11. On Edge

10.7K 1.6K 381
                                        

Melangkah ke luar dari konter imigrasi Bandara Soekarno Hatta, sekujur tubuh Jovita dipenuhi keringat dingin. Sejak di pesawat, kepalanya terasa nyeri, ulu hatinya pun seperti ditusuk-tusuk. Obat pereda sakit yang diberikan oleh pramugari sama sekali tidak membantu. Seingatnya, ia belum pernah merasa tidak keruan seperti ini. Tidak hanya fisik, tetapi juga emosi. Baru kali ini, pulang menjadi momen yang meresahkan baginya. Hanya keinginan bertemu Vanya yang menjadi pendorongnya untuk terus melangkah.

Sambil mengambil bagasi, ia berpikir keras bagaimana menghadapi Ezra. Pikiran yang terus memenuhi otaknya selama penerbangan. Ia harus menahan diri, berpura-pura tidak tahu tentang perselingkuhan Ezra hingga saat yang telah direncanakannya. Namun, ia juga tidak sudi jika Ezra menyentuh tubuhnya, sesuatu yang pasti terjadi.

"Mommy!" panggil seorang anak perempuan yang sedang berlari ke arah Jovita saat ia berjalan ke luar dari pintu kedatangan terminal 3 bandara Soekarno Hatta.

Jovita tersenyum lebar, menundukkan tubuh seraya membentangkan tangan, memeluk gadis kecilnya. "I miss you, Sweetie."

"Miss you too, Mommy," sahut Vanya, melepas rindu.

"Apakah kamu tidak rindu padaku?" tanya Ezra. Ia membuka lebar kedua tangannya, mengisyaratkan keinginan memeluk istrinya.

Jovita menarik napas sebelum melepas pelukan Vanya, lalu dengan terpaksa memenuhi permintaan Ezra. Bayangan Ezra berpelukan dengan Amelia menari di benaknya, memunculkan rasa nyeri di kepala dan ulu hatinya.

"Mommy bawa oleh-oleh buat aku?" tanya Vanya.

"Bawa, dong!" Jovita segera melepaskan diri dari pelukan Ezra, lalu menggandeng Vanya. "Vanya jalan-jalan ke mana saja sama Daddy selama Mommy tinggal?"

"Ke rumah Oma Opa," sahut Vanya.

"Jadi beli mainan dan buku dengan Daddy?"

Vanya menggeleng. "Daddy kerja," sahutnya dengan nada dan mimik sedih.

Jovita menengok ke arah Ezra, mengerutkan dahi sebagai bentuk protes mengapa suaminya tidak menemani anaknya sesuai janji.

"Ada klien minta bertemu mendadak," kilah Ezra.

Jovita merasakan dadanya bergemuruh. Sudah pasti sebuah kebohongan. "On weekend?" tanyanya dengan suara yang berusaha dikendalikan.

"Klien penting, mau gimana lagi." Ezra terlihat santai, seolah sudah menyiapkan diri dengan pertanyaan ini.

Jovita mendengkus geram. Perempuan norak itu jelas lebih penting daripada Vanya bagi Ezra. Sakit di ulu hati dan kepala dirasakan Jovita kian menyiksa. Detik itu juga ia menyadari, dirinya tidak akan sanggup berpura-pura. Ia harus segera mengakhiri semua dusta.

***

Dengan gontai Jovita memasuki kamarnya. Ruangan yang selama ini menjadi tempat teraman dan ternyaman baginya sekarang berubah menakutkan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana melewati malam ini. Kegundahan bagaimana berespons terhadap kemesraan yang pasti ditampilkan Ezra malam ini bercampur aduk dengan bayangan keintiman Ezra dan Amelia.

"Kamu tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya aku tidur seminggu tanpamu," bisik Ezra sambil memeluk Jovita dari belakang begitu mereka telah berada di dalam kamar. Ia menempelkan dagu di pundak istrinya. "Aku ingin melihatmu memakai chemise yang terakhir kubelikan untukmu."

Jovita terkesiap. Chemise itu pasti serupa dengan yang diberikannya kepada Amelia, seperti cerita perempuan itu di surelnya. Rasa jijik menguasai tak terkendali. Kortisolnya terpicu, ulu hati seperti diremas, kepala berdenyut seperti akan pecah. Ia menunduk sambil memegangi perut dengan tangan kiri dan memegangi kepala dengan tangan kanannya.

Estuari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang