• in the rain

2.4K 532 117
                                        

"banyak mafia lain serta yakuza yang mencarinya, kami tak ingin kau terbawa masalah pria itu...."

[name] menatap datar dinding ruangan khusus karyawan tempatnya beristirahat, susu kotak di esap tanpa henti. Wanita itu melamun mengingat kembali perkataan tetangganya mengenai Sano, pria yang 'sepertinya' sedang mengjabat sebagai kekasihnya.

"selamat tinggal hidupku yang damai," ujarnya kepada diri sendiri.
Bukti bahwa ia telah siap menjalani keputusannya untuk hidup berdampingan dengan Sano Manjirou yang dulunya adalah seorang mafia.

"Sampai kapan? Aku tidak bisa selamanya bersama Sano-san."
Hubungan baru saja dimulai namun bagaimana akhir jalinan juga telah dipikirkan.


___

Awan hitam menutup akses sinar matahari untuk berikan cahaya menerangi butala. Sore itu tampak begitu suram, lampu lampu dalam toko di hidupkan lebih awal karena cuaca mendung.

"selamat sore." [name] membungkuk sebelum keluar dari kedai tempatnya bekerja. Kakinya berjalan dengan cepat, takut hujan akan turun sebelum ia sampai di halte.

Ketakutannya jadi kenyataan, rintik air mulai turun membasahi bumi dan seisinya. [name] berlari kencang menutup kepalanya menggunakan tas samping yang selalu dibawa.
tujuannya sudah di depan mata.

Wanita itu bisa bernapas lega setelah berhasil berlindung di atas atap halte bus, ia sempat menjadi pusat perhatian dan hanya tersenyum sedikit menundukkan kepalanya.

Sorot mata bosan terpancar pada wajah [name], bus yang ditunggu masih lama datangnya. Ponsel berulang kali dibuka namun tetap saja ia tak menemukan hal yang menarik didalamnya.

"hujannya tidak berhenti."

[name] menoleh ke samping kanan dan mendapati seorang pria dengan setelan jas sedang berdiri menatap jalanan raya. Wanita itu hanya tersenyum kikuk, bertanya apakah dia adalah orang yang di ajak berbicara.

"Nona apa kau merasa dingin?"

[name] kembali menoleh, namun kali ini pria itu juga sama menatap kearahnya. "huh?" wanita yang ditanya menunjuk dirinya.

"ya aku bahkan menggigil,"jawabnya dengan sedikit tertawa.

Dua orang dewasa itu berakhir dengan saling bertukar tanya dan jawaban selagi menanti hujan berhenti. Keduanya tampak akrab dan merasa nyaman berbicara mengenai beratnya hidup di tokyo.
Tawa dan gerakan tangan penjelas sebagai tanda bahwa mereka menikmati perbincangan.

Suara bising yang berasal dari kendaraan roda dua, membuat sebagian manusia yang berlindung di pemberhentian bus mengalihkan perhatian, motor besar itu berhenti tepat di depan halte.

Sang pengendara melihat satu persatu orang orang yang berteduh, sampai terdengar olehnya suara wanita yang dicari cari.

"Are? Sano-san?"

Pria itu langsung turun dari atas motor menghampiri kekasihnya.
Semua yang dikenakan oleh Sano basah, mulai dari pakaian hingga celananya menitikkan air.

"Anda... menerobos hujan?" tanya [name]. "ada urusan penting sampai harus berkendara saat hujan?" tambahnya.

Sano memilih diam, tak berniat beritahu bahwa ia khawatir pada wanita itu hingga harus menerjang hujan deras untuk mencarinya.

[name] merogoh tasnya mencari kain bersih yang akan diberikan kepada sano "anda bisa menyekanya dengan ini. "  wanita itu serahkan kain.
Wajahnya yang basah Sano keringkan, lalu rambutnya yang jadi tempat persinggahan terakhir kain tersebut.

"[name]-san, kau tidak naik?"
Amakusa ryou, pria yang mengajak [name] berbincang saat hujan sebelum sano datang. ia heran saat wanita itu tak beranjak padahal bus sudah tiba di depan mata.

"aah tidak, sepertinya aku akan menunggu pemberhentian sekali lagi." [name] tersenyum manis, berharap pria itu mengerti situasinya.

"baiklah, sampai jumpa lagi."

"ya, senang bertemu denganmu amakusa -san." [name] menunduk pada pria itu. Tangannya melambai lambai.

Sedangkan Sano, dia hanya diam tak tertarik dengan interaksi [name] bersama pria lain.

Angkutan umum berjalan meninggalkan area tersebut, menyisakan sepasang manusia, berdiri menatap buliran air yang jatuh dari atas langit. Hanya diam, sebelum akhirnya [name] mulai berbicara.

"Sano-san ini membuatku penasaran, anda sudah berhenti menjadi seorang mafia jadiii..." [name] menggantung perkataannya, merasa ragu untuk melanjutkan.

"hm?" Sano menatap kesamping, ke arah [name] berada.

"Apa pekerjaan anda sekarang?"

Keduanya bertatapan lalu sano lebih dulu mengalihkan pandangan.
"Aku tidak bekerja," ucapnya.

[name] hanya mengangguk.
"jujur saja dia tidak terlihat seperti pengangguran." wanita itu membatin.
Bagaimana tidak, Sano tinggal di apartemen dan dia punya kendaraan pribadi pula. Darimana pria itu dapatkan uang, [name] memilih untuk tidak menanyakannnya.


___

"Sano-san, anda bisa lanjutkan perjalanan, hujan sudah berhenti."

Awan gelap telah hilang, langit biru kekuningan pamerkan pesonanya pada dunia. Tangan dingin sano menggenggam jemari [name], mengajaknya berjalan mendekati kendaraan roda dua.

"naik," suruh pria itu.

"??"

Sano sudah duduk di atas motor, menatap [name] yang berdiri kebingungan. "Kau tidak akan pulang?" ia bertanya.

"tentu saja pulang."

"naik."

"aah tidak aku akan menunggu bus saja." [name] menggerakkan dua tangannya kekanan dan kekiri.

"naik"

"Sano-san!"

"naik"

Wanita itu menghela napas, pasrah.
"pelindung kepala?"

Sano mengambil helm yang menggantung di bagian belakang motor. "mau memakainya?" ujarnya sambil menunjukkan benda bulat yang sudah basah terkena air hujan.

"tidak terimakasih."

TBC









A/N

Halo, ff ini seterusnya bakal fluff doang, kayanya gabakalan ada konflik. Yah palingan konflik batin.
atau mau ada drama drama gitu? biar aku masukin kisaki ●_●

Whalien | Sano ManjirouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang