U || 12

3.4K 308 80
                                        

Vote vote vote dulu!😍
danKomen!!!


•UNCONSCIOUS•

Evelyn dan Jeffrey telah sampai di penthouse sore hari setelah pelarian mereka dari para pengancam. Gadis itu terlihat membawa tubuhnya dengan lemas. Ia lemas karena kembali shock dengan kejadian yang menimpanya. Ia berkali-kali dan bahkan dalam waktu yang berdekatan diberi kejutan yang menakutkan.


Mengapa dirinya selalu dalam bahaya? Apa yang diincar para pengancam itu? apakah ia akan selamat?


Hal itu yang selalu dipikirkan gadis itu. Ia merasa nyawanya akan hilang ditangan para pengancam itu. Ia sedih, kesal, dan marah. Mengapa hidupnya selalu tidak tenang? Mengapa seolah Tuhan tidak mengizinkannya untuk bahagia?


"Eve..." panggil Johnny saat dirinya mencapai ruang tengah.


Evelyn memandang wajah papanya malas.


"Syukurlah kau tak apa. Papa sangat khawatir"


"Aku lelah," balas gadis itu.


"Mulai sekarang kau harus pakai rompi anti pelu—"


"AKU BILANG AKU LELAH!" teriak gadis itu.


Johnny cukup terkejut. Ia memandang kedua manik putrinya yang selalu berusaha mengalihkan pandangannya darinya. Terlihat jelas tekanan pada wajah cantik putrinya.


"Baiklah, selamat istirahat" balas Johnny yang kemudian membiarkan putrinya berjalan melewatinya.


Jeffrey diam, hanya memperhatikan interaksi antara ayah dan anak yang jarang akur ini. Setelah Evelyn pergi dari hadapan Johnny, segera Johnny memanggil Jeffrey untuk bicara empat mata dengannya.





***





Evelyn segera menjatuhkan tubuhnya yang ringan itu ke kasur miliknya yang empuk. Tubuhnya lelah sekali, terasa pegal seperti habis pergi jauh. Mungkin efek terkejut tadi yang membuat fisiknya menjadi lemah.


Karena langit telah memperlihatkan warna jingganya, ditambah dengan tubuhnya yang lelah membuat kedua matanya sayup-sayup memejam. Gadis itu mengantuk.


Baru beberapa menit memejamkan matanya, Evelyn mendengar pintu kamarnya diketuk sebanyak 2 kali. Ketukan yang cukup keras itu sukses masuk ke indera pendengarannya.


"Masuk" titahnya.


Segera seseorang yang mengetuk pintu kamarnya membuka pintu lalu masuk kedalalam.


"Wolf?"


Jeffrey lah yang masuk ke dalam kamar Evelyn. Raut wajah pria itu terlihat sayu dan terdapat noda merah pada bahu kirinya.


"Astaga! Bahumu berdarah!" teriak Evelyn yang diikuti dengan bangkitnya dari kasur.


Segera Evelyn mempercepat langkahnya untuk menghampiri ajudannya yang masih berdiri di dekat pintu kamarnya. Pria itu belum mengeluarkan sepatah katapun.


"Apa yang terjadi? Kenapa bahumu berdarah?"


Jeffrey masih diam, ia menatap lekat kedua manik gadis itu. Evelyn bingung, tatapan macam apa ini?


Segera Jeffrey menarik tubuh Evelyn lalu ia sudutkan ke tembok. Pandangan pria itu semakin tajam dan menegas.


"A-ada a-pa?" gugup gadis itu yang mendapati tatapan tajam dari ajudannya.


UNCONSCIOUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang