U || 21

2.9K 295 58
                                        

Vote vote vote dulu dan Komen!!!

•UNCONSCIOUS•

Sesuai janji Jeffrey pada Evelyn, ia kembali ke tempat tinggalnya untuk mengambil suatu barang milik gadis itu yang tertinggal.


Ia memasuki rumahnya dan lekas menuju kamar untuk mengambil barang tersebut. Tanpa berlama-lama Jeffrey akan segera pergi dari rumahnya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat kulkas.


Kedua kakinya membawanya menuju kulkas. Satu tangannya membuka pintu kulkas dan kedua netranya melihat isi kulkas yang masih penuh. Penuh dengan belanjaan yang Evelyn beli waktu lalu.


Tiba-tiba kedua sudut bibir Jeffrey terangkat, ia tersenyum. Kemudian ia menutup kembali pintu kulkas lalu menemukan secarik kertas yang tertempel disana. Jeffrey kembali mengukir senyum saat membaca isi tulisan di kertas tersebut.


"Rajinlah mengisi kulkasmu! Jangan sampai lupa untuk makan. Microwavenya... maafkan aku. Akan secepatnya kuganti tenang saja!"


Jeffrey tersenyum cukup lebar, entah menurutnya tulisan itu sangat lucu. Ia membayangkan sosok Evelyn yang keras kepala namun juga imut.


Jeffrey kemudian berjalan menuju sofa untuk rehat sejenak. Ia mendesah pelan merasakan rumahnya yang sepi. Memang selalu sepi dan tidak istimewa, namun semenjak kedatangan gadis itu walau singkat mampu merubah suasana rumahnya menjadi sedikit lebih cerah.


Ia terkadang rindu dengan cuitan-cuitan gadis itu yang berisik, namun kini membuatnya rindu.


Astaga, mengapa tiba-tiba aku memikirkannya. Batin Jeffrey.


Jeffrey bangkit, bergegas untuk pergi dari rumahnya. Namun kembali, langkahnya terhenti akibat ujung matanya menangkap amplop coklat yang sempat diperebutkan dirinya dengan gadis itu. Tiba-tiba Jeffrey meraih amplop tersebut kemudian dibukanya.


Ia melihat dengan seksama isi amplop tersebut yang berisi dokumen dan beberapa foto. Amplop tersebut bukan untuk pertama kalinya dibuka, sudah berkali-kali ia buka sebagai pemantap motivasinya.


Jeffrey mencengkram isi amlop tersebut sampai memperlihatkan kekusutan. Tangannya gemetar, kemudian rahangnya mengeras.


"AARRGHH!" teriak Jeffrey kencang sambil melempar amplop tersebut sembarang. Nafasnya tidak teratur.


Amarahnya meledak, emosinya tercampur. Rasa marah, kesal, sedih, dan dendam menjadi satu.


"MENGAPA INI TERJADI PADAKU! PERASAAN SIALAN! AKU BINGUNG HARUS BERBUAT APA!!!" teriaknya lagi.



































Setelah dari rumah, Jeffrey pergi megunjungi suatu rumah sakit. Ia bertemu dokter yang sudah lama dikenalnya.


"Hai Jeff, sudah lama. Apa kabar?"


"Baik," balasnya datar.


"Silahkan duduk," dokter pria mempersilahkannya untuk duduk.


Jeffrey telah duduk berhadapan dengan seorang dokter bergelar Sp.Kj


"Kau sudah lama tidak datang, bagaimana keadaanmu? Apakah obatnya rajin diminum?"


"Masih, namun jarang tepat waktu"


"Wah, sepertinya membaik. Apakah akhir-akhir ini kau bahagia?" tanya dokter.


UNCONSCIOUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang