"Aku pergi." [Name] melambaikan tangan sejajar dengan wajahnya. Sang ayah diseberang pun melakukan hal yang sama. Ibunya tak bisa ikut menemani ke stasiun karena harus menjaga neneknya yang sudah diperbolehkan kembali dari rumah sakit.
Waktu kepulangan yang diambil adalah siang hari. Sama seperti sebelumnya dengan estimasi waktu perjalanan yaitu 3 jam lamanya.
Posisi dibuat senyaman mungkin. Satu jam lepas keberangkatan, membaca beragam artikel dalam benda pipih bernama handphone menjadi bentuk distraksi yang dipilih oleh [Name] atas pikiran tentang Sano, yang secara permanen telah menjadi pemukim dalam otak.
Seandainya Sano Manjirou bertemu dengan manusia lain yang memiliki sifat sama atau lebih baik dari [Name]. Apakah pria itu akan melakukan hal serupa kepada orang tersebut layaknya ia berkelakuan terhadap [Name]?
Sekelebat pertanyaan yang mendadak muncul didalam benak menciptakan rasa gelisah. Jika Sano beralih dan mendapat individu lain yang bisa memulihkan luka dihatinya. Agaknya [Name] merasa tidak rela. Uluran tangan yang dulunya ia berikan secara cuma cuma tidak ingin lagi dilepas. Hubungan dengan perasaan sepihak berubah menjadi sebuah korelasi. Wanita itu tanpa sadar telah jatuh hati.
Sosoknya yang dipandang oleh Manjirou bagaikan penyelamat hidup membuat [Name] terlena.
___
Benda yang melingkar ditangan kiri menjadi titik pusat penglihatan. Waktu memasuki sore hari saat [Name] sampai di Ibu kota. Langkahnya lambat atau bisa dikatakan santai, berjalan menuju area apartemen setelah turun dari angkutan umum-- bus.
Senyuman dan tundukan kepala berulang kali diberikan pada khalayak yang menatapnya dengan beragam mimik wajah. Takut, tidak suka dan senang. Diantaranya.
"Apa yang sedang dilakukan oleh Sano-san," gumamnya saat berada dalam lift menuju lantai atas. Satu-satunya kegiatan Sano yang terpikirkan adalah-- menyantap taiyaki.
Namun keliru. Terkaan itu salah besar.
[Name] menyipitkan kedua netranya, menahan air mata yang mendesak untuk keluar. Pipi bagian dalam digigitnya kuat untuk melampiaskan rasa kesal yang tidak jelas sebabnya.
Wanita itu berdiri lemah seolah memasrahkan beratnya tertarik gravitasi. Tatapan nanar terlihat dimatanya saat menyaksikan pria bersurai kelam yang terduduk diambang pintu.
Lutut yang terbalut kain bawahan menyentuh lantai, ditekuk menahan tubuh bagian atas. Dua manusia dikoridor duduk berhadapan dengan hanya satu pihak yang dalam keadaan terjaga.
Hitam berjuntai digeser hingga menampilkan kelopak yang menutup mata. Kantung dibawah pelupuk terlihat basah dan sedikit lusuh. Tangis adalah penyebab yang paling masuk akal.
"Sa-" vokal terhenti karena dirasa begitu parau ditelinga. Batuk kecil terdengar untuk menetralkan tenggorokan.
Usapan ibu jari dikantung mata sang tuan sebelum akhirnya mulai berbicara. "Sano-san, mengapa tidur diluar?"
Suara laksana elegi yang menentramkan jiwa itu dengan cepat ditangkap oleh rungu. Iris hitam sepekat dasar samudera menyapa manusia dihadapan.
"Sudah mulai gelap, udara juga semakin rendah, sebaiknya kau masuk, Sano-san."
Tangan dingin terangkat bertujuan tuk memaut diri dengan pujaan.
Pelukan erat tak terelakkan, dadanya bergemuruh, perasaan berkecamuk.
Entah mengajuk pada bahagia atau justru sebaliknya. Namun, untuk pertama kalinya dekapan pria itu menerima balasan.
[Name] lemah, punggung rapuh itu diusapnya lembut. Menenangkan gejolak ketakutan yang tidak terlihat tapi terasa sangat kuat.
"Kau kembali."
Bisikan terdengar ditelinga. Memperjelas dalih mengapa Sano tertidur didepan pintu apartemen [Name]. Bukan karena mabuk seperti dugaan. Tetapi menunggu wanita itu kembali alasannya.
Bulir tak dapat lagi ditahan, jatuh sudah membasahi pipi.
"Maafkan aku tidak memberitahumu saat aku pergi."
Bahu keduanya basah. Menangis namun tidak terdengar. Pelukan kian mengerat tanpa ada niatan menyudahi.
"[Name]."
"Ya?"
"Jangan tinggalkan aku."
Hanya satu permintaan dari Sano Manjiro kepada wanita itu.
Tuhan mungkin tidak mendengar doa dari seorang pendosa. Menurut Sano. Jadilah satu harapan itu hanya [Name] yang memutuskan.
Siapa yang tega meninggalkan dabat kesepian ditengah lautan luas, sendiri tanpa presensi makhluk lain. [Name] pribadi tidak sampai hati. Tapi bukan hanya disebabkan oleh belas kasih, ia hingga akhir akan terus bersama dengan Manjiro, karena pria itu telah merebut hatinya. Mengajaknya tenggelam mengarungi bahar selebu.
Tbc.
Sebenernya ini udah bisa ditamatin, kan. Cintanya udah berbalas trus apa lagi wkwk
KAMU SEDANG MEMBACA
Whalien | Sano Manjirou
Fiksi PenggemarWhalien adalah metafora yang sempurna untuk menggambarkan sosoknya, Sano Manjirou. "I'm the whalien and you are the ocean." "Sano-san." Tatapan mata yang kosong seakan lelah dengan kehidupan.
