8. Keep a Stiff Upper Lip

11.8K 1.7K 385
                                        

Tiiing! Suara nyaring berbunyi yang kemudian diikuti oleh terbukanya pintu lift di lantai 6. Tiga orang telah berada di dalam lift tersebut, dua wanita Kaukasoid paruh baya dan seorang pria berjas yang ternyata adalah Joseph.

"Morning." Jovita melangkah masuk ke dalam lift seraya mengukir senyum di heart-shaped lips-nya.

Dua wanita tersebut membalas sapaan Jovita. Joseph tidak berespons.

"Hi, Joe," sapa Jovita.

"Hi," balas Joseph datar. Dalam hati ia menerka sebentar lagi perempuan ini pasti akan memulai basa-basinya.

"Di lantai berapa kamu menginap?" Jovita membuka percakapan.

Joseph tersenyum tipis, dugaannya tidak meleset. "Delapan," jawabnya singkat. Dalam hati kembali menebak, pasti perempuan ini akan melanjutkan dengan pembicaraan tentang seminarnya kemarin.

"Sepertinya presentasimu kemarin sukses," sanjung Jovita.

Tarikan ujung bibir Joseph semakin panjang, prediksinya tepat.

Jovita memperhatikan Joseph yang sejak tadi tersenyum. "Kamu lebih ceria hari ini."

Joseph mengulum senyum. Perempuan ini selalu bisa menemukan topik pembicaraan.

Pintu lift terbuka di lantai dasar, Joseph memencet tombol untuk menahan pintu terbuka dan mempersilakan ketiga perempuan di dalam lift untuk keluar terlebih dahulu.

"Thank you," ucap Jovita dan kedua perempuan lain bersamaan.

Jovita menunggu Joseph setelah melangkah ke luar lift, lalu berjalan bersama menuju tempat sarapan. Interior Dock 37 Bar & Kitchen yang menonjolkan panel kayu pada dinding dan langit-langit restoran memberikan kesan elegan sekaligus menggugah selera makan dalam sebuah suasana yang penuh kenyamanan. Kepadatan pagi itu hampir sama dengan kemarin. Joseph dan Jovita hanya bisa menemukan sebuah meja bagi empat orang di salah satu sudut restoran.

"Sampai kapan seminarmu berlangsung?" tanya Jovita sambil mengaduk tehnya.

"Besok Rabu. Bagaimana dengan seminarmu?"

"Hingga Jumat," sahut Jovita. "Kapan kalian kembali ke Swedia?"

"Sabtu tengah malam."

"Untuk seseorang yang tidak banyak bicara, kemampuan public speaking-mu tergolong baik," ujar Jovita, berusaha agar pembicaraan tidak sekadar basa-basi.

"Apakah untuk dapat memiliki kemampuan public speaking yang baik seseorang harus senang bicara?" Joseph bertanya dengan wajah serius.

Jovita tertawa. "Tidak juga, tetapi cukup menjadi modal."

"Kalau begitu, silakan memberikan umpan balik terhadap penampilanku kemarin. Itu tujuanmu datang ke sesiku, bukan?" Joseph tersenyum, kemudian mulai menyantap salad di piringnya.

"Aku hanya kebetulan lewat Eureka Rooms, kemudian tergelitik melihat suasana sebuah konferensi akademis. Ternyata bertepatan dengan sesimu. Aku tidak bermaksud sengaja datang untuk menilaimu." Jovita menjelaskan, sengaja membuat suaranya mengecil.

Joseph menghentikan makannya begitu menyadari perbedaan intonasi Jovita. Ia merasa tidak enak hati, khawatir Jovita merasa tersinggung dengan perkataannya. "Oh, maaf. Aku tidak bermaksud ...." Ia menggantungkan kalimatnya, tidak dapat menemukan kata yang tepat.

"Well, tapi karena kamu memintaku untuk memberikan umpan balik, maka aku dengan senang hati melakukannya," ujar Jovita tersenyum lebar, geli melihat reaksi Joseph.

Joseph mengembuskan napas lega, perempuan ini ternyata tidak tersinggung. "Silakan."

Jovita mencoba mengutarakan pengamatannya kemarin. "Secara keseluruhan, kamu sudah memiliki dasar kemampuan public speaking yang baik. Meskipun audiensimu adalah orang-orang di bidang neurosains, tapi penjelasanmu sangat jelas dan mudah dipahami oleh orang awam. Penguasaan panggungmu baik, kamu membagi rata perhatian ke seluruh hadirin."

Estuari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang