apa anda ingin membeli lagi? Sano-san?" tanya [name]. senyumnya tak pudar, ia hanya bingung di pandang lama oleh pria itu.
Seperti biasa, Sano tak menjawab pertanyaan, tangannya mengambil pesanan lalu memberikan uang bayaran.
"Selamat menikmati sano-san, datang kembali," ujar [Name] sebelum pria bersurai hitam itu keluar dari toko. Di lihatnya Sano pergi mengendarai motor miliknya.
"Kemana dia akan pergi?" [name] bertanya tanya. Penasaran kemana hendaknya tetangganya itu.
"Pfft" wanita itu terkekeh mengingat apa yang dibeli oleh Sano si pria misterius. "dasar maniak taiyaki," ujarnya pelan.
TBC
Kenapa gue yang doki doki bayangin ditatap sama maiki 😭